Sebagai manusia, tentu sudah paham betul bahwa kita diciptakan berbeda-beda. Jangankan dengan orang dari negara luar, dengan saudara kandung kita sendiri pasti juga memiliki perbedaan. Entah itu perbedaan fisik, karakter, atau keduanya. Perbedaan inilah yang kemudian melahirkan kebudayaan yang berbeda pula antar suku bangsa.
Perbedaan tersebut terkadang melahirkan kesalahpahaman yang tak jarang berakhir menjadi sebuah konflik. Kunci untuk menghindari konflik adalah dengan saling memahami satu sama lain. Jika kalian ingin memahami mengapa manusia memiliki kebudayaan yang beragam, mungkin buku karya Marvin Harris yang berjudul “Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir” ini bisa menjadi salah satu referensi yang menarik.
Marvin Harris merupakan seorang antropolog Amerika yang berpengaruh terhadap perkembangan paham “materialisme kultural”. Dalam bukunya ini, Marvin mencoba untuk memberi penjelasan ilmiah terhadap kebudayaan masyarakat yang bisa saja saling bertolak belakang antara satu dan lainnya.
Contohnya mengapa masyarakat Muslim dan Yahudi mengharamkan babi. Sedangkan bagi masyarakat di belahan benua lain justru babi merupakan sumber kehidupan yang tak tergantikan? Buku ini juga menjelaskan mengapa ketua suku Indian sengaja membakar harta bendanya hanya untuk menyombongkan diri? Mengapa pemeluk Hindu di India mengangungkan sapi? Mengapa sihir yang dahulu dianggap sesat saat ini malah muncul sebagai bagian dari kebudayaan populer di Eropa, bahkan dunia? Dan banyak hal lainnya.
Pertenyaan-pertanyaan seperti itulah yang coba Marvin jelaskan dengan pendekatan ilmiah. Dengan membaca buku ini, kita akan sedikit memahami apa yang menjadi latar belakang dari kebiasaan serta kebudayaan berbagai peradaban di dunia.
Selain tentunya memahami kondisi sosial masyarakatnya, melalui penggambaran melalui kata-kata yang tersusun dalam buku ini, pikiran kita akan diajak untuk berkeliling ke tempat-tempat yang menjadi pusat peradaban dari masyarakat yang sedang dibahas.
Buku ini tidak terlalu tebal, hanya 262 halaman. Namun, buku ini memang agak berat untuk dibaca karena merupakan buku non-fiksi. Meski begitu, kalian yang kelak ingin menjadi seorang antropolog sangat dianjurkan untuk membaca buku ini.
Baca Juga
-
Ulasan Buku Gie dan Surat-Surat yang Tersembunyi
-
Ulasan Buku Guns, Germs, & Steel, Mencari Tahu Faktor Bangsa yang Maju
-
Ulasan Buku Sejarah Australia, Berdirinya Negara Melalui Commonwealth Of Australia.
-
Ulasan Buku Memburu Muhammad, Memetik Hikmah dari Kisah-kisah Islami
-
Ulasan Buku Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Pemikat Jiwa: Pelet, Ego, Obsesi, dan Cinta Laknat
-
Layak Tonton atau Lewatkan? Kupas Tuntas Film Moana Live Action 2026
-
Lebih dari Sekadar Kungfu: Mengapa Tai Chi Master adalah Film Jet Li yang Paling Ngenes?
-
Ulasan "Limited Time", Novel Korea dengan Kisah Remaja yang Menyentuh
-
Drama Study Group, Ketika Hierarki Sekolah Ditentukan oleh Kekuatan Fisik
Terkini
-
Di Balik Sorot Lampu Stadion: Jayden Adams dan Bukti Bahwa Pesepak Bola Juga Manusia Biasa
-
Wonderwall, Oasis, dan Mimpi Inggris Menjuarai Piala Dunia 2026
-
Urban Eco Journey: Cara Seru Trash Ranger Rayakan Ulang Tahun Sambil Menyelamatkan Bumi
-
Cuaca Makin Terik! Lakukan 5 Langkah Ini Agar Kulit Tak Cepat Kusam dan Menua
-
Kereta Api Bukan Dapur Berjalan! Alasan Logis Mengapa Stopkontak KAI Haram untuk Rice Cooker