Bagi Kiai M. Faizi, jalan raya merupakan tempat menguji kesetiaan, kejujuran, dan kesabaran. Setiap naik angkutan umum, terlebih bus yang melaju di area Jawa dan Madura, tak lepas dari rekamannya.
Ia tulis detail warna bus, kondisi mesin, plat nomor, karakter supir dan kenek, situasi penumpang, serta keriuhan. Ia abadikan semuanya sehingga menjadi perjalanan yang bernilai ilmiah dan membekas di benak pembaca.
Maka, cocok sekali jika ia memilih judul Ruang Kelas Berjalan untuk catatan perjalanannya ini, sebab ia membayangkan bus sebagai madrasah atau sebuah ruang kelas di dalam satu madrasah.
Cerita-cerita perjalanan yang ia rekam berbeda dengan cerita perjalanan wisata yang umumnya mengulik destinasi semata. Di dalam buku terbitan Basabasi ini, Kiai M. Faizi menulis peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam rentang perjalanan ke tujuan tersebut.
Tiada lain, hasrat terbesar yang ia harapkan adalah bagaimana nilai-nilai kemanusiaan yang terdapat dalam catatan perjalanan ini menjadi lebih berharga. Kenapa catatan perjalanan naik bus yang ia pilih? Kok bukan catatan perjalanan naik mobil pribadi, angkutan umum pesawat udara, kereta api atau yang lain?
Sebab, menurutnya perjalanan naik bus seringkali lebih dramatis daripada naik kendaraan angkutan umum lainnya, seperti kereta api, pesawat udara, atau kapal penumpang. Perjalanan naik bus lebih menantang daripada mengendarai angkutan umum lainnya.
Ngerem mendadak, menyalip, atau bahkan adu kambing dengan kendaraan lain, tidak dapat dirasakan saat naik alat transportasi lain selain bus. Kereta api tidak pernah balapan. Pesawat udara tidak pernah ngerem mendadak. Kapal pun tidak pernah adu kambing.
Karena di dalam bus juga, kehidupan manusia lebih dinamis. Bukan saja bus mengangkut banyak orang dengan pola pikir dan watak yang beragam, melainkan pula karena bus harus melewati banyak persoalan, seperti keserampangan lalu lintas, pungli di jalan, medan yang buruk, jalan tikus, kemacetan, dan peristiwa-peristiwa lain selama dalam perjalanan.
Peristiwa-peristiwa yang Kiai M. Faizi tangkap selama dalam perjalanan, seperti pengendara yang gemar menyalip tanpa mau mengalah dan padatnya pengguna jalan, membuatnya tiba-tiba membayangkan kematian yang mengerikan.
Terbayang kematian berkelebat begitu saya melihat perempatan jalan itu mulai ramai dan lalu lintas mulai padat. Sepeda motor, gerobak, becak, pejalan kaki, semuanya kelihatan tergesa-gesa. Kiranya kecelakaan lalu lintas bukan saja disebabkan oleh pelanggaran semata, melainkan juga oleh sikap tak mau mengalah dan hilangnya rasa sabar.
Ia pun berandai-andai: andaikan orang tidak tergesa-gesa, andaikan manusia memanfaatkan angkutan massal jika itu memungkinkan daripada naik mobil pribadinya sendirian, andaikan pemerintah mengelola angkutan umum dan massal demi kenyamanan transportasi dan demi mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, dan andaikan pelalu lintas membunyikan klakson seperlunya saja, tentu jalan raya akan lebih ramah dan menyenangkan, tidak begitu berisik dan menyeramkan.
Demikianlah garis besar isi buku catatan perjalanan ini. Teramat banyak peristiwa unik yang ia rekam, semisal kebiasaan penumpang yang naik bus dari tepi jalan. Umumnya mereka akan naik, duduk, membetulkan letak tas, lantas mengeluarkan gawai, pencet-pencet, bayar tiket, dan main gadget lagi. Dan lain seterusnya.
Selamat membaca!
Identitas Buku
Judul: Ruang Kelas Berjalan
Penulis: M. Faizi
Penerbit: Basabasi
Cetakan: I, Juli 2018
Tebal: 292 halaman
ISBN: 978-602-5783-11-1
Baca Juga
-
Rilis di Tiongkok, Vivo Y500i Ditenagai Baterai 7200 mAh dan Isi Cepat 44W
-
Realme P4 Power Siap Meluncur 29 Januari di India, HP Baru Bawa Baterai Setara Power Bank
-
Oppo A6 5G Meluncur di Indonesia: Baterai 7000 mAh Pengisian Daya Cepat SUPERVOOC 45W
-
4 Rekomendasi Tablet Murah Anti Lemot, RAM 8 GB Harga Mulai Rp 1 Jutaan
-
4 Rekomendasi HP Murah Usung Kamera Optical Image Stabilization, Ambil Foto dan Video Anti Goyang
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Atomic Habits Karya James Clear, Fokus Membangun Sistem
-
Diskusi Para Binatang soal Politik dan BPJS dalam Buku Dongeng Mbah Jiwo Karya Sujiwo Tejo
-
Bangun Mindset Positif dengan Buku Marc Reklau Bertajuk Cara Cepat Melatih Kebiasaan Positif Sehari-hari
-
Menggali Kebijaksaan Hidup Lewat Buku Celoteh Gus Dur
Ulasan
-
Novel 14 Days Isabella: Seni Mencintai Diri di Tengah Keluarga yang Retak
-
Kejujuran yang Diadili: Membaca Absurditas dalam 'Orang Asing' karya Albert Camus
-
Review Never Back Down (2008): Film dengan Latar Belakang Seni Bela Diri Campuran!
-
Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'
-
Tanah Gersang: Kritik Tajam Mochtar Lubis Tentang Moral di Ibukota
Terkini
-
4 Serum Skin Barrier Panthenol untuk Kulit Sehat Bebas Iritasi dan Redness
-
Kertas Usang di Pabrik Konveksi
-
Bahaya Paylater dan Present Bias: Mengapa Kita Sulit Menabung Setelah Gajian?
-
Ketika Guru Jadi Pilihan Terakhir: Krisis Talenta dan Masa Depan Pendidikan Indonesia
-
Reuni Impian Penggemar! Park Seo Joon, Jung Yu Mi, & Choi Woo Shik Gabung Acara Baru dari Na PD