Mungkin masih banyak orang yang merasa asing dengan istilah ‘psikolinguistik’. Bila dilihat sepintas, kata tersebut mengandung makna yang berkaitan dengan ilmu psikologis dan kebahasaan.
Bicara tentang bahasa, sebagaimana kita pahami bersama, bahasa adalah termasuk salah satu alat komunikasi antar manusia. Setiap negara, kota, hingga daerah, memiliki bahasa khasnya masing-masing yang tentunya sangat penting untuk dipelajari bila kita ingin bermukim di sana.
Bicara tentang psikolinguistik, dalam buku ‘Psikolinguistik, Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia’ karya Soenjono Dardjowidjojo ini dijelaskan bahwa psikolinguistik, sebagaimana tertera pada istilah ini, adalah ilmu hibrida, yakni, ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu: psikologi dan linguistik.
Benih ilmu tersebut sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke-20 tatkala psikologi Jerman Wilhelm Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis (Kess, 1992). Pada waktu itu telaah bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang “ilmiah”.
Dapat disimpulkan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam mereka berbahasa. Secara rinci psikolinguistik mempelajari 4 topik tema. Pertama, komprehensi, yakni, proses-proses mental yang dilalui oleh manusia sehingga mereka dapat menangkap apa yang dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud.
Kedua, produksi, yakni, proses-proses mental pada diri kita yang membuat kita dapat berujar seperti yang kita ujarkan. Ketiga, landasan biologis serta neurologis yang membuat manusia bisa berbahasa. Keempat, pemerolehan bahasa, yakni, bagaimana anak memperoleh bahasa mereka (hlm. 7).
Soenjono Dardjowidjojo memaparkan, orang pada umumnya tidak merasakan bahwa menggunakan bahasa merupakan suatu ketrampilan yang luar biasa rumitnya. Pemakaian bahasa terasa lumrah karena memang tanpa diajari oleh siapa pun seorang bayi akan tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan bahasanya.
Dari umur 1 sampai dengan 1,5 tahun seorang bayi mulai mengeluarkan bentuk-bentuk bahasa yang telah dapat kita identifikasikan sebagai kata. Ujaran satu kata ini tumbuh menjadi ujaran dua kata dan akhirnya menjadi kalimat yang komplek menjelang umur empat atau lima tahun.
Setelah kita dewasa, kita memakai bahasa kita seolah-olah tanpa berpikir. Begitu kita ingin mengungkapkan sesuatu, pada saat itu pulalah kita mengeluarkan bunyi-bunyi yang disebut bahasa. Akan tetapi, kalau kita renungkan secara mendalam akan kita rasakan bahwa pemakaian bahasa merupakan cerminan dari kemampuan yang hanya manusialah yang dapat melakukannya (hlm. 1).
Buku karya Soenjono Dardjowidjojo ini merupakan cetakan edisi kedua (2012) yang diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia (Jakarta). Buku ini akan memperkaya wawasan kita tentang bahasa-bahasa yang selama ini digunakan manusia sebagai alat komunikasi.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Salma Rilis Lagu 'maha benar', Sindiran Keras Buat Netizen Julid dan Si Paling Paham Hidup Orang!
-
Can This Love Be Translated?: Cinta Ternyata Adalah Bahasa Paling Rumit
-
I Hate Going to Work: Realita Dunia Kantor yang Dikemas dalam Komedi Satir
-
Review Film The Love Hypothesis: Trik Pacaran Pura-Pura yang Bikin Baper
-
Tak Semudah Hompimpa: Nostalgia yang Berujung Nyesek di Playlist Galau
Terkini
-
Sinopsis Irreplaceable, Dracin Terbaru Zhao Jin Mai dan Wei Da Xun di Youku
-
Good Talk GNFI di UAD: Pendidikan RI Dianggap Hanya Cetak Tenaga Kerja
-
Korea Selatan Libatkan Warga Lawan Deepfake, Indonesia Bisa Belajar Apa?
-
Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?
-
4 Masker Rambut Berbahan Mint yang Ampuh Usir Rambut Lepek dan Ketombe