Feast kembali dengan lagu yang begitu emosional dan menyentuh hati, "Nina", sebuah karya yang menampilkan sisi lain dari band yang biasanya dikenal dengan musik keras.
Kali ini, mereka membawa tema keluarga, kasih sayang, dan perpisahan yang tak bisa dihindari. Lagu ini bukan sekadar lagu tentang orang tua dan anak, tetapi sebuah janji yang abadi—janji untuk selalu melindungi, meskipun jarak dan waktu menjadi penghalang.
Sejak baris pertama, lagu ini membawa kita masuk ke dalam perasaan seorang ayah yang harus meninggalkan anaknya sementara waktu demi bekerja. "Saat engkau tertidur, aku pergi menghibur. Beda kota pisah raga bukan masalahku." Lirik ini menyiratkan sebuah kisah yang begitu dekat dengan realitas banyak orang tua, terutama mereka yang harus merantau untuk mencari nafkah. Meski berjauhan, cinta mereka tetap ada dan tidak berkurang sedikit pun.
Namun, seiring lagu berjalan, kita mulai memahami bahwa ada ketakutan yang lebih besar di balik lirik ini, ketakutan akan waktu yang tak bisa dihentikan. "Saat engkau dewasa, dan aku kian menua. Jika ku berpulang lebih awal, tidak apa." Ini bukan hanya sekadar perpisahan sementara, tetapi juga refleksi bahwa setiap orang tua sadar mereka tidak akan selamanya ada untuk anak-anak mereka.
Lagu ini tidak hanya menggambarkan jarak fisik antara orang tua dan anak, tetapi juga kesadaran bahwa suatu hari nanti, mereka harus berpisah untuk selamanya. Namun, alih-alih menjadi lagu yang menyedihkan, "Nina" justru terasa seperti sebuah pesan yang menenangkan. Orang tua mungkin akan pergi, tetapi cinta dan didikan mereka akan selalu ada dalam diri sang anak.
Bagian lirik "tumbuh lebih baik, cari panggilanmu. Jadi lebih baik dibanding diriku," menjadi semacam amanat yang begitu kuat. Ini bukan sekadar harapan, tetapi bentuk cinta yang paling tulus dari seorang ayah—melihat anaknya tumbuh menjadi lebih baik dari dirinya.
Salah satu alasan mengapa lagu ini begitu menyentuh adalah karena banyak orang bisa merasakannya langsung. Bagi anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang sering bepergian, lagu ini terasa seperti refleksi dari kehidupan mereka sendiri.
Sementara itu, bagi para orang tua, lagu ini bisa menjadi pengingat akan besarnya tanggung jawab yang mereka pikul untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
"Nina" bukan sekadar lagu biasa, tetapi surat cinta dari seorang ayah kepada anaknya. Ini adalah pengingat bahwa meskipun waktu terus berjalan dan perpisahan mungkin tak bisa dihindari, cinta orang tua adalah sesuatu yang tidak akan pernah hilang. Feast berhasil menyampaikan pesan ini dengan begitu indah—bukan dengan kata-kata yang berlebihan, tetapi dengan ketulusan yang bisa dirasakan oleh siapa saja yang mendengarnya.
Jadi, jika kamu belum mendengarkan "Nina", siapkan hatimu. Lagu ini bukan hanya akan membuatmu merenung, tetapi juga menghargai setiap momen bersama orang-orang yang kamu cintai.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Membongkar Borok Kerja Kelompok yang Cuma Bikin Jinak Si Pemalas
-
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus yang Bikin Logika Bahasa Baku Jadi Korban
-
Kesenjangan Literasi AI yang Diam-diam Menciptakan Kasta Baru di Kampus
-
Singa di Media Sosial, Anak Kucing di Ruang Kuliah: Mengapa Kita Gagap Menulis Ilmiah?
-
Sisi Gelap Label Introvert yang Bikin Generasi Sekarang Makin Egois
Artikel Terkait
-
Bikin Mewek, Lagu yang Dinyanyikan Bos Sritex dan Karyawan usai PHK Massal
-
AKSI Vs Agnez Mo? Badai Sayangkan Pernyataan Agnez di Podcast Deddy Corbuzier
-
Dari Romantis Hingga Ramai, Begini Gaya Sahur Artis di Hari Pertama Puasa
-
Makna Bahagia bagi Remaja yang Sedang Kasmaran di Lagu SEVENTEEN 'Mansae'
-
Usai Lagu Bayar Bayar Bayar Dibredel Hingga Vokalis Kena PHK Sepihak, Sukatani Umumkan Jadwal Manggung Terbaru
Ulasan
-
Buku Tuhan Maha Asyik: Menikmati Perjalanan Spiritual Bersama Sujiwo Tejo
-
Anak-Anak Bambu: Ketika Rumah Beralas Bambu Mengajarkan Arti Keluarga
-
Kupas Tuntas Orang Pertama Tunggal: Ketika Batas Antara Fakta dan Fiksi Melebur
-
Khutbah di Bawah Lembah: Melawan Tanpa Kebencian, Bertahan Demi Martabat
-
Juminten Edan: Suguhkan Kisah Duka dan Trauma dalam Balutan Misteri Gaib!
Terkini
-
Tumbal Terakhir
-
Dilema Keuangan Anak Muda: Melek Finansial, tapi Masih Andalkan Paylater
-
Dilema Jobseeker: Dituntut Berpengalaman, tetapi Tak Diberi Kesempatan
-
Menu Digital di Restoran: Efisiensi yang Menggeser Kenyamanan Pelanggan
-
3 Tempat Makan di Surabaya yang Bikin Anak Kos Bisa Bertahan Akhir Bulan