Hayuning Ratri Hapsari | M. Fuad S.T.
Pertandingan antara PSIR Rembang melawan Persak Kebumen (Instagram PSIR Rembang)
M. Fuad S.T.

Nasib yang sangat buruk harus diterima oleh salah satu klub peserta Liga 4 Indonesia, PSIR Rembang.

Imbas beragam insiden dan kerusuhan yang terjadi saat menjamu Persak Kebumen dalam lanjutan babak semifinal leg kedua Liga 4 regional Jawa Tengah pada 12 Februari 2026 lalu, tim yang berasal dari pesisir ujung timur Provinsi Jawa Tengah tersebut harus rela mendapatkan sanksi berganda dari PSSI Jawa Tengah.

Seperti yang dilansir laman Suara.com (15/2/2026), tim berjuluk Laskar Dampo Awang tersebut selain mendapatkan sanksi berupa hukuman kepada para pemain yang terlibat, pengenaan denda hingga Rp45 juta, juga mendapatkan hukuman harus menggelar laga tanpa penonton di pertandingan kandang mereka.

Bahkan yang lebih menyakitkan, PSSI Jawa Tengah juga menetapkan hukuman diskualifikasi kepada PSIR Rembang dari keikutsertaannya di Liga 4 musim ini. Dengan demikian, status PSIR Rembang sebagai salah satu tim peserta putaran Liga 4 Nasional juga dicabut dan membuat mimpi mereka untuk bisa promosi ke kasta yang lebih tinggi menjadi musnah.

Namun, di balik nasib nahas yang kini dialami oleh PSIR Rembang, terpampang sebuah fakta yang cukup menyedihkan. Dari rangkaian peristiwa yang tercipta sebelum turunnya sanksi tegas kepada Laskar Dampo Awang ini, kita disuguhi dengan sebuah kenyataan pahit bahwa sejatinya inilah gambaran yang sebenarnya dari persepakbolaan dalam negeri.

Patut kita garis bawahi, sebelum PSIR Rembang ini mendapatkan sanksi tegas berupa diskualifikasi dari liga, kita sudah disuguhkan dengan kenyataan terkait dengan kepemimpinan wasit yang bermasalah, etika bertanding para pemain yang rendah, dan manajemen emosi para pendukung yang masih lemah.

Bukan hanya di Liga 4 saja wajah-wajah permasalahan ini muncul, namun sering pula muncul di liga-liga dengan kasta yang lebih tinggi di negeri ini.

Namun, tentu saja dengan intensitas yang berbeda. Indonesia Super League yang menjadi puncak piramida dalam hierarki kompetisi sepak bola di negeri ini, memiliki intensitas permasalahan yang tentunya paling minim. Tetap ada, namun tak banyak.

Sementara semakin ke bawah, permasalahan yang melibatkan kepemimpinan wasit, mental bertanding pemain, dan provokasi suporter, semakin membesar karena sorotan khalayak luas yang semakin menipis.

Dalam pandangan saya pribadi, wajah sebenarnya dari persepakbolaan Tanah Air masih terwakilkan dalam nasib nahas yang dialami oleh PSIR Rembang ini. 

Kulminasi emosi dari para pemain yang belum mampu mengatur emosi dengan baik, kedewasaan suporter yang masih lemah dan hanya memiliki mindset timnya harus menang, hingga kepemimpinan wasit yang sangat debatable dan "banyak bocor" menjadi tiga hal yang mewakili gambaran nyata terkait kondisi permasalahan di persepakbolaan dalam negeri saat ini.

Sebuah gambaran nyata yang tentunya akan sangat sulit untuk dihilangkan, mengingat tradisi egosentris tinggi yang berorientasi pada kebenaran pandangan pribadi masing-masing masih menjalari sebagian besar pelaku sepak bola di negeri ini.

Pada faktanya, patut untuk dicatat, perilaku seperti ini tak hanya bisa terjadi di laga yang dimainkan oleh PSIR Rembang dan Persak Kebumen, namun juga selalu ada potensi untuk terjadi di level yang lebih tinggi termasuk di kasta Indonesia Super League sekalipun.