Søren Kierkegaard adalah salah seorang filsuf aliran eksistensialisme yang banyak membahas makna dari eksistensi manusia lewat buku-bukunya.
Pembahasan mengenai eksistensi manusia ini sebenarnya adalah sesuatu yang penting. Mengingat pencarian kita akan arti diri kita dalam kehidupan ini adalah salah satu hal yang membuat hidup itu bermakna.
Tapi bagi masyarakat awam, rasanya amat sulit untuk mengakses bacaan filsafat yang mudah dipahami dan bisa diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Namun saya kemudian menemukan buku yang secara khusus membahas rangkuman pemikiran dari beberapa pemikiran Kierkegaard yang tertuang dalam satu judul, yakni 'Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri.' Buku ini ditulis oleh Thomas Hidya Tjaya yang merupakan seorang dosen filsafat.
Adapun pembahasan utama dalam filsafat Kierkegaard adalah bagaimana kita bisa mengenal dan menjadi diri sendiri. Namun, tentu bukan perkara mudah untuk memastikan bahwa hidup kita tetap otentik dengan nilai-nilai pribadi yang kita anut.
Terlebih, menurut Kierkegaard, saat seseorang sudah berada dalam kerumunan kelompok amatlah sulit untuk menjaga identitas dirinya agar tidak melebur dalam kerumunan tersebut.
Adapun dalam aliran filsafatnya, Kierkegaard amat terpengaruh dengan pemikiran filsafat Hegel. Tapi di satu sisi, buku ini menjelaskan betapa Kierkegaard juga sering mengkritik pemikiran dari Hegel.
Buku ini menjelaskan secara gamblang bagaimana Kierkegaard amat menentang ketidakotentikan hidup maupun kepalsuan yang sering menutupi identitas sejati dari seorang manusia.
Tentu pemikiran Kierkegaard itu muncul tak lepas dari banyaknya krisis yang ia lalui dalam hidup. Mulai dari menerima pengasuhan yang keras dan otoriter dari ayahnya, memutuskan keluar dari kampus yang bergengsi dan menjalani hidup sesuai dengan yang dia inginkan, ia yang menyangka bahwa dirinya akan mati muda karena suatu penyakit, hingga keputusannya untuk mengakhiri pertunangan dengan kekasihnya.
Banyak keputusan-keputusan sulit yang diambil oleh Kierkegaard. Namun tampaknya, hal itulah yang membawanya pada pemahaman akan pentingnya keberanian untuk mengambil pilihan-pilihan hidup dengan kesadaran penuh.
"I choose, therefore, I exist" (Kierkegaard, Halaman 156)
Menurut Kierkegaard, kita semua punya kebebasan untuk menemukan potensi terbaik kita, dan menjadi diri yang otentik. Ada kalanya, larut dalam sebuah sistem atau kerumunan lambat laun akan membuat kita kehilangan jati diri. Atau malah tenggelam dalam arus yang membuat kita tidak lagi bisa menunjukkan siapa diri kita.
Pada intinya, filsafat Kierkegaard tentang eksistensialisme berisi anjuran untuk memiliki keberanian menjadi diri sendiri, memiliki komitmen, dan hidup dengan dipenuhi hasrat akan kebenaran secara subjektif. Dengan cara tersebut, seorang manusia akan mampu mencapai kehidupan yang otentik.
Demikianlah ulasan singkat mengenai Buku Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri. Jika kamu tertarik untuk mempelajari eksistensialisme secara lebih lanjut, buku ini bisa menjadi bacaan pilihan!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Air Susu Ibu: Benarkah Depresi Diturunkan ke Anak Melalui ASI?
-
Prinsip Pertama Lazy Genius untuk Bantu Otak Istirahat: Putuskan Sekali
-
3 Rekomendasi Buku tentang Perjuangan Guru, Mengharukan dan Menginspirasi
-
Ulasan Novel Harry Potter 7: Akhir Hidup Voldemort yang Tragis
-
Home Sweet Loan: Perjuangan Milenial Mencari Hunian di Tengah Keterbatasan
Ulasan
-
Review Juvenile Justice: Sebuah Pengungkapan Kasus Brutal pada Remaja
-
Ulasan Uncle Samsik: Potret Korea Selatan di Ambang Krisis Politik 1960
-
Satu Makan Siang dan Kenangan Cinta Pertama di Buku Makan Siang Okta
-
Sekolah Bukan Pabrik Nilai, Melainkan Tempat Menumbuhkan Potensi
-
Pintar tapi Tidak Bermoral? Inilah Alasan Mengapa Kecerdasan Bukan Jaminan Kebaikan
Terkini
-
Tim Favorit Justru Paling Tertekan di Piala Dunia 2026, Benarkah?
-
Sinopsis Film Sihir Tanah Kubur: Teror Mistis Menggugat Iman dan Keluarga
-
Di Balik Ban Kapten, Ada Sisi Psikologi yang Menentukan Nasib Sebuah Tim
-
Elite Force Tayang 22 Juli, Serial Netflix Angkat Operasi Antiteror GIGN
-
Satu Program, Seribu Panggung: Jejak Narasi MBG dalam Pidato Prabowo