Aku berseru pada alam semesta.
Menyaksikan kekayaan tanah Indonesia.
Cicauan burung-burung beterbangan nampak menyapa.
Aku memandang ke pulau-pulau dengan perasaan terharu.
Di puncak gunung aku menyapa kawan-kawanku.
Ku persembahkan pada mereka tentang indahnya deretan rumah saat memandang dari gunung.
Di gunung pula aku melihat negeriku secara menyeluruh.
Laut pun terbentang luas, dan gunung jua tersusun rapi.
Sesekali aku mendengar orang berteriak kencang.
Nampak jauh terlihat petani yang sedang menggarap tanah.
Berkeringat dengan panasnya matahari.
Petani tak merasa lelah dan tak pernah putus asa bekerja.
Gunung indah.
Di gunung indah aku melepaskan beban masalahku.
Berteriak kencang dan aku katakan bahwa manusia perlu hidup bebas.
Aku merasa merdeka di atas gunung-gunung indah ini.
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
-
Hari Ke-4 Pencarian, Tim SAR Sisir Pulau Sebesi hingga Pulau Umang Cari 5 Jurnalis Hilang
-
Heboh Ulta Levenia Sebut HAARP di Balik Erupsi Gunung Api, Mitos atau Fakta?
-
5 Fork Sepeda Gunung Empuk Harga Terjangkau di Tahun 2026
-
Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda: Area Diperluas, Puluhan Armada dan Drone Thermal Dikerahkan
-
Masuk Radius Bahaya! Tim SAR Belum Bisa Sisir Pulau Sertung Cari 5 Jurnalis Hilang
Sastra
Terkini
-
Islam & Lingkungan: Jangan Sampai Keserakahan Manusia Merusak Rumah Bersama
-
7 Tahun Kegelapan: Ketika Rahasia Masa Lalu Menghantui Anak yang Tak Bersalah
-
Men Support Men: Ketika Laki-Laki Juga Butuh Ruang untuk Cerita
-
Kemiskinan Turun atau Standarnya yang Terus Disesuaikan?
-
FOMO Beli HP Mahal: Rela Utang Demi Gengsi