Menghapus jejak kelam yang menjadi noda kehidupan yang kulalui. Masa lampau begitu laknat bagiku. Masa lampau kala aku tenggelam dalam samudera kemaksiatan. Durjana perilaku yang kulakukan menghancurkan nama emasku. Yang tak kusangka begitu buruk perangai diriku.
Hamparan kehidupan masa lampau yang ditemani aroma alkohol yang sangat menyengat. Menjadi kenikmatan tersendiri bagiku. Masa lampau menjadi sebuah kesenangan yang terasa lezat rasanya. Berfoya-foya dengan segala harta yang kugapai. Yang begitu menipu kehidupanku yang nyata.
Jejak kelam masa muda yang menjadi buku kenangan yang sangat berharga bagi hidupku. Jejak kelam yang mengajarkanku akan fatamorgana kehidupan di dunia. Kemudian Tuhan menegur diriku dengan cobaan. Musnah seketika harta yang kumiliki. Kehidupan keluargaku mulai berantakan. Berpisah diriku dengan anak dan istri.
Teguran Tuhan yang sangat indah mengantarkanku menuju jeruji besi. Jeruji besi yang menjadi sekolah kehidupan yang sangat apik. Karma akibat mencuri yang bukan menjadi haknya. Hingga akhirnya aku berhasil merasakan udara bebas dengan menatap dunia yang sangat cerah.
Ku ingin sekali meninggalkan jejak kelam yang aku lalui semasa muda. Ingin menikmati masa tua dengan bahagia dalam kesendirian di desa. Suasana desa yang asri menambah tenangnya jiwa. Sepanjang waktu aku mendekatkan diri kepada-Nya di sebuah surau yang sangat sederhana.
Biarlah jejak kelam menjadi sebuah kenangan yang sangat elok dalam hantaran kehidupan yang aku jalani.
Baca Juga
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Sholat Ied atau Khutbah Dulu? Ini Hukum jika Tidak Mendengarkan Ceramah
-
Pelukmu Sementara, Hatiku Selamanya: Surat Cinta Pamungkas Vidi Aldiano yang Menembus Batas Waktu
-
Evolusi Doa: Saat Saya Berhenti Meminta Dunia dan Mulai Meminta Ketenangan
-
Mengungkap Kedok Maskapai Super Buruk di Novel Efek Jera Karya Tsugaeda
-
Tayang 24 April, Girl from Nowhere Kembali Hadir Versi Remake Jepang