Kasus perundungan di sekolah rasanya masih menjadi masalah yang kerap menghantui sebagian besar pelajar hari ini.
Jika kita membaca berita mengenai kasus perundungan tersebut, tak jarang kita temui sejumlah cerita yang harus berakhir tragis karena ketidakmampuan korban untuk membela diri.
Berdasarkan isu tersebut, Suarcani dengan sangat apik menulis novel teenlit berjudul 'The Boy I Knew From YouTube' yang mengangkat tentang kasus perundungan di kalangan remaja.
Layaknya teenlit pada umumnya, novel ini berangkat dari dinamika kehidupan remaja yang berkutat soal sekolah, persahabatan, hingga kisah romansa.
Berawal dari insiden pelecehan yang dialami oleh Rai, membuat ia kehilangan kepercayaan diri untuk menunjukkan bakatnya di depan umum.
Padahal ia memiliki teknik vokal dan suara yang amat merdu. Sebagai gantinya, ia rajin meng-upload video cover lagunya secara faceless di YouTube dengan nama channel Peri Bisu.
Salah satu hal yang memotivasinya untuk terus berkarya meskipun tidak secara langsung menampakkan wajah adalah channel lain dengan nama Pie Susu.
Channel tersebut berisi permainan gitar fingerstyle dari seorang cowok yang kebetulan adalah kakak kelasnya, Pri.
Pri sangat ahli dalam memainkan fingerstyle. Dan itu membuat Rai begitu kagum dengannya. Diam-diam mereka sering berbalas komentar di channel satu sama lain, kemudian menjadi akrab.
Namun karena merasa insecure, Rai memilih untuk menyembunyikan identitas aslinya. Meskipun pada akhirnya, identitasnya terungkap dan Pri ternyata juga membalas perasaan Rai.
Bahkan, Pri adalah orang yang berada dalam garda terdepan dalam membela dan begitu sigap melindungi Rai dari orang-orang yang menghinanya.
Ia berusaha mengembalikan harga diri Rai, dan menjadi teman yang benar-benar penuh empati.
Insecurity, body shaming, hingga bullying, itulah sejumlah problema yang dialami oleh Rai dalam cerita ini. Sesuatu yang mungkin juga dialami oleh banyak remaja seperti Rai di luar sana.
Novel ini tidak hanya menyajikan romansa yang manis antara Rai dan Pri, tapi juga menunjukkan kepada pembaca bahwa sebenarnya perundungan itu benar-benar harus dilawan.
Dari novel ini, saya juga jadi bisa membayangkan contoh tentang betapa berperannya orang-orang terdekat dalam melindungi korban dari perundungan.
Yang jelas, jika kita terjebak dalam situasi ini, kita tidak boleh diam. Dan menyampaikannya kepada orang yang terpercaya adalah salah satu solusi untuk mengatasinya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rai.
Saya salut dengan orang tua Rai yang dengan sigap mengambil langkah yang tegas bagi pelaku perundungan. Dan juga sikap hangat teman-teman sekelas Rai yang selalu mendukung Rai.
Khususnya Kiki, sahabat Rai yang diawal cerita sempat membuat saya sedikit kesal dengan tingkah nyebelinnya. Tapi di akhir, dia benar-benar menjadi teman yang suportif.
Secara keseluruhan, saya amat menikmati novel ini. Kisah yang ringan, menghibur, bikin nostalgia dengan masa remaja, tapi juga sarat akan pembelajaran.
Bagi kamu yang menyukai novel teenlit, The Boy I Knew From YouTube ini rasanya harus masuk dalam daftar bacaanmu!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Sharing Literasi Keuangan dari Ayah Milenial di Buku Kamu Tidak Sendirian
-
Buku Perjalanan Menerima Diri, Wujudkan Self Love dengan Latihan Journaling
-
Buku Obat Sedih Dosis Tinggi, Refleksi agar Semangat Menjalani Hidup
-
Buku Home Learning, Belajar Seru Meski dari dalam Rumah
-
Buku Broken Strings: Menyelami Trauma Relasi dalam Hubungan Toksik
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku 'Where The Crawdads Sing', Bikin Sedih dan Lebih Memahami Diri
-
Review Novel 'One Day in December', Memahami Arti Kata Cinta dan Asmara
-
Perempuan Bersampur Merah: Mengungkap Luka Tersembunyi Tragedi Santet Banyuwangi dalam Balutan Fiksi
-
Ulasan Novel My Bittersweet Marriage, Perjalanan Pernikahan Tanpa Cinta
-
Ulasan Buku 'The Innocent Man', Sensasi Thriller dalam Kisah Nyata
Ulasan
-
Kejujuran yang Diadili: Membaca Absurditas dalam 'Orang Asing' karya Albert Camus
-
Review Never Back Down (2008): Film dengan Latar Belakang Seni Bela Diri Campuran!
-
Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'
-
Tanah Gersang: Kritik Tajam Mochtar Lubis Tentang Moral di Ibukota
-
Drama China You Are My Hero: Ketika Medis dan Militer Bertemu
Terkini
-
Topeng Arsenik di Pendapa Jenggala
-
Dihubungi John Herdman, Peluang Tampil Sandy Walsh di Timnas Kian Besar?
-
Veda Ega Pratama Debut Moto3: Seberapa Besar Peluangnya Melaju di MotoGP?
-
Preppy Hingga Street Style, Intip 4 Ide OOTD Layering ala Shin Eun Soo Ini!
-
Fetisisme Kesibukan: Saat Lelah Menjadi Simbol Status Sosial