Siapa sih di dunia ini yang tidak ingin hidup bahagia? Saya sangat yakin, setiap orang pasti bercita-cita ingin hidup bahagia. Ya, bahagia. Bila perlu, bahagia selamanya, tanpa ada satu pun kesedihan atau masalah yang menyambangi kehidupannya.
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah: apakah benar ada orang yang hidupnya selalu bahagia tiada henti tanpa ada satu persoalan pun datang menghampiri? Rasanya, sangat mustahil. Sekaya raya apa pun seseorang, pasti pernah, bahkan sering dilanda ketidakbahagiaan yang disebabkan oleh beragam persoalan yang datang silih berganti dalam kehidupannya.
Karena sejatinya, bahagia dan kesedihan itu adalah satu paket yang harus kita jalani dalam hidup ini. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu menyikapi setiap situasi dan kondisi dengan cerdas dan sekadarnya. Ketika sedang bahagia, atau sedih, berbahagia dan bersedihlah sekadarnya. Jangan berlebih-lebihan.
Bicara tentang hidup bahagia, ada penjelasan menarik dalam buku “Endless Happiness” karya Rica Irma Dhianty. Bahwa manusia diciptakan Tuhan—dan ini tidak dapat disangkal—untuk berbahagia. Meskipun ada takdir yang sudah digariskan, manusia tetap diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan nasibnya. Di sinilah kapasitas untuk membahagiakan diri berperan. Peran yang lebih besar lagi adalah untuk membahagiakan orang lain, sehingga menimbulkan gelombang kebahagiaan yang lebih besar untuk diri sendiri.
Sebagai manusia, tentu saja ada error yang kita alami. Tidak mungkin hidup kita ini “lurus-lurus” saja tanpa suatu kesalahan atau kealpaan yang kita lakukan. Namun, hal itu tidak serta-merta menjauhkan kita dari bahagia. Justru di situlah letak perjuangan ketika kita merasa lemah atau dilemahkan oleh keadaan (hlm. 7).
Sebagaimana dipahami bersama, hidup bahagia sebenarnya adalah ajaran penting dalam agama. Rica Irma menjelaskan, ajaran agama mementingkan jalan kebahagiaan. D.T. Campblell, seorang psikolog, melakukan penelitian tentang hubungan psikologi dan agama. Ia menyimpulkan bahwa agama memberi sumbangan yang sangat besar dalam membantu mengatasi penderitaan manusia (Rakhmat, 2004).
Agama menawarkan resep kebahagiaan yang nyata, baik melalui ajaran yang dibawa seorang nabi atau rasul, maupun yang termaktub pada kitab-kitab suci. Manusia tidak hanya diperintahkan untuk percaya, tetapi lebih dari itu, kita harus meyakininya. Lewat agama, manusia diperintahkan untuk memilih hidup bahagia (hlm. 48).
Sangat menarik membaca buku karya Rica Irma Dhianty yang diterbitkan oleh Gramedia (2017) ini. Sebuah buku yang sarat renungan dan pelajaran berharga berharga. Dalam menulis buku ini, ia melengkapi dengan data-data akurat dan juga kisah pribadinya yang diwarnai suka dan duka.
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Finding Sisu: Rahasia Hidup Sehat Orang Finlandia
-
Ulasan Buku 'The Tipping Point': Kodisi ketika Sesuatu Berubah secara Drastis
-
Ulasan Buku "Meraih Passive Income dari Menulis," Menyingkap Keuntungan Jadi Penulis
-
Ulasan Buku 'Outliers', tentang Privilege yang Menopang Kesuksesan
-
Buku 'Cepat Sukses Cepat Kaya': Bekerja untuk Memenuhi Kebutuhan
Ulasan
-
Cinta yang Dipaksa Berujung Petaka, Ini Pelajaran Pahit dari Film Obsession
-
Review Film How to Make a Killing: Ambisi Mematikan Pewaris yang Kaya Raya
-
Ulasan Daughters of the Sun and Moon, Angkat Kisah Kelam Imigran Tionghoa
-
Film Religi atau Drama Air Mata? Membaca Ulang Kehormatan di Balik Kerudung
-
Hidden Gem di Muara Bulian: Menikmati Kuliner Lezat di Tepi Sungai Bujang
Terkini
-
Anime Kill Blue Season 2 Resmi Diumumkan, Mangaka Bagikan Komentar Perayaan
-
Dapur MBG Fiktif dan Rapuhnya Pengawasan Uang Publik: Alarm Tata Kelola Negara
-
5 Ide OOTD Denim ala Seo In Guk, Pas Banget Buat Gaya Harian!
-
Uang dan Kerusakan Integritas: Seberapa Murah Harga Kehormatan Kita?
-
Trik Menabung Era Inflasi: Gaya Micro-Saving ala Anak Rantau Batam