Sejatinya kita tak mengetahui siapa yang akan meninggalkan dunia ini terlebih dahulu karena kematian, bukan hanya untuk dia yang telah memasuki usia senja atau yang menderita suatu penyakit. Namun, bagaimana perasaanmu ketika kamu mengetahui bahwa ibumu menderita kanker stadium akhir, di saat yang bersamaan kamu melihat malaikat pencabut nyawa berkeliaran di sekitarnya?
Itulah yang dialami oleh Enrik, tokoh utama dalam buku Milk Cotton and the Gang karya Akaigita yang melihat Rembrandt, sang malaikat pencabut nyawa berada di dalam rumah ibunya yang bernama Nurmala sambil membantu sang ibu merajut.
Milk Cotton and the Gang mengangkat kisah hubungan anak laki-laki dengan ibunya. Keduanya tidak bisa dikatakan memiliki hubungan yang harmonis disebabkan kejadian-kejadian di masa lalu. Enrik yang telah berkeluarga tinggal di kota yang berbeda dengan ibunya. Namun, setelah hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ibunya mengidap kanker stadium akhir, Enrik beserta keluarga kecilnya pindah ke kampung halaman Enrik untuk tinggal bersama ibunya agar dapat lebih maksimal dalam merawat sang ibu.
Karena itu pula, berarti dirinya harus berhenti bekerja dan disebabkan kebutuhan terus berjalan. Ia dan istrinya berdiskusi mengenai hal ini hingga diputuskan bahwa Kelly akan kembali bekerja dan Enrik yang akan merawat ibunya sambil mengurus rumah dan anak mereka yang bernama Layla.
Hubungan Enrik dan ibunya cukup pelik yang mana ini bukan murni hanya antara mereka berdua saja, tapi juga ke menantunya yakni Kelly. Rasanya semua hal selalu salah di mata ibunya Enrik. Memiliki tuntutan yang membebani keluarganya, namun di saat mereka telah berusaha, apa yang mereka usahakan tidak mendapatkan respons yang baik.
Begitu mengetahui dirinya mengidap kanker, ibu Enrik mengkhawatirkan nasib usaha rajutannya mengingat baik Enrik maupun Kelly tidak bisa merajut. Saat inilah karena melihat kedekatan sang ibu dan Rembrandt yang mahir merajut berhasil memantik semangat Enrik untuk belajar karena dirinya tidak ingin posisinya sebagai anak direbut oleh malaikat pencabut nyawa.
Kisah Enrik memiliki unsur magis yang tidak terlalu kental, namun juga tidak samar. Meskipun buku ini memiliki alur cerita yang cepat, hal tersebut tidak mengurangi kenikmatan saya dalam menyelami kisah Enrik dan tidak membuat buku ini terasa tergesa-gesa menuju akhir cerita.
Mengangkat tentang kematian, hubungan antara anak dan ibu dengan mencampurkan unsur merajut membuat kisah Enrik terasa berbeda dan unik, ditambah para tokoh pendukungnya juga memiliki ciri khas masing-masing yang mencolok. Buku ini berhasil membuat saya merasakan beragam emosi, seperti kesal dan frustasi menghadapi plot twist yang tentu saja tidak terduga keberadaannya.
Disajikan dengan tulisan yang mudah dipahami, kisah Enrik mengingatkan saya kembali jika seiring berjalannya waktu, disaat kita semakin dewasa, itu artinya orangtua kita juga semakin menua. Perubahan-perubahan pada diri mereka, entah rambut yang mulai memutih, kulit yang mulai mengeriput atau kekuatan fisik mereka yang menurun baru akan kita sadari jika kita memperhatikan mereka dengan baik, melihat mereka lamat-lamat sambil dalam diam mengamati perubahan tersebut.
Enrik seperti itu. Di luar perlakuan dan perkataan buruk yang ia terima dari ibunya, selama tinggal kembali dengan sang ibu membuatnya menyadari perubahan pada ibunya dan menyadari bagaimana selama ini ia hidup dalam gelembungnya sendiri tanpa menaruh perhatian kepada yang lain.
Menariknya, Enrik bukan hanya menyadari tentang ibunya, namun juga istrinya. Setelah sebelumnya tidak ikut andil dalam mengurus Layla, Enrik kembali berpikir mengenai tugas-tugas yang harus dilakukan istrinya di rumah. Pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya dan harus menghadapi anak mereka seorang diri.
Saya sangat merekomendasikan buku ini karena kisahnya akan membawa kita berkontemplasi mengenai hubungan kita dengan orang-orang terkasih, tentang kematian dan juga penerimaan takdir.
Baca Juga
-
Realita Kehidupan Ketika Dewasa dalam Buku Adulthood is a Myth
-
Krisis Eksistensial dan Kekerasan dalam Buku Awan-Awan di Atas Kepala Kita
-
4 Rekomendasi Buku Nonfiksi Islami yang Cocok Dibaca di Bulan Ramadan
-
Belajar Mengendalikan Rasa Marah Lewat Buku Ketika Alina Marah
-
Review Buku Menunggu Beduk Berbunyi Karya Hamka, Sarat Masalah Adat, Politik, dan Agama
Artikel Terkait
-
Mau Buka Bisnis Rumahan, Ini Pilihan Pinjaman Modal Usaha Untuk Ibu Rumah Tangga
-
Siapa Ibu Tristan Gooijer? Fullbek Kanan Ajax Amsterdam Keturunan Maluku Lagi Dirayu PSSI
-
Kreatif dan Mandiri: Panduan Praktis Bisnis Keluarga untuk Ibu Rumah Tangga
-
8 Rekomendasi Film Terbaru di Netflix untuk Temani Libur Lebaran
-
Viral Momen Ibu-ibu di Palembang Protes, Antre Lama Cuma Dapat Rendang Dua Iris dari Richard Lee
Ulasan
-
Bikin Hati Adem, Ini 3 Novel Jepang Berlatar Toko Buku dan Perpustakaan
-
Review Film A Minecraft Movie: Petualangan Konyol dan Penuh Imajinasi
-
Review Article 370: Film Thriller yang Bikin Kamu Nggak Mau Berkedip!
-
Review Novel 'TwinWar': Pertarungan Harga Diri di Balik Wajah yang Sama
-
Ulasan Webtoon Our Secret Alliance: Perjanjian Palsu Ubah Teman Jadi Cinta
Terkini
-
Membedah Perjuangan Politik Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan Bangsa
-
Demokrasi atau Diktator? Brutalisme Aparat di Balik Demonstrasi UU TNI
-
Wisata Jokowi, Rasa Cinta di Antara Suara Kritis Kita
-
Lee Jae Wook Bakal Main di 'Honeycomb Project', Drama Horor Fantasi Netflix
-
Kalahkan Korea Selatan, Hal Ini Masih Perlu Dievaluasi dari Timnas Indonesia U-17