Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengajak masyarakat agar lebih mencintai dan melestarikan hutan. Jangan sampai hutan-hutan menjadi punah akibat keserakahan segelintir manusia yang gila dengan materi.
Salah satu cara mengampanyekan tentang pentingnya merawat hutan dan lingkungan adalah dengan media tulisan atau karya tulis. Sajak atau puisi misalnya. Lewat sajak, seseorang bisa menyuarakan gagasan atau pemikirannya tentang manfaat hutan bagi makhluk hidup dan akibatnya bila sampai tidak dirawat dengan baik, bahkan habis ditebangi oleh para manusia.
Sebagaimana kita ketahui bersama, hutan memiliki fungsi yang sangat banyak untuk kehidupan umat manusia. Bahkan bagi semua makhluk hidup seperti hewan yang membutuhkan hutan sebagai tempat berlindung dan bertahan hidup. Hutan dapat menjadi benteng bagi kehidupan manusia dari berbagai bencana.
Kritik membangun tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan, bisa kita simak dalam salah satu sajak karya Yohanes Terang yang berjudul “Menjaga yang Tersisa”. Berikut saya kutipkan sebagian sajak tersebut:
Hutan yang ada adalah hadiah
Yang paling berharga bagi manusia
Dari Sang Pencipta.
Hutan-hutan yang masih tersisa hendaknya
Manusia sanggup sebagai penjaga dan pemelihara.
Agar titipan anak cucu kita tak pernah habis
Oleh pergeseran waktu dan perjalanan usia.
Karena hutan berguna sebagai penghadang
Angin dan topan penyimpan air dan makanan
Habitatnya obat-obatan dan berjenis satwa langka.
Bila kita berusaha merenungi sajak tersebut, betapa manfaat hutan bagi kehidupan kita begitu besar. Yakni, sebagai penghadang angin dan topan, menyimpan air serta makanan. Bahkan, hutan dengan beragam jenis tanaman yang ada di dalamnya, ternyata sebagiannya dapat difungsikan sebagai media pengobatan dari beragam penyakit.
BACA JUGA: Ulasan Buku 'Rujuk', Naskah Drama tentang Perceraian dan Biro Jodoh
Maka, melestarikan hutan menjadi tugas kita bersama. Jangan sampai hutan-hutan yang ada di negeri ini habis oleh keserakahan sebagian orang yang hanya mementingkan keuntungan pribadi dan golongannya. Jangan sampai hutan-hutan menjadi gundul dan berganti dengan bangunan-bangunan tinggi pencakar langit.
Dalam sajak berjudul “Hilangnya hutan Hilangnya Kehidupan”, Yohanes Terang menegaskan:
Hutan menunjukkan bukti
Tempat tersedianya flora dan fauna
Titipan dari Sang Pencipta
Bagi semua kehidupan yang ada
Hilangnya hutan berarti hilang tanda
kehidupan di dalamnya.
Manusialah sebagai pewaris
yang dapat mengelola
Agar tak hilang ditelan waktu
Tak habis dimakan usia
Tempo berganti waktu berjalan
Perlahan maupun cepat.
Buku kumpulan sajak karya Yohanes Terang yang diterbitkan oleh Gramedia ini sangat cocok dijadikan sebagai bahan renungan berharga bagi para pembaca. Renungan tentang pentingnya melestarikan alam, menjaga hutan dari kepunahan dan keserakahan manusia.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Tag
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Every Monday Mabel: Ketika Truk Sampah Jadi Hal Terbaik di Dunia
-
Teach You a Lesson: Drama Aksi Sekolah dengan Kritik Pedas Sistem Pendidikan
-
Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?
-
Review Evil Dead Burn: Teror Iblis Necronomicon di Rumah Danau Berdarah!
-
Ulasan Kronik Burung Pegas: Kisah Kehilangan, Trauma, dan Dunia Surealis
Terkini
-
Tangki Cinta yang Kosong: Sulitnya Anak Broken Home Mengenal Hubungan Sehat
-
Ghosting, Breadcrumbing, dan Situationship: Bahasa Baru dalam Dunia Asmara
-
Fenomena Gaji Numpang Lewat: Gaya Hidup dan Tekanan Sosial yang Bikin Boros
-
Prabowo dan Obsesi MBG: Mengapa Kemajuan Negara Diukur dari Perut Rakyat?
-
4 Hybrid Sunscreen Cegah Jerawat Meradang Akibat Paparan Sinar Matahari