Siapa yang tak mengenal Arswendo Atmowiloto (26 November 1948 – 19 Juli 2019) seorang penulis dan wartawan Indonesia yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar seperti HAI dan KOMPAS. Ia menulis cerpen, novel, naskah drama, dan skenario film.
Banyak karyanya yang telah diadaptasi ke dalam bentuk film dan sinetron, seperti: Keluarga Cemara (RCTI), 1 Kakak 7 Ponakan (RCTI), sedangkan Imung pernah ditayangkan setiap Minggu di stasiun TV SCTV.
Seri detektif Imung karya dari Arswendo Atmowiloto adalah kumpulan cerpen yang awalnya diterbitkan berseri di majalah HAI, lalu diterbitkan dalam bentuk buku oleh Penerbit Plotpoint, sebelum akhirnya diterbitkan kembali oleh Gramedia Pustaka Utama.
Dalam kumpulan cerpen Imung: Bangkit dari Kubur, Imung akan membantu mengungkap kasus pembunuhan yang sudah lama sekali terjadi. Kisah berawal ketika Imung menjenguk ayah angkatnya, Kolonel Polisi Suyatman, di rumah sakit.
Salah satu penjenguk adalah seorang perempuan bernama Moi Wonga Runu, mantan anak buah Kolonel Polisi Suyatman lima tahun lalu.
Suatu hari suami Moi, Daryatmo, tewas akibat dua luka tusukan di jantung saat ingin menolong Moi yang diserang lebih dulu dalam kereta api jurusan Jakarta-Madiun.
Kasus itu tak terkuak meskipun Kolonel Polisi Suyatman terjun langsung untuk melacak jejak sang pembunuh. Setelahnya, Moi mengundurkan diri dari kepolisian. Sejak peristiwa itu, ia selalu memakai pakaian hitam dan tak pernah sekalipun tersenyum kembali.
Ayah Imung dan Imung sendiri lalu berusaha memecahkan kembali kasus tersebut, walaupun nyaris tak mungkin, karena telah terjadi bertahun-tahun lalu.
Mereka mendatangi rumah Moi untuk mencari petunjuk yang mungkin masih ada. Dalam kamar Moi, masih ada koper yang dahulu dibawanya saat peristiwa penusukan dalam kereta. Di salah satu benda dalam koper itulah Imung menemukan jejak pembunuh Daryatmo.
Selain cerpen Bangkit dari Kubur, buku seri Imung yang ke-10 ini juga memuat kisah-kisah lainnya, seperti: Surat Kaleng dari Semarang, Sebelum Pasar Terbakar, Hilangnya Giwang Kiri, dan Panasnya Api Asmara.
Membaca serial Imung, membuat saya kembali bernostalgia ke zaman SMP saat Imung menjadi salah satu bacaan favorit. Imung digambarkan sebagai anak lelaki kurus, berkulit hitam dengan rambut yang selalu jatuh ke dahi, dan koreng di bawah lutut kiri yang abadi.
Sang penulisnya, Arswendo Atmowiloto, telah berhasil menciptakan karakter Imung sebagai detektif cilik dengan tampilan 'biasa-biasa saja'. Tapi, justru melekat erat di imajinasi pembacanya. Imung selalu berhasil memecahkan kasus dengan cerdas, simpel, tanpa perlu banyak gaya. Sungguh sebuah karya yang memikat.
Baca Juga
-
Paris, Luka, dan Kesempatan Kedua dalam Satu Musim Panas di Paris
-
Novel Menuju Titik Nol: Ketika Pembunuhan Menjadi Akhir Bukan Awal Cerita
-
Novel Kereta 4.50 dari Paddington: Trik Pembunuhan di Luar Nalar
-
Di Antara Mimpi, Identitas, dan Trauma dalam Novel Ceritakan Mimpi-Mimpimu
-
Ambisi, Dendam, dan Pengkhianatan dalam Novel Rencana Paling Sempurna
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku 'Dusun Tantangan', Perjuangan Para Transmigran yang Penuh Lika-liku
-
Ulasan Buku Misteri Kota Tua, Mencari Hilangnya Kakek Misterius
-
Review Film A Haunting in Venice, Pembunuhan Sadis dalam Nuansa Mistis
-
Sinopsis Extreme Job, Kisah 5 Detektif Sukses Jalankan Bisnis saat Penyamaran
-
Mengenal Detektif Jubun, Spesialis Mengupas Isu Perselingkuhan dan Punya Banyak Klien Artis
Ulasan
-
Membongkar Dosa Besar Para Anak Rantau Lewat Lagu Sesi Potret
-
Di Balik Sepiring Dimsum: Membaca Ulang Makna Keluarga di Novel Clara Ng
-
Bosan Dimsum Mentai? Ini 5 Kuliner Nusantara di Nganjuk yang Patut Dicoba
-
Review Perfect Family: Keluarga Sempurna yang Ternyata Menyimpan Rahasia
-
The Skull Karya Jon Klassen, Dongeng Gelap yang Justru Terasa Menggemaskan
Terkini
-
Period Poverty dalam Ketimpangan Kelas: Menggugat Hak Dasar Tubuh Perempuan
-
Viral Karena TikTok, Menkes Ungkap Manfaat Luar Biasa Umbi Kimpul untuk Kesehatan
-
HUT ke-81 RI dan Kebebasan Digital: Saatnya Merdeka dari Scroll Tanpa Henti
-
4 Facial Wash Anti-Aging Rawat Elastisitas Kulit, Harga Murah Rp30 Ribuan
-
Indonesia Hadapi Peserta Piala Dunia 2026, Cape Verde Jadi Kandidat Kuat?