Kita mungkin pernah mendengar bahwa pekerjaan yang paling mengasyikkan adalah yang didasari dengan hobi. Saya sangat sepakat dengan ungkapan tersebut karena saya telah merasakannya sendiri.
Membaca dan menulis adalah termasuk di antara hobi saya. Saya mulai menyukai kegiatan membaca sejak kecil, tepatnya sejak saya masih duduk di bangku Ibtidaiyah (setara dengan Sekolah Dasar).
Saya bersyukur karena kegemaran saya membaca buku tersebut, pada akhirnya mengantarkan saya menjadi seorang penulis lepas di berbagai media massa. Tak hanya menulis di berbagai media massa, tapi juga menerbitkan sederet buku, baik diterbitkan secara indie maupun mayor.
Buku berjudul ‘Saya Bersyukur, Saya Bahagia’ adalah salah satu buku genre motivasi karya saya yang pada tahun 2019 diterbitkan di penerbit mayor, yakni Quanta (Elex Media Komputindo Kompas, Gramedia) yang berlokasi di daerah Jakarta.
Buku tersebut merupakan kumpulan opini beragam tema yang sebagiannya telah dipublikasikan di berbagai media massa seperti koran Analisa, Radar Surabaya, dan Detik.com. Salah satu tema opini di buku tersebut yakni tentang syukur. Bersyukur menjadi salah satu kunci kebahagiaan.
Selama ini, mungkin masih banyak kita jumpai orang-orang yang hanya akan bersyukur ketika mendapatkan hal-hal yang membuatnya bahagia saja. Sementara jika tengah diberi ujian hidup yang membuat hatinya bersedih dan terluka, mereka seolah lupa terhadap kenikmatan-kenikmatan Tuhan lainnya yang sebelumnya telah banyak dianugerahkan kepada mereka (halaman 2).
Mestinya, persoalan hidup yang dihadapi oleh manusia itu dapat dijadikan sebagai cara untuk meningkatkan kesabaran dan ketakwaan kita kepada-Nya. Bila kita merenungi setiap persoalan yang muncul, akan kita temukan hikmah atau pelajaran berharga sebagai bekal untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik.
Saya sangat setuju sekaligus termotivasi dengan kata-kata bijak Yasmin Mogahed dalam bukunya ‘Reclaim your Heart’. Menurut Yasmin, penderitaan dan kesulitan itu memiliki banyak tujuan di dalam hidup. Penderitaan dapat berfungsi sebagai petunjuk sekaligus obat atas hubungan kita dengan sang Pencipta yang rusak (halaman 5).
Tema-tema lain yang saya sajikan dalam buku ‘Saya Bersyukur, Saya Bahagia’ antara lain tentang seni menjaga lidah, jangan pernah menunda-nunda berbuat kebaikan, dan lain sebagainya. Selamat membaca, semoga terbitnya buku ‘Saya Bersyukur, Saya Bahagia’ ini bermanfaat untuk para pembaca sekalian.
Tag
Baca Juga
-
Ulasan Buku Setengah Jalan, Koleksi Esai Komedi untuk Para Calon Komika
-
Ulasan Buku Jadilah Pribadi Optimistis, Lebih Semangat Mengarungi Kehidupan
-
Rangkaian Kisah Penuh Hikmah dalam Buku Berguru pada Saru
-
Pentingnya Memiliki Prinsip Hidup dalam Buku Menjadi Diri Sendiri
-
Menjalani Hidup dengan Tenang dalam Buku Hujan Bahagia
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Setengah Jalan, Koleksi Esai Komedi untuk Para Calon Komika
-
Ulasan Novel Death by Dumpling: Misteri Pembunuhan Pelanggan Setia Restoran
-
Ulasan Buku Jadilah Pribadi Optimistis, Lebih Semangat Mengarungi Kehidupan
-
Tragedi di Pesta Pernikahan dalam Novel Something Read, Something Dead
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
Ulasan
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Sate Padang Bundo Kanduang, Rasa Asli Minangkabau yang Menggoda Selera
-
Ulasan Buku Setengah Jalan, Koleksi Esai Komedi untuk Para Calon Komika
-
Ulasan Film Paddington in Peru: Petualangan Seru si Beruang Cokelat!
Terkini
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?
-
Liga Film Lebaran Geger! 'Pabrik Gula' Tak Terbendung, Norma Terpeleset?
-
Ada LANY hingga Hearts2Hearts, LaLaLa Festival 2025 Umumkan Daftar Lineup