Novel Amungme ditulis oleh Peringga Ancala, nama pena dari Indri K. Hobi membacanya membawa Peringga pada dunia tulis-menulis. Saking maniaknya, koran bekas bungkus gorengan pun dibacanya. Peringga mulai menulis cerpen dan puisi secara otodidak saat kelas satu SMA pada 1994. Di tahun yang sama, cerpennya Wanita Tua Berjukung Hitam memenangkan Juara 1 Lomba Cerpen Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Sekarang Departemen Pendidikan Nasional), serta meraih beberapa penghargaan lainnya.
Dalam novel Amungme yang menjadi Pemenang 3 dalam Sayembara Menulis Novel Remaja Islami ini mengungkap tentang Omabak lelaki asal Opitawak Papua bersuku Amungme yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Yogyakarta. Saat Omabak pulang dari Jawa ke Opitawak, ia mendapati para lelaki Amungme menari dengan kaki telanjang. Perempuan dan laki-laki, tua, muda, bahkan anak-anak, berbaur bergembira. Mereka sedang Pesta Bakar Batu. Di tengah lapangan, bertumpuk sejumlah batu besar dan di balik bebatuan itu ada lubang besar tempat belasan ekor babi dan sayuran dimasak.
Delapan tahun Omabak tidak pernah pulang ke Opitawak. Waktu yang panjang, membuat kerinduannya sering memuncak saat ia berada di Yogyakarta. Ia bersyukur bisa melanjutkan sekolah ke sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Ia merasa beruntung memiliki seorang ibu yang rela bolak-balik setiap hari, berjalan kaki hingga tiga jam untuk berjualan sayuran di Pasar Tembagapura demi bisa menyekolahkannya.
Saat pulang ke kampung halaman, Omabak berubah total. Ia tak lagi mau diajak makan babi hutan yang dulu menjadi makanan kesukaannya, dan ia juga tidak ikut berdoa ketika Ondoafi Teknay, kepala suku Amungme, memimpin untuk menyembah Dewa Mam On. Banyak sekali teman-teman dan keluarganya merasa banyak keanehan pada diri Omabak sepulangnya dari Jawa. Pada suatu kesempatan, Omabak berkisah kepada ibu tercintanya.
Demikian kutipannya:
"Omabak ingin memberi tahu Ibu tentang sesuatu yang penting."
"Katakanlah, Nak."
"Ibu jangan marah dulu. Begini, Bu. Selama Omabak berada di Yogya, Omabak pelajari banyak hal yang baru. Termasuk, tentang dewa kita, Mam On."
"Lanjutkanlah! Ibu mendengarkan..."
"Ternyata, ada yang lebih berkuasa dari Dewa Mam On, Bu. Lebih dari segalanya. Adalah Allah yang menciptakan semuanya. Alam ini, bahkan diri kita sekalipun."
Kesempatan pun hadir bagi Omabak untuk secara perlahan mengubah kebiasaan menyembah Dewa Mam On yang sering dilakukan orang-orang Amungme, saat ia diangkat menjadi menantu oleh kepala suku Amungme.
Novel ini merupakan salah satu novel yang mengangkat latar etnik secara memikat. Kita digiring untuk memasuki ke sebuah pedalaman Papua, mengikuti berbagai ritual, mitos, dan dunia supranatural. Sungguh mengasyikkan!
Baca Juga
-
4 Rekomendasi HP dengan Memori Internal 1 TB 2026, Leluasa Menyimpan File Besar dan Aplikasi Berat
-
Infinix Note 60 Pro Siap Meluncur ke Indonesia, Usung Desain Mirip iPhone 17 Pro
-
Vivo India Umumkan iQOO 15R Debut 24 Februari 2026, Usung Sensor Kamera Sony LYT-700V 50 MP
-
4 Rekomendasi HP Murah RAM 8 GB Penyimpanan Internal 256 GB, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Oppo Find X9s Usung Chipset Dimensity 9500s dan Kamera 200 MP, Segera Rilis dalam Waktu Dekat
Artikel Terkait
Ulasan
-
Makna Lagu Multo dari Cup of Joe: Kisah Kenangan yang Menghantui
-
Membaca Ulang Merahnya Merah: Saat Kehilangan Menjadi Awal Pencarian Makna
-
Review Novel Cerita Hati Maharani: Menelusuri Luka dan Kedewasaan
-
Novel Etnik Menik: Mimpi dan Realitas Sosial yang Diam-diam Menyentil
-
Membaca Lelaki Tua dan Laut: Tentang Kekuatan Mental dan Seni Bertahan
Terkini
-
Fenomena Cut Off Orang Tua: Self-Love atau Batasan yang Terlambat Dibuat?
-
4 Ide Styling Outerwear ala Yeosang ATEEZ untuk OOTD Simpel tapi Kece!
-
4 Rekomendasi HP dengan Memori Internal 1 TB 2026, Leluasa Menyimpan File Besar dan Aplikasi Berat
-
Bukan karena Cegah Klitih, Warga Sleman Divonis karena Penganiayaan Bersama
-
SM Bekukan Aset EXO-CBX Senilai 2,6 Miliar Won di Tengah Sengketa Hukum