Aku berseru pada alam semesta.
Menyaksikan kekayaan tanah Indonesia.
Cicauan burung-burung beterbangan nampak menyapa.
Aku memandang ke pulau-pulau dengan perasaan terharu.
Di puncak gunung aku menyapa kawan-kawanku.
Ku persembahkan pada mereka tentang indahnya deretan rumah saat memandang dari gunung.
Di gunung pula aku melihat negeriku secara menyeluruh.
Laut pun terbentang luas, dan gunung jua tersusun rapi.
Sesekali aku mendengar orang berteriak kencang.
Nampak jauh terlihat petani yang sedang menggarap tanah.
Berkeringat dengan panasnya matahari.
Petani tak merasa lelah dan tak pernah putus asa bekerja.
Gunung indah.
Di gunung indah aku melepaskan beban masalahku.
Berteriak kencang dan aku katakan bahwa manusia perlu hidup bebas.
Aku merasa merdeka di atas gunung-gunung indah ini.
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
-
Persaingan Sengit Men Elite! Ternadi Bike Park Jadi Arena Hidup Mati 76 Ultimate Downhill
-
Kebakaran Gunung Sumbing Padam, Ahmad Luthfi Minta Percepat Rehabilitasi
-
6 Rekomendasi HP Murah Minim Iklan dan Bloatware, Bebas Notifikasi Mengganggu Mulai 1 Jutaan
-
Viral Video Balita Ditinggal di Tenda Gunung Prau, Mengapa Kita Tak Boleh Asal Menghakimi?
-
Kebakaran Gunung Ciremai Kian Meluas ke Majalengka
Sastra
Terkini
-
Kaya Buah, tapi Tak Selalu Terjangkau: Menggugat Sistem Pangan Indonesia
-
Biaya Hidup Meroket, Gaji Stagnan: Kenapa Anak Muda yang Disalahkan?
-
Tradisi Smong Simeulue: Bukti Cerita Rakyat Mampu Mitigasi Tsunami Aceh
-
Menghabiskan Sore Bersama Klub Corat-coret, Cara Bercerita Lewat Gambar
-
Gen Z Suka Code-Mixing, Memperkaya atau Justru Merusak Bahasa Indonesia?