Setiap manusia pasti punya tujuan hidup dan cita-cita yang ingin dicapai. Terlebih ketika masih berada dalam fase bertumbuh yang membuat kita belajar sedikit demi sedikit mengenai kehidupan.
Namun dalam suatu titik tertentu, terkadang kita merasa bahwa segala jenis pencapaian yang kita miliki ternyata tidak membawa dampak yang signifikan dalam kebahagiaan.
Misalnya nih, orang yang punya kekayaan dan aset melimpah, atau mereka yang berhasil meraih gelar pendidikan tertinggi yang dulunya ia cita-citakan. Setelah mendapatkan itu semua, timbul pertanyaan 'What's next?' Yang pada intinya, pencapaian tersebut toh tidak mendatangkan kepuasan yang berarti.
Lalu mengapa hal yang dikejar-kejar selama ini ternyata tidak begitu membahagiakan? Nah bagi kamu yang mungkin berada dalam fase ini, boleh jadi sedang berada dalam tahap pendewasaan.
Yakni suatu tahap ketika kamu sebenarnya memiliki semua faktor yang mendukung kebahagiaanmu, hanya saja tidak bisa memandang itu sebagaimana mestinya.
Nah, buku yang berjudul Merawat Bahagia karya Adjie Santosoputro ini membahas hal tersebut. Tentang bagaimana kita bisa menjadikan apa yang kita miliki saat ini menjadi sebuah bentuk kesyukuran akan hidup.
Terlebih ketika kita sedang didera stress dan masalah yang datang silih berganti. Dalam buku ini, penulis mencoba mengajak kita untuk merefleksikan hal-hal kecil menjadi sesuatu yang berharga untuk kita rasakan.
Misalnya bagaimana memandang makna dari jodoh dan rezeki yang seringkali membuat kita gelisah saat menunggunya. Kemudian bagaimana melatih otot syukur, melatih pikiran untuk move on dari masa lalu, hingga memeluk amarah agar tidak menjadi sesuatu yang merusak.
Bagian yang paling berkesan bagi saya saat membaca buku ini adalah pembahasan tentang fokus pada sesuatu yang paling berdampak dalam hidup.
Karena terkadang, sebagai manusia yang ambis, saya punya banyak keinginan yang rasanya ingin dicapai. Tapi nyatanya tidak punya cukup energi dan waktu untuk meraih semuanya. Terlebih ketika gara-gara hal tersebut, saya justru tidak melakukan apa-apa karena bingung harus mulai dari mana.
Nah penulis menyarankan agar sekiranya fokus saja dengan sesuatu yang paling berdampak dalam hidup. Dari seluruh hal yang jadi ambisi saya, apa sih yang benar-benar bernilai? Itulah yang harus diperjuangkan.
Bagi saya, buku ini adalah bacaan yang bisa menemani diri sendiri ketika pengin self-healing. Pembahasannya banyak yang relate, yang dikemas dengan gaya bahasa yang ringan dan menyentuh.
Bagi kamu yang juga merasa sedang lelah menjalani hidupmu hari ini, saya rekomendasikan buku berjudul Merawat Bahagia ini yang semoga bisa membuatmu terinspirasi juga!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
What's Keeping You Broke: Kebocoran Finansial yang Sering Tidak Disadari
-
Bentala Sella: Romansa Unik antara Dokter dan Pengusaha Sayur Hidroponik
-
Inner Child, Trauma, dan Topeng Superhero: Pelajaran dari Buku dr. Andreas
-
The Let Them Theory: Buku dengan Konsep Sederhana untuk Hidup Lebih Tenang
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
-
Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita
Terkini
-
Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!
-
5 HP Android dengan Kamera Bagus untuk Kamu yang Mau Mulai Ngonten
-
Anime IruMafia Edition Tayang Januari 2027, Kisah Iruma di Kehidupan Mafia
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z