Sebagai seorang seniman, Cak Diqin ternyata cukup mahir mencari inspirasi untuk karyanya. Tidak melulu menggunakan tema patah hati yang itu-itu saja, Cak Diqin lantas menciptakan karya dari nama-nama kereta api di Indonesia. Sepur Argo Lawu judulnya.
Lagu ini bergenre campursari dengan memakai bahasa Jawa Ngoko. Nilai estetika lagu Sepur Argo Lawu tersaji bukan hanya dari pemilihan diksi, melainkan juga pemakaian model parikan atau pantun jawa. Hal ini tentu menambah nilai plus bagi penikmat campursari.
Lagu ini sepertinya memang dibuat untuk bernyanyi duet, karena pembagian lirik. Pada lirik pertama, dinyanyikan oleh penyanyi laki-laki. Berikut liriknya: Sepur, sepur Argo Lawu. Mlayune menyang Jakarta. Ancur, ancure atiku. Bacut edan, kowe ra tresna. (Kereta, kereta api Argo Lawu. Pergi menuju Jakarta. Hancur, hancurnya hatiku. Aku terlanjur sayang, eh kamu nggak cinta.)
Selain kereta Argo Lawu, terdapat juga kereta api Dwipangga, Argo Wilis, Argo Mulya, Argo Anggrek, Argo Bromo, hingga Sri Tanjung, yang digunakan sebagai lirik lagu ini. Tentunya disisipi oleh curhatan hati yang justru terdengar candu dan menimbulkan gelak tawa.
Lagu Sepur Argo Lawu memiliki irama yang riang, meski sejatinya menunjukkan kisah cinta yang tidak semulus drama. Hal ini disebabkan karena tidak mendapat restu orang tua. Ini ditunjukkan dalam lirik: Bukannya aku tak cinta, karena dimarah oleh bapak saya.
Selain itu, lagu ini juga membahas persoalan selera anak dengan orang tua yang seringkali tidak sama. Dimana saat si anak sudah memiliki perasaan yang sama, eh orang tuanya malah menetapkan standar tinggi.
Intinya, lagu ini mengangkat tema yang cukup relate dalam masyarakat. Seperti lirik: Sepure Argo Mulyo, pilihane bapakku sing sugih dunyo (Keretanya Argo Mulyo, pilihan bapakku orang yang kaya raya)
Oleh karena tidak direstuinya hubungan tersebut, lirik lantas menyebutkan keinginan gila yang justru menjadi punchline lagu ini. Sekali lagi, Cak Diqin berhasil membawa gelak tawa.
Wes tak pikir wes tak pethung. Pethuk bapakmu, sesuk tak penthung. (Sudah kupikir, sudah kupertimbangkan. Ketemu bapakmu, besok ku-penthung.)
Kata 'penthung' di sini memiliki makna harfiah 'memukul kepala'. Namun, istilah ini biasa menjadi guyonan dalam bahasa Jawa, meski juga bisa memiliki makna serius, tergantung pada penyampaian dan susunan kalimatnya. Kalau dalam lagu ini sih, sudah pasti hanya sebagai guyonan semata ya.
Terlepas dari itu, pesan dalam lagu ini cukup atau bahkan sangat relate dengan situasi dan kondisi di lapangan lho.
Baca Juga
-
Struktur 'Sawang' dalam Daily Conversation, Kata Kerja atau Kata Benda Sih?
-
My Three Annoying Brothers, Suka Duka Jadi Adek Bungsu Para Cogan Populer
-
Menyimak 'Sepuh': Nggak Hanya Sapaan, Tapi Ada Filosofinya!
-
Kawruh Pepak Basa Jawa: Buku Sakti Mandraguna Sebelum Internet Merajalela
-
Cinta dan Harapan Lintas Generasi dalam Langgam Campursari Caping Gunung
Artikel Terkait
-
Kai EXO Siap Sambut Musim Panas di Teaser Video Musik Lagu 'Adult Swim'
-
Beda Jauh dari Melly Goeslaw, Keluhan Denny Chasmala Usai Dapat Royalti Cuma Rp 5,2 Juta
-
Cara Menambahkan Lagu di Status WhatsApp, Makin Mirip Instagram
-
Terinspirasi dari Kondisi Indonesia, Sule Kenalkan Lagu 'Hey Kamu'
-
Polemik Royalti Lagu, Upaya VISI dan AKSI Mencari Titik Temu
Ulasan
-
First Impression Series 'Leap Day': Saat Ulang Tahun Jadi Kutukan Mematikan
-
6 Rekomendasi Tempat Wisata Viral di Bandung, Cocok untuk Liburan Keluarga
-
Review The Recruit, Aksi Spionase Menegangkan dengan Sentuhan Humor Segar
-
Review Norma - Antara Mertua dan Menantu: Film Selingkuh Menariknya Apa?
-
Ulasan Your Friendly Neighborhood Spider-Man: Fresh, Fun, dan Penuh Aksi!
Terkini
-
4 Drama Korea Terbaru di Netflix April 2025, Dari Thriller hingga Romansa!
-
AI Ghibli: Inovasi atau Ancaman Para Animator?
-
Jadi Ibu Bijak, Ini 5 Tips Kelola Uang THR Anak
-
Hadapi Korea Selatan, Timnas Indonesia U-17 Wajib Raih Minimal 1 Poin
-
5 Rekomendasi Film Baru dari Netflix untuk Rayakan Libur Lebaran 2025