Beberapa waktu belakangan ini, alam paralel (parallel multiverse) seakan menjadi perbincangan hangat di kalangan para penikmat film. Pasalnya, dalam waktu yang berdekatan, dua film berkualitas yang mengangkat tentang semesta paralel, yakni Everything, Everywhere All at Once dan juga Doctor Strange in the Multiverse of Madness, meluncur ke layar bioskop dan mendapatkan sambutan masyarakat luas.
Sontak, hal ini membuat dunia paralel menjadi sebuah hal yang begitu diminati, karena diyakini nyata keberadaannya. Namun, tahukah teman-teman, jika beberapa tahun sebelum kedua film tersebut rilis, ada lho sebuah film Jepang yang mengambil setting di dunia paralel. Tak tanggung-tanggung, setting waktunya mengambil jaman Edo, ketika sejarah jepang masih didominasi oleh para samurai.
Berjudul Gintama, film ini mengambil tema tentang pertarungan antara manusia samurai dengan para alien yang mulai menginvasi bumi. Di zaman Edo tersebut (pastinya di Zaman Edo yang terletak di dimensi atau multiverse yang lain), spesies alien yang dijuluki Amanto melakukan penyerangan terhadap bumi.
Para manusia yang berada di bumi kala itu tentu saja tak tinggal diam. Mereka melakukan perlawanan, hingga berkecamuk perang besar antara kedua spesies tersebut selama lebih dari 10 tahun.
Namun sayangnya, perang tersebut berakhir di luar harapan. Keshogunan yang berkuasa kala itu, melihat kekuatan besar yang dimiliki oleh Amanto, dan memutuskan untuk menerima penaklukan mereka.
Dalam win-win solution yang disepakati, Keshogunan pada akhirnya membangun pemerintahan boneka untuk Amanto dan mengeluarkan Dekrit Penghapusan Pedang.
Dekrit yang tak memihak para ksatria ini tentu saja membuat kecewa para samurai yang bertarung melawan Amanto demi negara dan tuan-tuan mereka. Pasalnya, bagi para samurai, keputusan tersebut akan membawa negara yang mereka cintai akan jatuh dan mengalami kemunduran.
Hal itulah yang dirasakan oleh Gintoki Sakata (Shun Oguri), seorang samurai idealis yang dijuluki sebagai “Iblis Putih”. Dia tak mau menuruti dekrit penghapusan pedang, meskipun harus hidup serba kekurangan.
Sekadar informasi, sejatinya film Gintama Live Action sendiri sudah dibuat dalam dua film, dan di film pertama yang rilis pada tahun 2017 lalu ini, Gintoki Sakata bersama dengan dua sahabat karibnya, Shinpanchi Shimura (diperankan oleh Masaki Suda), cowok imut berkacamata yang jenius namun lemah dalam bertarung, dan Kagura (diperankan oleh Kanna Hashimoto), seorang Amanto imut bermata biru berambut merah membuka usaha freelance yang mengerjakan apapun perintah yang diorder oleh pengguna jasa mereka.
Maklum saja, pasca Dekrit Penghapusan Pedang yang dilakukan oleh pemerintah, pekerjaan Gintoki sebagai seorang petarung langsung sepi. Dan demi bisa memenuhi kebutuhannya yang aneh-aneh, dirinya membuka jasa freelance.
Beralih profesi secara serampangan, Gintoki dan kawan-kawannya tentu dihadapkan dengan sepinya pengguna jasa mereka. Hingga pada suatu ketika, mereka mendapatkan sebuah pekerjaan besar, yakni menyelidiki hilangnya sebuah pedang keramat yang disinyalir menjadi senjata seorang pembunuh berantai yang akhir-akhir ini tengah beraksi. Dan di film pertama ini, kasus inilah yang harus diselesaikan oleh mereka bertiga.
Dalam perjalanannya memecahkan kasus, Gintoki dan kawan-kawannya bertemu dengan tokoh-tokoh lain seperti Kotaro Katsura (diperankan oleh Masaki Okada), yang berkawan karib dengan Elizabeth, seorang alien berbentuk lucu, Tetsuko Murata (diperankan oleh Akari Hayami) dan tokoh-tokoh lainnya.
Oh iya, di film pertama ini kita juga akan dikenalkan dengan beberapa tokoh yang nanti akan memiliki garis merah di film kedua lho. jadi, anggap saja film pertama ini sebagai film perkenalan, disamping alur cerita utama yang disajikan.
Meskipun film ini mengangkat kehidupan seorang samurai dan penuh dengan pertempuran, namun jangan khawatir, film yang diangkat dari manga dengan judul yang sama ini banyak unsur komedinya kok.
Bahkan, ada banyak adegan menggelitik yang bakal membuat teman-teman tersenyum lebar. Contohnya saja di adegan ketika Mbak Tae Shimura (diperankan oleh Masami Nagasawa) tengah merawat Gintoki yang luka-luka setelah bertarung. Bagi yang penasaran, segera menuju layanan streaming film kesayangan masing-masing ya!
Baca Juga
-
Pasar Padukuhan Eyang Putri, Sentra Kuliner yang Seolah Melawan Arus Modernitas Kabupaten Tuban
-
Penolakan LCC Ulang oleh SMAN 1 Pontianak dan Versi Lite Pemberontakan Kaum Pintar
-
Gulir Panas LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar: Memandang Wajah Indonesia dalam Satu Ruangan
-
LCC 4 Pilar MPR dan Relasi Kuasa yang Menjadi Penyakit Akut Pemilik Kewenangan di Indonesia
-
Kampanye Less Waste More Future dan Cara Yoursay Kirimkan Paket yang Bikin Saya Pengin Meniru
Artikel Terkait
-
My Wife is a Gangster 2: Saat Pemimpin Tertinggi Geng Harus Hilang Ingatan
-
Resmi Dirilis, The Witch: Part 2 Bikin Film Hollywood Semakin Terbenam
-
Hari Pertama Tayang, The Witch: Part 2, The Other One Rajai Bioskop Korea
-
Menuai Kecaman, Ini Daftar yang Negara Melarang Penayangan Film The Lady Of Heaven
-
Ulasan The Green Mile (1999): Film Lawas yang Bakalan Bikin Kamu Nangis Bombay
Ulasan
-
Saat Seragam Berbicara tentang Kemanusiaan: Mengapa Kisah Tentara dan Dokter di DOTS Begitu Mengena?
-
Puisi sebagai Perlawanan: Membaca Kita Adalah Jelata di Tengah Indonesia yang Gelap
-
Children of Heaven Begitu Lembut Memotret Kemiskinan Hingga Menyayat Hati
-
Tak Sekadar Ilmuwan: Sisi Manusiawi Stephen Hawking dalam My Brief History
-
Self-Love dan Depresi dalam Novel 'Matahari Pun Terluka'
Terkini
-
Rupiah Guncang, Bunga Melejit: Siap-Siap Dompet Masuk UGD
-
Tayang Juni, Shin Ha Kyun Tampil sebagai Pemeran Spesial di Film Wild Sing
-
Bukan Hanya Sapi atau Kambing: Sudahkah Anda Menyembelih 'Sifat Binatang' di Dalam Diri?
-
Photo Assist Samsung Galaxy S26 Series: Solusi Praktis Menghilangkan Objek Mengganggu di Foto
-
Di Balik Gema Takbir: Menolak Dosa Ekologis Plastik Hitam Kurban