Manusia hidup membutuhkan nasihat. Sebagai sebuah upaya agar hidup yang dijalani tetap dalam koridor agama, tidak menyalahi ketetapan Tuhan. Nasihat juga bisa menjadi penyemangat, khususnya ketika jiwa sedang terasa gundah atau tengah dirundung kesedihan.
Nasihat yang baik tentu saja harus dengan cara-cara yang baik pula. Misalnya, tidak membuat orang yang dinasihati menjadi malu karenanya. Oleh karena itulah, ketika ingin menyampaikan nasihat pada seseorang, harusnya dilakukan secara tertutup, bukan menasihati orang di depan publik. Menasihati orang lain di depan umum sama saja dengan mempermalukannya.
Ada penjelasan menarik yang saya baca dalam buku “Menasihati Tanpa Menyakiti” (Panduan Menasihati Secara Syar’i) karya Abu Muhammad Shu’ailik. Dalam buku terbitan Pustaka Arafah tersebut dijelaskan bahwa nasihat bagi kebaikan seseorang itu ibarat udara bagi tubuh.
Namun, memberi nasihat pada orang lain bukan persoalan mudah. Karena bisa jadi seseorang berniat menasihati saudaranya, namun yang dia lakukan malah mempermalukannya dan mencemoohnya. Oleh karena itu, mengetahui tata cara menasihati seseorang sangatlah penting. Sama pentingnya dengan isi nasihat itu sendiri.
Ada sederet adab yang harus diperhatikan ketika hendak menasihati orang lain yang dibeberkan dalam buku ini. Salah satunya adalah untuk mengharapkan ridha Allah Swt. Jadi bukan karena ada pamrih atau maksud terselubung. Adab menasihati berikutnya adalah tidak dalam rangka mempermalukan orang yang kita nasihati. Misalnya menasihati dengan kata-kata kasar apalagi sampai didengar oleh orang banyak.
Menasihati secara rahasia juga termasuk ke dalam adab ketika ingin menasihati seseorang. Nasihat mestinya dilakukan secara rahasia, sebab orang yang dinasihati adalah seseorang yang membutuhkan penambalan dan penyempurnaan atas kekurangannya. Umumnya, seseorang hanya akan menerima nasihat ketika dia sedang sendirian dan suasana hatinya sedang baik (Menasihati Tanpa Menyakiti, hlm. 33).
Hal yang paling penting ketika ingin memberi nasihat adalah melihat situasi dan kondisi orang yang akan dinasihati. Jangan sampai nasihat yang tujuannya baik itu menjadi sia-sia gara-gara nasihat disampaikan ketika kondisi orang yang dinasihati sedang tidak baik, misalnya sedang dalam kondisi marah atau sedang sibuk.
Buku "Menasihati Tanpa Menyakiti" menarik untuk dibaca dan dikaji. Tujuannya, agar kita tahu lebih dalam tentang tata cara menasihati orang lain. Semoga ulasan ini bermanfaat.
BACA BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Menggantungkan Mimpi 5 cm: Mengokohkan Tekad Setinggi Mahameru
-
Buku 'Rumah Baru dan Hal-Hal Baru', Makna Besar tentang Rumah dan Masa Lalu
-
Buku Esai Sayup Sunyi Suara Kata: Catatan dari Pinggiran Ruang Kelas
-
Kisah 13 Anak dan Dunia Penuh Kehangatan di Novel "Angin dari Tebing 1"
-
Membaca Perjalanan Mustahil Samiam: Sebuah Petualangan Mencari Akar yang Mengusik Logika
Terkini
-
Jebakan Industri Gula Manis: Saat Bahagia Dijual dalam Gelas Plastik
-
Loud Budgeting: Seni Jujur Soal Uang Tanpa Perlu Terlihat Miskin
-
Cerita Pendek untuk Kasih Sayang yang Panjang
-
Sinopsis Mushoran Mitsuboshi, Drama Kuliner Jepang Dibintangi Koike Eiko
-
Atenx Katros Ubah Mio 2003 Jadi Motor Listrik, Tenaga Setara Motor 400 cc!