Islam mengajarkan kepada umatnya tentang kebaikan-kebaikan. Di antara kebaikan tersebut yakni memperbanyak sabar dan syukur. Ya, sabar dan syukur. Kedua kata ini terdengar mudah diucapkan tetapi kadang terasa berat untuk diamalkan.
Bicara tentang sabar dan syukur, ada penjelasan menarik dari Dr. H. Abdul Wahid dalam bukunya, Senyum Indah Kanjeng Nabi (Diva Press, 2016). Penjelasan yang didasarkan pada kisah Rasulullah Saw. bersama para sahabatnya. Begini kisahnya:
Shuhaib Ra. bercerita, suatu hari ketika Rasulullah Saw. duduk-duduk bersama kami (para sahabat), tiba-tiba saja beliau tertawa, lalu bertanya, “Tidakkah kalian bertanya kepadaku, mengapa aku tertawa?”
Para sahabat pun bertanya, “Ya, apa yang telah membuat engkau tertawa, wahai Rasulullah?”
Beliau lalu bersabda, “Aku kagum pada keadaan (urusan) orang mukmin. Semua keadaannya adalah menjadi kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan apa yang ia inginkan (kebaikan), lalu ia memuji Allah, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan apa yang tidak menyenangkan, lalu ia bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya. Tidak semua orang keadaannya merupakan kebaikan baginya. Hal itu hanya terjadi bagi orang mukmin.” (HR. Ahmad).
Pelajaran yan bisa dipetik dari kisah Rasulullah Saw. bersama para sahabatnya ialah bahwa Allah Swt. akan menjauhkan hal jelek dari hamba-Nya yang selalu beriman. Semua hal yang terjadi padanya merupakan kebaikan baginya. Itulah sebabnya, setiap muslim harus bisa mengambil hikmah dari suatu kejadian dan bersikap sabar saat menjalaninya. Misalnya, saat seseorang sakit, sakit yang dideritanya akan menjadi kebaikan, sebab dosa-dosa diampuni, derajatnya ditinggikan, dan amalnya selama sakit dianggap sama seperti orang sehat (Senyum Indah Kanjeng Nabi, halaman 227).
Sabar dan syukur menjadi dua kata kunci untuk meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun akhirat. Dalam menjalani kehidupan ini, kita akan menjumpai hal-hal yang saling berpasangan, seperti gagal dan sukses, mudah dan sulit, terpisah dan bersama, serta kaya dan miskin, semuanya bisa diatasi dengan dua kata; sabar dan syukur. Bersabar saat menerima hal-hal yang tak diinginkan dan bersyukur ketika menerima hal-hal yang diinginkan (Senyum Indah Kanjeng Nabi, halaman 230).
Mudah-mudahan kita semua dapat mempraktikkan ajaran Rasulullah Saw. tentang sabar dan syukur tersebut. Semoga ulasan singkat buku Senyum Indah Kanjeng Nabi ini bermanfaat.
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review How to Say You're Sorry, Buku Anak tentang Arti Permintaan Maaf
-
Ip Man: Kung Fu Legend, saat Film Bela Diri Modern Hilang Momen Ikoniknya
-
Are You Afraid of the Dark? Ketika Ambisi Berubah Jadi Konspirasi Mematikan
-
Goldfinches, Buku Cantik tentang Kebahagiaan dalam Hal-Hal Sederhana
-
Oliver Twist: Perjuangan Anak Yatim Melawan Kemiskinan dan Eksploitasi
Terkini
-
Magang Berkepanjangan: Bekal Karier atau Bentuk Eksploitasi Anak Muda?
-
Mengapa Transportasi Umum Adalah Jawaban Buat Bumi Kita
-
Healing Murah Meriah: Keliling Jakarta Naik Transum
-
Ternyata Rutinitas Commuting ke SCBD Ikut Menyelamatkan Bumi
-
Kupas Tuntas Transportasi Jakarta: Beneran Bikin Hemat atau Malah Ribet?