Bagi kebanyakan orang, menjalani hobi adalah salah satu bentuk aktivitas yang dapat menjadi pelarian ketika hidup terasa membosankan.
Setiap orang tentu punya caranya masing-masing dalam merealisasikannya. Mulai dari menjalani aktivitas menyenangkan yang sederhana, misalnya bernyanyi, membaca buku, atau sekedar jogging di pagi hari.
Ada pula yang rela menjalani hobi dengan menghabiskan budget yang tidak sedikit, seperti travelling ke berbagai tempat, atau mengoleksi benda-benda berharga.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan kecenderungan dalam memiliki hobi tertentu. Namun hal tersebut bisa menjadi bumerang yang berbahaya mana kala hobi menjadi obsesi yang berlebihan.
Sebagaimana yang dialami oleh John Gilkey, seorang lelaki bibliofil yang saking cintanya pada buku, bahkan rela menggadaikan kebebasannya demi mewujudkan impian untuk membangun sebuah perpustakaan besar.
Bagi para pencinta buku ataupun orang-orang yang memiliki hobi membaca dan mengumpulkan buku-buku yang berkesan, apa yang dilakukan oleh Gilkey sebenarnya adalah hal yang wajar.
Tapi, yang membuat Gilkey terkesan gila dengan obsesi besarnya pada buku adalah kecenderungannya untuk melakukan apapun untuk mendapatkan buku yang ia incar. Termasuk dengan cara mencuri di sejumlah toko-toko buku yang ia datangi.
Sebagai pembaca, yang membuat saya tidak habis pikir adalah sikapnya yang sama sekali tidak pernah merasa bersalah dengan semua bentuk kecurangan yang ia lakukan.
Hal tersebut bisa terlihat dari bagaimana ia menuturkan sejumlah aksinya kepada detektif yang mewawancarai kasusnya.
Sepanjang membaca buku karya Allison Hoover Bartlett ini, saya dibuat greget dengan penuturan cerita mengenai Gilkey si pencuri buku yang ternyata merupakan kisah nyata ini.
Saya pikir, apa yang terjadi pada Gilkey hanyalah bentuk dari sebuah obsesi yang berlebihan terhadap kepemilikan buku.
Ia menganggap bahwa buku-buku yang ia miliki secara tidak langsung menjadi representasi dari pengetahuannya.
Padahal, dalam beberapa dialog, ia mengungkapkan bahwa sebenarnya ia tidak membaca semua buku yang ia kumpulkan.
Ia tidak begitu tertarik dengan isinya. Hanya saja, memiliki banyak koleksi buku langka maupun buku-buku yang mahal bisa membangkitkan harga dirinya.
Selain kisah mengenai sepak terjang Gilkey dalam melakukan pencurian, buku berjudul 'The Man Who loved Books Too Much' ini juga memaparkan banyak hal-hal menarik tentang fenomena yang terjadi di kalangan para pencinta buku, hingga berbagai pengetahuan tentang buku-buku maupun berbagai teks dan manuskrip berharga.
Bagi kamu yang ingin memupuk kecintaan dalam membaca, atau mungkin seseorang yang juga memiliki hobi baca buku, kisah Gilkey dalam 'The Man Who Loved Books Too Much' ini adalah salah satu buku yang wajib masuk dalam daftar bacaanmu!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
Artikel Terkait
-
Ikuti Perjalanan Hampa Kehilangan Kenangan di Novel 'Polisi Kenangan'
-
Janji Tak Mangkir Lagi! Hasto Kristiyanto akan Penuhi Panggilan KPK Soal Kasus Suap DJKA
-
3 Novel Legendaris Karya Penulis Indonesia, Ada Gadis Kretek hingga Lupus
-
Ulasan Novel 'Into The Water', Kolam Penenggelaman yang Penuh Teka-Teki!
-
Super Tebal, Berikut 4 Rekomendasi Buku Bantal Lebih dari 800 Halaman!
Ulasan
-
Ulasan Film Seni Merayu Tuhan: Refleksi Sunyi Anak Muda Mencari Arah Hidup
-
Review Kung Fu Soccer: Terlalu Absurd Disebut Film Tentang Sepak Bola, Apakah Layak Ditonton?
-
Film Na Willa dan Masa Ketika Masalah Terbesar Hanya Tak Bisa Bermain
-
Novel White Wedding: Ketika Warna Putih Menjadi Simbol Luka dan Kebahagiaan
-
Ulasan Red Swan: Kisah Kehidupan Elite yang Dibangun dari Perebutan Kuasa
Terkini
-
Dentuman Sound Horeg di Kuburan dan Masjid: Hiburan atau Sudah Kelewat Batas?
-
Bli Nyoman dan Desa Les: Ketika sebuah Desa Tumbuh tanpa Kehilangan Akarnya
-
Dari Party ke Padel, Cara Gen Z Mengubah Arti Nongkrong
-
Nyoman Nadiana dan Perjuangan Menghidupkan Desa Les untuk Masa Depan
-
Merayakan Kemerdekaan?