Beberapa waktu lalu, pihak militer Ukraina yang tengah berkonflik dengan Rusia telah menangkap sisa-sisa puing dari drone kamikaze terbaru yang digunakan oleh militer Rusia, yakni Shahed-238. Melansir dari laman Reuters (reuters.com), drone berjenis loitering-munition atau yang dikenal dengan istilah drone kamikaze ini memang mulai gencar digunakan oleh Rusia sejak akhir tahun 2023 lalu.
Bahkan, beberapa klaim menyebutkan drone ini menjadi penyebab beberapa serangan di kawasan Ukraina yang dilakukan oleh militer Rusia dalam konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama hampir 2 tahun. Drone ini sendiri diklaim oleh pihak Rusia menjadi momok bagi pihak Ukraina karena lebih susah dideteksi dan dicegat dibandingkan Shahed-136 yang juga merupakan buatan Iran, sekutu Rusia.
Shahed-238 Merupakan Evolusi dari Drone Shahed-136
Melansir dari laman indomiliter.com, drone Shahed-238 sejatinya merupakan hasil pengembangan dari drone kamikaze atau loitering-munition, Shahed-136 yang dibuat oleh Iran. Drone Shahed-136 sendiri juga turut digunakan oleh Rusia dalam konflik dengan Ukraina sejak setahun terakhir. Seperti yang diketahui, penggunaan drone Shahed-136 juga menjadi salah satu momok yang cukup ditakuti oleh militer Ukraina hingga saat ini.
Drone Shahed-238 sendiri mulai diperkenalkan kepada publik pada September 2023 lalu oleh salah satu media televisi di Iran. Salah satu hanl yang cukup berbeda dari penggunaan drone Shahed-238 dibandingankan pendahulunya, yakni Shahed-136 adalah dari segi mesin penggerak. Apabila Shahed-136 menggunakan mesin penggerak turboprop, maka drone Shahed-238 menggunakan mesin turbojet yang tentunya mampu membuat drone ini bergerak jauh lebih cepat dan memiliki daya jelajag yang lebih kuat dibandingkan Shahed-136.
Menggunakan Mesin Jet Buatan Republik Ceko
Drone Shahed-238 diketahui menggunakan mesin turbojet buata Republik Ceko. Melansir dari laman indomiliter.com, kemungkinan mesin tersebut didapatkan oleh Iran melalui pihak ketiga maupun pasar gelap. Hingga saat ini, tidak diketahui baik Iran ataupun Rusia apakah telah melakukan rekayasa balik atau reverse-engineering dari mesin tersebut.
Mesin turbojet yang digunakan oleh drone Shahed-238 diketahui mampu membuat drone ini terbang dengan kecepatan 520 km/jam. Tentu kemampuan ini lebih cepat dibandingkan Shahed-136 yang merupakan basis pengembangan dari drone tersebut, yakni hanya sekitar 185 km/jam. Untuk hulu ledaknya sendiri, drone ini diyakini juga mampu membawa hulu ledak konvensional dengan berat mencapai 30-50 kg.
Namun, belum diketahui secara lanjut mengenai sistem pengendali dan pelacakan dari drone tersebut. Akan tetapi, diklaim lebih modern dibandingkan dengaj Shahed-136.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Dari Euro 1992 ke Piala Dunia 2026: Benarkah Skandinavia Sedang Menuju Masa Kejayaan Baru?
-
Comeback yang Berakhir Air Mata: Mengapa Piala Dunia 2026 Jadi Mimpi Buruk Neymar?
-
Tampil Gila di Piala Dunia 2026, Vozinha Layak Menunda Masa Pensiunnya!
-
Tak Punya Gelar Piala Dunia, Apakah Cristiano Ronaldo Sah Disebut Legenda Terbesar Portugal?
-
Bukan Sekadar Bola, Konflik Mbappe vs Senator Paraguay Berpotensi Jadi Masalah Diplomatik!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Series Hacked, Teror Misterius di Balik Layar Ponsel yang Diretas
-
Review Worst Neighbor Ever: Dokumenter yang Cuma Mengeksploitasi Tragedi
-
Drama China Fated Hearts: Dua Musuh Bekerja Sama dalam Satu Misi
-
Growing Home, Novel Middle Grade yang Dicintai Banyak Orang Dewasa
-
Singsot: Siulan Kematian, Lebih Panjang dan Lebih Mencekam
Terkini
-
Syarat Segunung, Nasib Menggantung: Wajah Birokratis Rekrutmen di Indonesia
-
Dari Euro 1992 ke Piala Dunia 2026: Benarkah Skandinavia Sedang Menuju Masa Kejayaan Baru?
-
Ironi Demokrasi: Ketika Pembelaan Hanya Milik Mereka yang Berkuasa
-
Inggris vs Argentina: Semifinal yang Lebih dari Sekadar Sepak Bola
-
Jangan Asal Beli! 5 HP Gaming Rp2 Jutaan yang Paling Worth It