Scroll untuk membaca artikel
Hikmawan Firdaus | Ranti Riani Jhonnatan
Cover buku The War that Saved My Life (Gramedia Digital)

Ketika seorang anak lahir, ada orangtua yang melimpah hatinya dengan kebahagiaan. Namun tak dapat dipungkiri, tak semua orangtua akan merasakan kebahagiaan yang tak berbendung itu. Tak terkecuali ibu dari Ada, tokoh utama dalam buku The War that Saved My Life yang memiliki kaki pekuk yakni kondisi di mana satu atau kedua kaki melengkung ke bagian dalam.

Berlatar tempat di London, kehidupan Ada berada di masa Perang Dunia II. Memang kekhawatiran di mana-mana disebabkan perang yang tengah berlangsung, namun di saat yang bersamaan, saat itulah kesempatan bagi Ada untuk memiliki kehidupan yang layak muncul. Sebelumnya, hari demi hari kehidupannya memiliki gerak yang terbatas. Bukan hanya karena kaki pekuknya namun juga disebabkan oleh ibunya sendiri. Ada hanya dapat duduk di dekat jendela sambil melihat dan menyapa orang yang berlalu-lalang. Dirinya tidak diperbolehkan keluar bahkan untuk sekadar buang air kecil.

Bukan tanpa alasan ibunya mengurung dirinya seperti itu. Ibu Ada tidak ingin Ada diketahui oleh masyarakat karena baginya Ada dan kaki pekuknya adalah sebuah aib. Banyak dari perkataan sang ibu mengendap dalam diri Ada dan bercokol, mendoktrin pikirannya bahwa dirinya memang seburuk apa yang ibunya sampaikan. Perlakuan buruk yang diterima dari ibunya bukan hanya sebatas lontaran kalimat yang buruk, melainkan juga kekerasan fisik. Memukul dan menghukum dengan mengurung Ada di dalam lemari di bawah bak cuci piring pun turut dilakukannya. Tak ada ruang bagi Ada untuk bersuara, kecuali hardikan yang diterimanya. 

Setelah berhasil melarikan diri dan melewati perjalanan yang melelahkan, akhirnya Ada dan Jamie, adik laki-lakinya yang sangat ia sayangi tinggal bersama Susan, seorang wanita yang pada mulanya keberatan dengan kehadiran mereka karena suatu alasan. Namun siapa sangka seiring berjalannya waktu, di antara ketiganya berhasil tumbuh ikatan yang kuat. Saya menyenangi tokoh Susan yang benar-benar mengusahakan yang terbaik untuk Ada dan Jamie. Bukan hanya mengenai makanan dan tempat tinggal, tapi juga kasih sayang dan perhatian akan kaki pekuk Ada.

Membaca buku ini membuat perasaan saya campur aduk. Marah, jengkel, sedih dan senang bercampur menjadi satu dalam mengikuti ritme kehidupan Ada, Jamie dan Susan. Perubahan yang bukan hanya terkait kota yang berbeda, tapi juga aturan, adab, makanan hingga perhatian membutuhkan waktu bagi ketiganya untuk beradaptasi. Maka dari itu, ketika membaca buku ini saya sempat merasa jengkel akan tingkah Ada dan Jamie terhadap Susan. Sikap dan perkataan yang seperti tidak menghargai usaha dan perhatian yang diberikan oleh Susan. Namun jika ingin dilihat ke belakang, sikap dan perkataan mereka bisa dikatakan merupakan bentuk dampak dari bagaimana ibu mereka memperlakukan keduanya.

Tak bisa ditampik, saya juga merasa sedih melihat Ada yang kesulitan menerima kalimat dan perlakuan yang baik, melihat ia ketakutan akan kembali ke kehidupannya yang lalu dan selalu waspada khawatir akan menerima pukulan. Reaksi tubuhnya merupakan dampak dari kejadian traumatis yang dilaluinya. Tinggal bersama Susan, saya senang Ada dan Jamie dapat melakukan kegiatan yang mereka senangi, mengenal pendidikan, belajar banyak hal dan mengajukan pertanyaan tanpa harus disambut dengan respon yang buruk.

The War that Saved My Life karya Kimberly Brubaker Bradley bukan hanya menunjukkan dengan jelas kepada saya bagaimana fatalnya efek dari kata-kata kasar dan membuat saya kembali mengokohkan pengingat diri akan pentingnya menjaga lisan, namun juga mengajarkan penerimaan diri, mendefinisikan kembali hal seperti apa yang sebenarnya bisa dikatakan aib dan juga tentang rumah dan kasih sayang. Perasaan diterima dan disayang tak terbatas hanya akan didapat dari orangtua karena di luar sana terdapat pula anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtua mereka sendiri. Maka dari itu, perasaan tersebut bisa saja datang dari mereka yang mungkin tidak terdapat ikatan darah.

Memiliki terjemahan yang nyaman untuk dibaca, buku yang memiliki halaman sebanyak 256 halaman ini mempunyai buku lanjutan yang berjudul The War I Finally Won. Jika kamu membutuhkan bacaan dengan genre middle grade dan memiliki campuran genre historical fiction yang menyoroti kehidupan anak-anak, maka The War that Saved My Life dapat menjadi pilihan yang tepat. Masuk ke dalam kehidupan Ada yang getir dan jalan yang berbatu-batu dan meresapi kisahnya berhasil membuat saya menjadikan buku ini salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. 

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.

Ranti Riani Jhonnatan