"When Marnie Was There" merupakan salah satu anime terakhir dari Studio Ghibli yang menghadirkan pengalaman yang sangat istimewa bagi penontonnya.
Film yang rilis pada tahun 2014 ini, disutradarai oleh Hiromasa Yonebayashi, menampilkan perjalanan seorang gadis muda yang kesepian dan penuh kecemasan bernama Anna, yang menemukan teman pertamanya dalam sosok misterius bernama Marnie di sebuah rumah terbengkalai di tepi pantai Jepang.
Anna, seorang seniman yang tinggal di panti asuhan dan memiliki masalah kesehatan kronis, merasa sulit untuk berbaur dengan teman-teman sebayanya karena kecemasan sosial yang dialaminya.
Namun, kehadiran Marnie membawa cahaya baru dalam hidupnya. Meskipun Anna meragukan apakah Marnie nyata atau tidak, kedekatan mereka tumbuh secara alami, membantu Anna merasa diterima dan dipahami untuk pertama kalinya.
Review Anime Marnie Was There
Film ini menghadirkan visual pemandangan yang memukau dan musik yang pas dengan suasana, seperti halnya karya-karya Studio Ghibli lainnya.
Penggambaran pedesaan Jepang yang indah memberikan latar belakang yang sempurna untuk perjalanan kehidupan Anna.
Penonton dibawa ke dalam dunia yang magis, di mana kehidupan berjalan dengan alur yang lambat dan keindahan alam yang memancarkan kehidupan.
Kisah Anna di gambarkan secara autentik tentang seorang anak muda yang menghadapi kecemasan dan kesepian.
Anna sering kali merasa tidak terlihat dan tidak dipahami oleh orang-orang di sekitarnya, terutama oleh mereka yang lebih vokal dan ekstrovert.
Melalui karakter Anna, penonton diingatkan akan pentingnya empati dan pengertian terhadap manusia yang mungkin tidak sekuat atau segesit orang lain.
Ketika Anna bertemu dengan Marnie, hubungan mereka tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan.
Mereka saling memahami dan mendukung satu sama lain, menciptakan ikatan yang mendalam dan bermakna.
Meskipun film ini tidak secara eksplisit menjelajahi sifat hubungan mereka, keintiman dan kedalaman rasa sayang di antara Anna dan Marnie terasa dengan jelas.
Meskipun demikian, penjelasan tentang asal-usul Marnie di akhir film sedikit membingungkan.
Sementara hal ini memberikan dimensi tambahan pada karakter Marnie, hal tersebut juga mengurangi ketegasan film dalam menjelajahi hubungan Anna dan Marnie dengan lebih mendalam.
Penggambaran hubungan mereka mungkin lebih kuat tanpa penjelasan yang berlebihan tentang latar belakang karakter.
Secara keseluruhan, "When Marnie Was There" adalah sebuah film yang mengharukan, dan mengeksplorasi tema-tema kompleks seperti kecemasan sosial, kesepian, dan persahabatan.
Meskipun memiliki kekurangan tertentu, film ini tetap menjadi penutup yang indah bagi era Studio Ghibli, dan meninggalkan kesan yang mendalam pada para penontonnya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ulasan Buku The Art of Stoicism, Misi Pencarian Makna tentang Kehidupan
-
Fenomena Job Hugging, Tanda Loyalitas atau Karier Stagnan?
-
Mengubah Hobi Jadi Gaya Hidup Sehat Lewat Olahraga Futsal
-
Futsal dan Tren Urbanisasi: Solusi Ruang Terbatas di Lingkup Perkotaan
-
Bukan Sekadar Hobi, Futsal sebagai Investasi Kesehatan Jangka Panjang
Artikel Terkait
-
Serial Avatar: The Last Airbender Siap Lanjut ke Musim Kedua dan Ketiga
-
Dinginnya Jatuh Cinta dalam Anime The Ice Guy and His Cool Female Colleague
-
4 Pesan Motivasi Hidup yang Didapat dari Film Netflix My Name Is Loh Kiwan
-
Review Film 'Sweet & Sour', Rumitnya Hubungan Romansa Jarak Jauh
-
Review Anime Blue Period: Perjalanan Seni dan Kehidupan yang Menginspirasi
Ulasan
-
Film We Bury the Dead: Duka di Tanah Penuh Zombie yang Mengerikan!
-
Drama China A Romance of the Little Forest: Cinta Tumbuh Seperti Tanaman
-
Buku Sehat Setengah Hati, Cara Mudah Memperbaiki Pola Hidup
-
Film Jay Kelly: Sebuah Drama Komedi yang Hangat dan Mendalam
-
Tragedi Berdarah di Balik Kelamnya Janur Ireng: Sewu Dino The Prequel