Kepercayaan adalah salah satu modal utama dalam menjalin persahabatan. Ikatan yang tumbuh kuat dari rasa percaya terhadap sahabat bisa terputus, jika salah satu pihak menghancurkan kepercayaan yang diberikan.
Seperti itulah yang terjadi dalam novel Friendklops, novel kelima karya dari Sara Tee dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2015. Novel lainnya karya penulis antara lain berjudul: The Jacket, Mamamo, Miss Clean, dan Facelove.
Dikisahkan tentang Vena, gadis yang baru duduk di bangku SMA. Didikan sang ayah yang keras dan berambisi menjadikan Vena penerus perusahaan periklanan miliknya, membuat Vena tumbuh menjadi gadis introvert dan cenderung kaku.
Tak ada yang mau berteman bahkan duduk sebangku dengan Vena, demi melihat sikap gadis itu yang dingin dan tanpa senyum. Sampai datang siswa baru yang langsung menempati bangku di sebelah Vena.
Asti, nama gadis itu. Gadis periang, supel, dan selalu berupaya mengajak Vena mengobrol. Tingkah sok akrab Asti dan caranya memamerkan trik sulap agar Vena terkesan, lama-lama membuat Vena menerima kehadiran Asti.
Mereka menjadi sahabat. Asti juga mendukung impian Vena yang ingin menjadi penulis. Tantangan terbesar datang dari ayah Vena, yang selalu mengontrol kehidupan putrinya dan menganggap sampah segala hal yang berhubungan dengan literasi.
Di lain sisi, Vena tidak mengetahui jika Asti, sahabat yang ia percaya berbagi mimpi-mimpinya, ternyata menyembunyikan rahasia besar tentang diri dan keluarganya.
Mampukan Vena meluluhkan hati sang ayah agar menerima impiannya? Bagaimanakah sikap Vena setelah mengetahui kebohongan Asti yang dikabarkan Cory, gadis yang terang-terangan membenci Asti?
Asti pernah bilang bahwa jalan menuju kesuksesan tak pernah mudah. Tapi jika kita melepaskan impian, maka seumur hidup kita akan menyesalinya. Kita harus setia pada impian dan berusaha mewujudkannya. (Hal. 98)
Menggunakan alur maju, cerita bergerak dinamis mulai dari kehidupan Vena yang penuh tekanan dari sang ayah, persahabatannya dengan Asti, sampai timbul beberapa konflik yang merenggangkan hubungan antara Vena dan sang ayah juga Vena dan Asti.
Konflik ceritanya sendiri berlapis. Konflik utama, perihal penolakan ayah Vena atas impian anaknya. Ambisi sang ayah yang menginginkan Vena meraih prestasi akademik terbaik, sampai perjuangan Vena untuk membuktikan bahwa menjadi penulis pun bisa membanggakan orangtuanya.
Konflik pendukung, tentang jati diri Asti dan keluarganya, pekerjaan rahasia yang kerap membuat Asti babak belur, sampai konfliknya dengan Cory, mantan sahabat yang berbalik membenci Asti, karena kejadian di masa lalu.
Karakteristik para tokoh utamanya cukup kuat dan berkembang seiring berjalannya cerita. Vena yang semula introvert, dingin, kaku, dan cenderung angkuh, berubah menjadi lebih terbuka, penuh senyum, apalagi ketika mulai menikmati dunia kepenulisan.
Asti yang sedikit tomboi, periang, supel, dan menyimpan banyak rahasia dan kesedihannya sendiri, pada akhirnya mulai berani terbuka dan mau berbagi masalahnya terhadap Vena dan juga Lukman, teman sekelas yang naksir dan ditaksir Asti.
Meskipun sebagian besar cerita dalam novel Friendklops adalah tentang persahabatan, tapi ada sedikit kisah cinta yang diselipkan antara Asti dan Lukman serta Vena dan Ricky. Sayangnya, ending kisah cinta mereka yang baru tumbuh tersebut tidak dijelaskan dalam cerita, mungkin karena bukan poin utama.
Selain itu novel Friendklops juga mengajak para pembacanya untuk berani memperjuangkan cita-cita dan impian, menghormati keinginan orangtua, menjaga kepercayaan dalam ikatan persahabatan.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Resensi Novel Lari dari Pesantren: Sebuah Renungan dari Kisah Dua Santri
-
Menyimak Kisah Cinta Pengacara dan Kliennya dalam Railway in Love
-
Ulasan Novel Les Masques, Tiga Alter Ego dalam Satu Jiwa
-
Resensi Novel 'Misteri Chiroptera Penculik': Kasus Hilangnya Anak-Anak Mekarwangi
-
Ulasan Novel Jodoh untuk Naina, Badai Pernikahan dari Masa Lalu
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku 'Seseorang di Kaca', Refleksi Perasaan terhadap Orang Terkasih
-
Heboh Beredar Buku Gibran The Next President, Effendi Gazali: Waktunya Terburu-buru, Harusnya Sabar Saja
-
Resensi Novel Lari dari Pesantren: Sebuah Renungan dari Kisah Dua Santri
-
Ulasan Novel Hujan Karya Tere Liye: Menemukan Harapan di Tengah Kesedihan
-
Buku Gibran The Next President Bikin Geger Publik, Said Didu: Ini Keinginan yang Sedang Dipersiapkan
Ulasan
-
Ulasan Film Raatchasan: Mengungkap Pelaku Pembunuh Berantai Para Remaja
-
Ulasan Buku 'Seseorang di Kaca', Refleksi Perasaan terhadap Orang Terkasih
-
Resensi Novel Lari dari Pesantren: Sebuah Renungan dari Kisah Dua Santri
-
Ulasan Film The Blackout: Pemadaman Listrik Misterius di Seluruh Bumi
-
Ulasan Film Thailand Ghost Lab, Premis Ciamik, Ending Kurang Menarik
Terkini
-
Calvin Verdonk Jadi Bek Kanan di Klub, Bisa Jadi Solusi Bagi Shin Tae-yong di Timnas Indonesia?
-
4 Inspirasi Gaya Kasual Chaeryeong ITZY yang Simpel, Cocok Jadi Daily OOTD!
-
Meski Targetkan Partai Final di Piala AFF 2024, tapi Pencinta Timnas Tak Boleh Terlalu Berharap
-
Piala AFF Futsal 2024: Vietnam Takut Bertemu Indonesia di Babak Semifinal
-
Kepuasan Publik terhadap Kinerja Erick Thohir di PSSI Capai 94,5 Persen