Teramat banyak perjalanan yang perlu dikisahkan. Sungguh melimpah ayunan langkah yang layak diabadikan. Tak ada maksud lain, tiap perjalanan dicatat semata untuk mengenang pengembaraan dan demi berbagi kisah kepada orang lain.
Begitu pun dengan buku bertajuk Aku Suka Berkemah yang ditulis oleh anak negeri berumur 8 tahun bernama Jihara Mafaza ini. Jihara suka sekali menjelajah ke sudut-sudut alam. Di dalam buku ini Jihara menuangkan kisahnya saat ia dan teman-temannya berkemah ke Gunung Picung, Bogor.
Anak seusia Jihara menulis kisah perjalanannya dengan sebagus ini, layak diapresiasi. Karya ini patut diacungi jempol, sebab sudah tergolong layak konsumsi publik. Isinya bagus, penuturan kisahnya runtut dan mudah dipahami.
Jihara dalam buku terbitan Bhuana Ilmu Populer ini, berbagi kisah mengenai perkemahan dan segala pernak-pernik persiapannya, termasuk kegiatan di bumi perkemahan dan apa yang ia lihat selama berkemah.
Jihara bercerita, suatu waktu ia beserta teman-teman sekolah dan gurunya pernah kemping ke Gunung Picung, Bogor. Sebelum berangkat kemping, Jihara tak lupa sarapan pagi terlebih dahulu. Usai sarapan pagi ia berangkat ke sekolah, sebab sebagaimana instruksi gurunya, titik kumpul mereka di sekolah. Ke sekolah Jihara diantar oleh ayahnya dengan mengendarai sepeda motor.
Jihara membawa ransel yang sangat berat. Isinya banyak sekali, di antaranya sleeping bag, matras, baju ganti, lilin, handuk, mukena, jaket, kaus kaki, perlengkapan mandi, perlengkapan makan, dan botol minum.
Ia dan teman-temannya berangkat dari sekolah ke Gunung Picung dengan menaiki truk TNI Angkatan Laut warna abu-abu. Di dalam truk terdapat kursi panjang, namun Jihara memilih duduk di lantai. Perjalanan yang lumayan lama itu mengakibatkan Jihara mengantuk hingga tertidur.
Sesampainya di Gunung Picung, Jihara dan teman-temannya turun dari truk, lalu berbaris dan menaruh tas di dalam tenda. Matras digelar, sleeping bag dibuka. Sebelum berkegiatan, ia dan teman-temannya mengambil perlengkapan makan, kemudian makan bersama dengan lauk sosis bakar dan kuah tahu kecap.
Selain itu, Jihara berkisah ketika ia dan teman-temannya mendaki ke air terjun di sekitar Gunung Picung. Supaya aman, Jihara pakai sandal gunung dan tak lupa membawa air minum. Selama pendakian ke air terjun, ia menjumpai kincir air, pohon pisang, pohon cemara, pinus, bunga liar, dan tanaman stroberi yang buahnya besar juga manis.
Jihara senang sekali saat sampai di air terjun. Di bawah air terjun yang tinggi sekali itu terdapat dua kolam: besar dan kecil. Airnya sangat jernih dan dingin. Usai main air, ia dan teman-temannya berlomba mencari bunga kecil di semak-semak yang warnanya kuning dan putih.
Pada malam harinya, Jihara, teman-teman dan gurunya menyalakan api unggun. Di api itu, Jihara bakar jagung, lalu belajar menari tarian Itik Pulang ke Kandang. Bersama kesebelas temannya, Jihara kemudian tidur di dalam tenda besar. Ia pakai matras dan sleeping bag agar hangat.
Inilah ulasan buku Aku Suka Berkemah yang memuat kisah Jihara saat berkemah bersama teman-temannya ke Gunung Picung, Bogor. Lewat buku ini, pembaca mengetahui apa saja yang perlu disiapkan untuk berkemah, apa kegiatan dalam perkemahan, serta mengetahui kondisi alam di sekitar Gunung Picung, Bogor. Selamat membaca!
Identitas Buku
Judul: Aku Suka Berkemah
Penulis: Jihara Mafaza
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: I, Juli 2018
Tebal: 36 Halaman
ISBN: 978-602-455-647-1
Baca Juga
-
4 Rekomendasi HP dengan Memori Internal 1 TB 2026, Leluasa Menyimpan File Besar dan Aplikasi Berat
-
Infinix Note 60 Pro Siap Meluncur ke Indonesia, Usung Desain Mirip iPhone 17 Pro
-
Vivo India Umumkan iQOO 15R Debut 24 Februari 2026, Usung Sensor Kamera Sony LYT-700V 50 MP
-
4 Rekomendasi HP Murah RAM 8 GB Penyimpanan Internal 256 GB, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Oppo Find X9s Usung Chipset Dimensity 9500s dan Kamera 200 MP, Segera Rilis dalam Waktu Dekat
Artikel Terkait
Ulasan
-
Romansa Enemies to Lovers di Novel Act of Money Karya Dinda Delvira
-
Keteguhan Perempuan dalam Sunyi: Membaca Realisme Sosial dalam Novel Mirah
-
Sianida di Balik Topeng Kesopanan Bangsawan Inggris dalam An English Murder
-
Jeng Yah dan Perlawanan Sunyi Merebut Ruang Sejarah dalam 'Gadis Kretek'
-
Terluka Bertubi-tubi di Novel Asavella Karya Alfida Nurhayati Adiana