Bersyukur merupakan salah satu cara kita berterima kasih kepada Tuhan atas segala karunia kenikmatan yang telah diberikan kepada kita. Syukur juga menjadi cara bagi kita agar hati lebih tenang bahagia.
Tanpa rasa syukur, kita akan merasa kurang dan kurang. Sebanyak apa pun harta yang kita miliki, tapi bila kita enggan bersyukur, kita akan merasa kurang dan hidup pun menjadi tidak tenang dan bahagia.
Mohammad Takdir dalam buku terbitan Quanta (Jakarta) ini memaparkan bahwa jika kita mampu menyelami dengan sungguh-sungguh, rasa syukur ternyata mampu memberikan kekuatan yang sangat luar biasa dalam segala aspek kehidupan.
Kepandaian bersyukur bisa membuat kita semakin bersemangat dalam menjalani kehidupan ini tanpa ada perasaan putus asa atau menyerah terhadap semua rahmat Tuhan.
Bahkan, jika zona syukur ini masuk dalam jiwa manusia, maka segala hal yang menimpa kita, baik berupa kebahagiaan atau kesedihan akan disikapi dengan kelapangan dan rasa syukur yang tidak pernah berhenti walau sedetik sekalipun (Psikologi Syukur, hlm. viii).
Saya yakin, banyak orang yang sudah memahami bahwa barang siapa yang pandai bersyukur maka akan ditambahkan nikmatnya oleh Allah. Sementara bagi mereka yang enggan bersyukur, maka Allah akan murka kepada mereka.
Perilaku bersyukur sesungguhnya bukan kepentingan Allah , tapi untuk kepentingan manusia itu sendiri. Meskipun Anda tidak bersyukur kepada Allah, tidak sedikit pun rahmat Allah akan terkurangi. Perilaku bersyukur adalah untuk kepentingan kita sebagai hamba-Nya, karena Allah telah memberikan nikmat yang sangat luar biasa kepada kita berupa nikmat sehat yang merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada setiap umat manusia. Jika Anda mengingkari nikmat Allah, Anda akan mendapatkan laknat yang sangat besar (Psikologi Syukur, hlm. 27-28).
Oleh karena itu, mari kita berupaya menjadikan rasa syukur sebagai amalan keseharian kita. Bagaimana pun kondisi kita saat ini, syukur harus terus menjadi prioritas. Jangan sampai kita menjadi hamba yang dimurkai oleh-Nya hanya gara-gara tak pernah mau mensyukuri nikmat-Nya.
Perilaku bersyukur harus menjadi kebiasaan dalam setiap napas dan detak jantung kita setiap hari sambil selalu mengingat nikmat luar biasa yang telah diberikan Allah kepada kita. Dalam setiap napas dan detak jantung, ungkapan rasa syukur harus senantiasa menjadi kontrol keimanan yang mewarnai dinamika kehidupan kita di dunia (Psikologi Syukur, hlm. 32).
Buku ‘Psikologi Syukur; Suplemen Jiwa untuk Menggapai Kebahagiaan Sejati (Authentic Happiness)' karya Mohammad Takdir ini tepat dijadikan sebagai bacaan yang akan memotivasi para pembaca agar pandai bersyukur.
Baca Juga
-
Warisan Leluhur Negeri Tirai Bambu: 88 Kisah yang Bikin Kamu Lebih Bijak
-
Kenapa Luka Batin Tidak Pernah Hilang? Mengungkap 'Kerak' Trauma yang Membentuk Diri Anda
-
Dikatakan Atau Tidak Dikatakan itu Tetap Cinta: Memahami Rasa Lewat Sajak Tere Liye
-
Inspirasi Kebijaksanaan Hidup dalam Novel Sang Pemanah
-
Merenungi Sajak Cinta Tere Liye di Buku 'Sungguh, Kau Boleh Pergi'
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bank itu Riba? Memahami Prinsip Islam di Buku Ekonomi Moneter Syariah
-
Gak Usah Sok Pintar deh! Refleksi di Buku Orang Goblok Vs Orang Pintar
-
Review Serial Ejakulasi Dini: Drama Komedi Remaja yang Berani dan Kocak!
-
Human Specimens, Menantang Batas Antara Seni dan Kemanusiaan
-
Lotus Feet Girl: Ketika Kecantikan Dibangun dari Luka
Terkini
-
Dari Hangout sampai Ngantor, Intip 4 Ide Outfit Chic ala Shin Ye Eun!
-
Satu Klik Menentukan Nasib: Cara Menguji Link Biar Data Digitalmu Tetap Aman
-
Jumat Santai atau Strategi Serius? Membaca Arah Baru WFH ASN di Indonesia
-
Mobil ini Bisa Jalan Terbalik Menentang Gravitasi, Ini Rahasia McMurtry
-
Ironi Gizi di Negeri Kaya: Panganan Segar Melimpah, Tapi Produk Kemasan Jadi Jalan Pintas