Menurut saya, setiap orang memerlukan nasihat. Mengapa nasihat dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting? Karena nasihat dapat membuat kita mengingat kembali atas kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu.
Nasihat bisa menjadi sarana pengingat diri, agar ke depan berusaha menjadi pribadi lebih baik lagi. Pribadi yang bisa memberikan kemanfaatan pada sesama. Pribadi yang senantiasa meningkatkan amal ibadahnya. Pribadi yang tak gemar menyakiti sesama dan pribadi yang tak suka membuat kerusakan di muka bumi ini.
Nasihat memang penting, namun tak semua orang bisa dengan seenaknya menasihati orang lain. Terlebih terhadap orang yang belum dikenalnya. Memberikan nasihat pada sembarang orang malah bisa menimbulkan mudarat, apalagi bila nasihat tersebut disampaikan di muka umum, bisa-bisa malah mempermalukan orang tersebut.
Dalam buku “Imam Al-Ghazali; Biografi Lengkap Sang Hujjatul Islam” dijelaskan, mengenai nasihat, Al-Ghazali dalam “Ayyuha al-Walad” mengatakan: “Sebuah nasihat itu mudah diberikan, tetapi yang sukar ialah perihal peberimaannya. Hal ini karena nasihat berasa pahit bagi orang-orang yang berambisi serta mengedepankan nafsu, dan hal-hal yang dilarang lebih menarik hati mereka”.
Alangkah baiknya bila setiap orang banyak melakukan introspeksi diri. Menurut saya, introspeksi diri adalah termasuk salah satu cara untuk menasihati diri sendiri. Bagaimana cara agar kita bisa melakukan introspeksi diri? Salah satunya dengan cara memperbanyak membaca buku yang berkaitan dengan hikmah kehidupan.
Berusaha mengingat bahwa umur manusia itu ada batasnya juga bisa membuat kita merenung atau introspeksi diri. Karena umur kita terbatas, maka sebaiknya kita harus berusaha meningkatkan amal ibadah sebagai bekal di akhirat nanti. Semoga dengan memperbanyak ibadah kita dapat tergolong orang-orang yang meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Perihal terbatasnya umur manusia, dalam buku “Imam Al-Ghazali; Biografi Lengkap Sang Hujjatul Islam” diterangkan bahwa usia dan waktu tidak dapat diputar ulang. Meskipun setiap minggu kita akan mengulang hari, dan tiap hari akan bertemu dengan jam yang sama, namun sadarlah bahwa Sabtu ini, misalnya, jelas berbeda dengan Sabtu yang akan datang, meskipun sama nama harinya. Di sinilah semestinya kita memaknainya, supaya kehidupan yang kita jalani ini bermakna dan tidak sia-sia.
Sangat menarik membaca buku “Imam Al-Ghazali; Biografi Lengkap Sang Hujjatul Islam” karya M. Kamalul Fikri, S. Th.I., M.A. yang diterbitkan oleh penerbit Laksana (2022) ini. Semoga buku ini dapat menjadi bacaan atau nasihat yang bijak bagi para pembaca sekalian.
Baca Juga
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
Artikel Terkait
-
Geger Tiga Lelaki Bikin Video Bakar Tafsir Alquran, Anggap Buku Iblis, Polisi: Sudah Ditangkap
-
Ulasan Buku 'You Are What You Think You Are What You Believe': Semua Berawal dari Pikiran yang Positif
-
Satu Langkah Mengubah Hidup, Belajar dari Buku Beresin Dulu Hidupmu!
-
Densus 88 Temukan Buku Jihad di Rumah Terduga Teroris di Denpasar, Pernah Ikut Demo PA 212
-
Cerai dengan Nathalie Holscher, Sule Ternyata Beri Pesan Menyentuh ke Putri Delina: Jangan Terus-Terusan Ingin Benar
Ulasan
-
Dianggap Mitos hingga Diakui Pahlawan Nasional: Siapakah Ratu Kalinyamat?
-
Novel Celebrity Wedding, Pernikahan Kontrak Antara Akuntan Publik dan Musisi
-
1000x Ghea Indrawari, Lagu yang Bikin Saya Berhenti Membandingkan Cinta
-
Ulasan Ketok Mejik: Aksi Konyol Para Mekanik Mempertahankan Rumah Warisan
-
Novel Dari Hari ke Hari: Sejarah Besar Diceritakan dari Mata Seorang Bocah
Terkini
-
5 Merek Sepatu Lokal dengan Visual Keren dan Harga Terjangkau
-
4 Clay Mask Ampuh Bersihkan Pori untuk Cegah Bruntusan pada Kulit Berminyak
-
Underemployment: Saat Keringat Sarjana Cuma Jadi Angka Formal
-
Desa Les Bekali Generasi Muda dengan Bahasa Inggris, Siap Mendunia?
-
Naturalisasi Pemain Sepak Bola: Proses Kemenangan atau Kesalahan Berulang?