Lawatan kekecewaan menembus segenap hayat kala merasakan dera yang membuat batin pedih. Kekecewaan terpancar dengan pengkhianatan yang kau perbuat. Yang tak disangka telah membunuhku dari belakang. Bergoyah semua ragaku yang telah teguh bersahabat denganmu. Dahulu kau adalah sahabatku yang telah kujadikan bagai saudara sedarah dalam ikatan kekeluargaan. Pengkhianatan yang telah dilakukan oleh kau sangat mendera seluruh batin.
Begitu teganya kau berbuat dusta padaku. Aku tak tahu dosa yang telah kulakukan padamu. Sebegitu tulusnya aku telah memberikan kebaikan sejati pada dirimu. Aku rela tak berharap balasan dari dirimu. Bagai air susu dibalas air tuba. Kau telah berbuat dusta padaku. Kau memfitnah diriku seakan aku telah berbuat jahat padamu. Iblis yang telah mencengkeram dirimu tak ada ampunan lagi.
Terlanjur menjadi luka nestapa akan tingkahmu yang diperbuat. Luka nestapa membawaku dalam alam imaji permusuhan nyata. Sudahlah berakhir persahabatan kita yang terikat sejak lama. Masa belia hingga remaja kita bersahabat bersama. Namun masa dewasa telah melewati kekecewaan yang mendalam.
Penuh pengkhianatan yang kau perbuat mengundang karma yang nyata bagimu. Mencoba bersabar atas ungkapan kekecewaan terlanjur kurasakan. Misteri persahabatan kita berdua yang tak tahu akan bertahan selamanya. Ternyata berakhir sudah tak bertahan lama. Kiasan persaudaraan yang terikat pupus sudah terlampaui segala tingkah laku yang kau lakukan padaku.
Baca Juga
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Tim Favorit Justru Paling Tertekan di Piala Dunia 2026, Benarkah?
-
Sinopsis Film Sihir Tanah Kubur: Teror Mistis Menggugat Iman dan Keluarga
-
Di Balik Ban Kapten, Ada Sisi Psikologi yang Menentukan Nasib Sebuah Tim
-
Elite Force Tayang 22 Juli, Serial Netflix Angkat Operasi Antiteror GIGN
-
Satu Program, Seribu Panggung: Jejak Narasi MBG dalam Pidato Prabowo