Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
Simpang Lima Gumul (Dok. Pribadi/faizah marta)
Sherly Azizah

Sore itu, langit Kediri sedang cantik-cantiknya, semburat jingga yang tipis mulai menyapa di ufuk barat. Dari kejauhan, siluet bangunan kotak raksasa itu mulai terlihat mendominasi cakrawala.

Setiap kali saya mengarahkan kendaraan menuju persimpangan lima arah ini, ada sensasi "deja vu" yang selalu menyenangkan. Begitu ban kendaraan menyentuh aspal bundaran Simpang Lima Gumul (SLG), saya selalu merasa sedang tidak berada di sebuah kabupaten di Jawa Timur.

Bangunan yang berdiri kokoh sejak tahun 2008 ini selalu berhasil memberikan kesan pertama yang megah, seolah-olah menyapa setiap orang yang datang dengan gaya aristokrat Eropa, namun tetap dengan keramahan lokal yang kental.

Paris dalam Balutan Budaya Kediri

Apa yang membuat saya jatuh cinta pada tempat ini bukan hanya karena kemiripannya dengan Arc de Triomphe di Paris. Ada keunikan yang jauh lebih dalam. Monumen ini adalah sebuah paradoks yang indah. Di dinding-dindingnya, terpahat relief yang menceritakan sejarah Kediri, mulai dari masa kejayaan Kerajaan Kadiri hingga kesenian Reog yang magis.

Ini adalah pertemuan antara estetika klasik Eropa dengan narasi sejarah lokal yang kuat. Bagi saya, SLG bukan sekadar tempat wisata; ia adalah representasi identitas warga Kediri yang modern namun tetap menghormati akar budayanya. Keunikan lainnya adalah akses masuknya.

Alih-alih menyeberang jalanan bundaran yang sibuk, saya harus melewati terowongan bawah tanah yang memberikan sensasi "petualangan" tersendiri sebelum akhirnya muncul tepat di kaki monumen yang menjulang setinggi 25 meter ini.

Menikmati Detik yang Berdetak Pelan

Langkah kaki saya menggema di dalam terowongan bawah tanah yang dindingnya dihiasi foto-foto sejarah pembangunan Kediri. Begitu keluar dari mulut terowongan, saya langsung disambut oleh angin sepoi-sepoi dan kemegahan beton yang kokoh.

Saya memilih untuk duduk di salah satu sudut tangga semen, memerhatikan orang-orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada fotografer amatir yang beradu sudut kamera demi mendapatkan hasil foto yang "simetris banget", ada keluarga kecil yang sedang menggelar tikar, hingga pasangan muda yang tampak malu-malu duduk berdua.

Saya sempat berjalan mengelilingi monumen, menyentuh tekstur reliefnya, dan merasakan betapa detailnya pahatan tersebut. Luas monumen ini secara simbolis mencerminkan tanggal hari jadi Kabupaten Kediri, sebuah detail yang mungkin terlewatkan jika kita hanya fokus pada swafoto.

Di sekitar monumen, taman-taman hijau yang terawat memberikan ruang bagi paru-paru saya untuk bernapas lebih lega. Suasana di sini punya irama yang unik: sibuk oleh lalu lalang kendaraan di bundaran, namun tenang di area monumennya.

Kelebihan dan Kekurangan

SLG atau Simpang Lima Gumul adalah ruang publik yang luar biasa. Kelebihannya terletak pada aksesnya yang gratis dan buka 24 jam. Ini adalah bukti bahwa ruang nyaman di kota tidak harus selalu berbayar mahal. Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari toilet yang relatif bersih, mushola, hingga area pasar kuliner "Tugu" di malam hari yang menyajikan sate bekicot hingga tahu takwa khas Kediri. Tempat ini sangat Instagrammable dari sudut mana pun.

Namun, tidak ada tempat yang sempurna. Kekurangannya yang paling terasa bagi saya adalah kurangnya peneduh alami di area tepat di bawah monumen. Jika kamu datang di siang bolong saat matahari sedang galak-galaknya, lantai betonnya bisa terasa sangat menyengat dan menyilaukan mata.

Selain itu, pada hari libur atau akhir pekan, tempat ini bisa menjadi sangat penuh sesak. Terkadang, saking ramainya, privasi untuk sekadar merenung jadi terganggu oleh kerumunan orang yang membawa pengeras suara atau pedagang asongan yang sedikit terlalu agresif menawarkan jasanya.

Apakah Sepadan? Setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam, membiarkan pikiran saya mengembara seiring dengan lampu-lampu monumen yang mulai menyala di malam hari, saya menarik satu kesimpulan: SLG tetaplah ruang ternyaman saya di Kediri.

Apakah pengalaman ini layak diulang? Tentu saja. Tempat ini cocok bagi siapa saja—mahasiswa yang ingin sekadar melepas penat setelah revisi, keluarga yang ingin piknik murah meriah, atau pencinta fotografi yang mencari komposisi megah.

Dengan biaya masuk nol rupiah (hanya bayar parkir seribu atau dua ribu rupiah), pengalaman yang didapatkan sangat sepadan. Di sini, saya tidak hanya menemukan objek foto, tapi saya menemukan ruang untuk menjadi bagian dari denyut nadi kota.

SLG mengajarkan saya bahwa kebahagiaan itu bisa sesederhana duduk tenang melihat matahari terbenam di balik monumen beton, sambil menyadari bahwa kita punya tempat yang indah untuk pulang. Jika kamu sedang berada di Kediri, sempatkanlah ke sini. Biarkan dirimu tersesat sejenak dalam kemegahan "Paris van Kediri" ini, dan temukan sendiri definisi nyaman versimu.