Novelet The Apuila’s Child karya dari Ruwi Meita meraih juara pertama dalam ajang Fiksi Fantasi Diva, yang diselenggarakan oleh Diva Press, dan kemudian diterbitkan di bulan September 2013 oleh Penerbit Trenlis.
Menggunakan alur campuran, cerita dibuka dengan alur flashback di tahun 1883 ketika tokoh Hara berhasil menaklukkan musuhnya di Pulau Sogom, sekaligus menjadikannya penjaga terakhir kunci batu intan.
Hara lalu keluar dari Pulau Sogom, mendayung sampai ke tengah pulau. Kekuatan kunci batu intan yang kemudian diacungkan Hara membuat Pulau Sogom terisap ke dalam pusaka tersebut, bertepatan dengan meletusnya Gunung Krakatau.
Cerita kemudian beralih ke tahun 2010 ber-setting di Yogyakarta, tempat seorang gadis bernama Kemuning tinggal bersama Donahue Rubi, pemilik dari Rumah Jahit Rubi sekaligus sebuah tempat penitipan anak.
Baik Kemuning maupun Donahue Rubi merupakan kaum roh campuran dari pernikahan antara manusia dan Apuila. Apuila adalah malaikat yang sengaja memotong sayapnya dan menjatuhkan diri ke bumi karena memiliki alasan tertentu, salah satunya karena jatuh cinta pada manusia.
Donahue sendiri merupakan gelar yang diberikan bagi roh campuran, yang telah berhasil membunuh alok (Apuila yang sudah berumur seribu tahun).
Di bawah bimbingan Donahue Rubi, Kemuning berlatih mengendalikan kabut, salah satu kemampuan milik kaum roh campuran yang keluar dari siladil, jari keenam. Para roh campuran memiliki 12 jari dan siladil ada di antara jari telunjuk dan jari tengah.
Kemuning dan Donahue Rubi juga memiliki kemampuan berkomunikasi secara telepati. Seperti setiap mereka berbicara dengan Oren, anak yang memilih membisu akibat trauma masa kecil yang ia alami.
Suatu hari dalam perayaan ulang tahun Anuj Abimael, lelaki itu terbunuh. Oren menjadi saksi yang melihat Donahue Rubi ada di ruang kerja Anuj Abimael saat lelaki itu melayang ke langit-langit ruangan dengan wajah menyiratkan rasa sakit.
Dokter Raya, dokter yang bekerja di rumah singgah penderita kanker milik Anuj Abimael, menjadi saksi berikutnya yang melihat jasad Anuj Abimael yang telah mati kemudian menguap. Menghilangnya Donahue Rubi setelah kematian Anuj Abimael menyisakan tanda tanya. Apakah perempuan itu yang telah membunuhnya?
Melalui petunjuk yang diperoleh dari syair Groterin, Kemuning melakukan perjalanan ke alam roh bersama Oren, Malsi, dan Murpel (dua terakhir merupakan seekor kucing dan jangkrik), untuk menemukan keberadaan Donahue Rubi di Gunung Merapi.
“Tugas Dokter adalah menjaga semua lilin ini tetap menyala. Waktu kami hanya tiga jam. Jika kami belum bangun pada waktu yang telah ditentukan, segera bangunkan kami.” (Hal. 128)
Berbeda dari kebanyakan novel fantasi yang vibes-nya kebarat-baratan, The Apuila’s Child menyajikan tema fantasi dengan kearifan lokal. Novelet ini bahkan menjadikan Gunung Krakatau dan Gunung Merapi sebagai latar belakang dari cerita dan kota Yogyakarta yang kental lokalitasnya sebagai latar tempat.
Saya menyukai cara penulis membangun karakter-karakter para tokohnya dengan cukup kuat, padahal keterbatasan halaman (karena ini novelet) mungkin saja membuat hal itu sulit untuk dilakukan.
Dalam cerita ini saya menyukai karakter tokoh Oren, bocah lelaki yang hanya ‘manusia biasa’ tapi memahami pribadi kaum roh campuran dengan baik, terutama Donahue Rubi. Oren bahkan tahu di mana bisa menemukan Donahue Rubi. Oren juga yang membantu Kemuning ketika mereka masuk ke alam bayangan.
Konflik cerita juga amat menarik dan berlapis-lapis, melibatkan masa lalu Donahue Rubi dan ayahnya yang seorang apuila jahat, perluasan kerajaan gelap, pengkhianatan, pembunuhan, dan penghancuran umat manusia.
Sebagai orang yang sangat jarang membaca novel fantasi, saya ternyata menikmati sajian imajinasi yang dituangkan penulis. Saya merasakan keseruan pertempuran dengan ‘adu kabut’ yang bisa dibentuk sesuai keinginan pemiliknya.
Imajinasi saya ikut berlarian ketika digambarkan sebentuk kabut dari siladil digunakan Donahue Rubi untuk memperindah gaun. Lalu gambaran Malsi, si tokoh kucing, yang memiliki wajah siang malam dengan sebelah matanya berbentuk bulan sabit, dan masih banyak lagi.
Secara keseluruhan saya puas dengan novelet The Apuila’s Child. Saya berharap buku ini bisa hadir dalam versi novel (yang lebih tebal) dan mengupas lebih jauh lagi tentang para apuila.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel 'Start Again', Terjebak Dilema dalam Menentukan Arah Hidup
-
Kisah Inspiratif Perjalanan Hidup dalam Novel 'Dompet Ayah Sepatu Ibu'
-
Novel Baswedan: Jika Tidak Ditahan Firli Bahuri Akan Kabur
-
Ulasan Novel Runaway Ran, Trauma Masa Lalu Komikus Jutek
-
Ulasan Novel 'Raja, Ratu, & Rahasia', Bimbang antara Cinta dan Masa Depan
Ulasan
-
Memoar Getir Vabyo: Ketika Eksploitasi Kerja Dibungkus Ironi Komedi
-
Demi Krypto dan Cinta: Pengorbanan yang Menjadi Jantung Film Supergirl
-
Nuku: Sultan Pemberontak yang Mengguncang Imperium VOC di Nusantara Timur
-
Novel Delicious Lips: Berawal dari Rasa Turun ke Hati
-
Ulasan Film The Substance: Pertarungan Dua Ego dalam Satu Tubuh yang Rusak
Terkini
-
Masih Hangat!Honor X80 Pro Max Resmi Debut 22 Juni:Usung Baterai 11.000 mAh dan Layar 10.000 Nits
-
Nonton Pee Nak 5: Siap-siap Ketawa di Antara Jump Scare yang Bikin Jantungan!
-
Marco Bezzecchi vs Marshal: Valentino Rossi Tak Menyangka Muridnya Diskors
-
Anti-Apek! 4 Parfum Pria Paling Segar Buat Dipakai Gym dan Olahraga Outdoor
-
Proklamasi di Kedai Kopi: Lahirnya Republik Marilah Cerita