Apa yang akan kamu lakukan ketika dihadapkan pada situasi yang serba salah, seakan jujur terlalu sulit tetapi menyembunyikan kebenaran juga tidak semudah itu? Itulah yang dirasakan oleh Primrose. Ingin tahu kelanjutan kisahnya bersama Javio, Lily, Daksa, dan yang lainnya? Berikut ulasan kisah yang tertuang dalam buku 70 mil.
Identitas Lengkap
Judul buku: 70 Mil
Penulis: Anastasya
Penerbit: KataDepan
Jumlah Halaman: 328 Halaman
Cetakan Pertama, November 2021
Ulasan Lengkap
Complicated, satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan keseluruhan permasalahan yang ada di buku ini. 70 Mil bercerita tentang Javio dan Primrose, dua manusia yang sudah saling mengisi hidup sejak berumur 5 tahun.
Seiring berjalannya waktu, kisah ini tidak lagi tentang mereka berdua, tetapi juga tentang dua keluarga dan dua perusahaan.
Javio dan Primrose mulai menjalin hubungan ketika SMA, tepatnya saat Javio 'nembak' Primrose di lapangan sekolah lengkap dengan ratusan balon dan sederet drama anak sekolahan lainnya. Namanya juga remaja, saat baca adegan ini, aku juga ikut gemes dan greget berasa ikutan jadi anak SMA lagi.
Alur yang digunakan adalah alur campuran, ditandai dengan tahun yang berbeda di setiap atas judul babnya. Pembaca akan diajak loncat dari satu masa ke masa lain. Jadi, setelah membaca adegan romatisme ala anak SMA tadi, tiba-tiba langsung disuguhkan pada adegan ketika Javio dan Lily (kakak kandung Primrose) yang sedang menyiapkan pesta pernikahan mereka!
Hal ini tentu saja membuatku penasaran, alasan atau kejadian apa yang membuat ceritanya jadi berbelok arah sangat jauh seperti ini. Seiring menuju akhir, beberapa kenyataan mulai terungkap. Satu hal yang bisa kuambil dari kisah yang rumit ini adalah kejujuran dan sikap saling terbuka merupakan hal paling utama dalam sebuah hubungan.
Primrose terlalu takut untuk berkata yang sejujurnya, sehingga ia lebih memilih menyembunyikan semuanya dan akhirnya berimbas pada hidupnya serta hidup orang-orang di sekitarnya. Terlalu banyak kata 'seandainya' yang aku ucapkan selama membaca buku ini. Aku ikut kesal dengan Primrose, tapi di sisi lain juga bersimpati kepadanya.
Ending yang cukup menguras emosi. Bahkan sampai sekarang, aku masih mempertanyakan, andai waktu itu Primrose jujur, apakah endingnya akan sangat berbeda? Entahlah.
Buku ini memiliki cukup banyak hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Tentang kejujuran, keterbukaan, saling menerima, serta tentang takdir yang sekuat apapun berusaha kita tolak, tidak akan pernah bisa berubah jika memang sudah ditakdirkan seperti itu.
Baca Juga
-
Lebih dari Sekadar Romansa, Ini Alasan Kenapa Kamu Wajib Baca Kokoronotomo: I Heart Tokyo
-
5 Primer Makeup untuk Pemula, Bisa Kamu Dapatkan di Bawah Rp50 Ribu!
-
Lika-liku Perasaan Remaja: Dear G Hadirkan Kisah Romansa Berbalut Teka-teki
-
Physical atau Chemical Sunscreen, Mana yang Lebih Aman untuk Ibu Hamil?
-
Wajah Lebih Cerah dalam 7 Hari: 5 Rekomendasi Sabun Cuci Muka Anti-Flek Hitam
Artikel Terkait
Ulasan
-
Lawan di Sungai, Kawan dalam Kehidupan: Mengintip Sisi Humanis Pacu Jalur
-
Kalau Jelek Gak Boleh Marah? Maaf Sal Priadi, Saya Tidak Setuju
-
Mortal Kombat II: Kembalinya Scorpion dengan Dendam yang Lebih Kuat!
-
Bukan Sekadar Isekai: Mengapa Mushoku Tensei Dianggap Pelopor Genre Modern?
-
Simfoni Kesederhanaan Didikan Mamak Nur dan Bapak Syahdan dalam Novel Pukat
Terkini
-
Mampu Bertahan Adalah Prestasi: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengejar Puncak yang Salah
-
GTO Kembali! Takashi Sorimachi Jadi Eikichi Onizuka Lagi Setelah 28 Tahun
-
Jadi "Patrick Otak Besar": Strategi Survival Saat Gaji Habis Ditelan Harga Beras
-
Overworked tapi Underpaid: Realita Dunia Kerja yang Diam-diam Dinormalisasi
-
Park Ji Hyun Jadi Idol K-Pop di Film Wild Sing, Intip Detail Karakternya