Los Angeles dalam film sering digambarkan sebagai kota penuh gemerlap Hollywood atau wilayah yang keras dan brutal, dipenuhi gangster dan polisi korup. Namun, Film Don’t Let Go memilih jalur berbeda.
Film garapan Jacob Estes ini menampilkan LA yang lebih nyata, dengan gang-gang kecil, rumah-rumah sederhana, dan lingkungan yang terasa hidup. Pendekatan ini menarik karena ngasih kesan kalau cerita ini bisa terjadi di mana saja, bukan hanya di dunia sinematik yang jauh dari realita.
Misteri dalam Film Don’t Let Go
Film thriller psikologis yang mengisahkan Jack Radcliff (David Oyelowo), seorang detektif yang kehilangan keponakannya, Ashley (Storm Reid), dalam pembunuhan brutal. Namun, tiba-tiba dia mulai menerima telepon dari Ashley—yang ternyata menelepon dari dua minggu sebelum kematiannya. Jack pun mencoba memecahkan misteri itu dan berharap bisa mengubah takdir Ashley.
Sebagai penonton, jujurly di awal-awal film ini lumayan ngeri dan semakin menuju akhir, misteri yang harus diungkap tuh benar-benar bikin penasaran.
Setting Film yang Nggak Tempelan Doang
Bagaimana sinematografinya menangkap kehidupan sehari-hari di Los Angeles. Asli cakep dan kelihatan realistis. Alih-alih menunjukkan sisi mewah Beverly Hills atau kekerasan ala film noir, justru kamu akan diajak ke lingkungan perumahan biasa, dengan gang-gang kecil dan sudut kota yang lebih membumi.
Ketika Ashley bersepeda melalui lorong-lorong belakang rumah, kuyakin, kamu bisa merasakan, bahwa karakter dalam film itu sudah sangat mengenal daerahnya.
Banyak film lain yang berhasil menggunakan kota sebagai karakter tersendiri, seperti La La Land (2016) yang menampilkan LA sebagai kota impian dan harapan, atau Nightcrawler (2014) yang menggambarkannya sebagai kota yang penuh eksploitasi media. Dalam Film Don’t Let Go, LA hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, tapi justru terasa lebih nyata dan dekat dengan penonton.
Sisi Emosional Karakternya
Sinopsis film ini sebenarnya membuka banyak peluang untuk mengeksplorasi sisi kehilangan, rasa bersalah, dan hubungan keluarga. Bayangkan betapa emosionalnya ketika seseorang yang kita cintai telah tiada, tapi tiba-tiba bisa berbicara kembali dengan kita—meskipun hanya dalam situasi yang mustahil.
Sayangnya, alih-alih menggali aspek psikologisnya lebih dalam, film justru terlalu fokus pada elemen thriller khas Hollywood, yaitu konspirasi, polisi korup, dan kejar-kejaran dengan waktu.
Film seperti Frequency (2000) berhasil menyeimbangkan premis serupa dengan mengedepankan hubungan emosional antara ayah dan anak, sebelum akhirnya mengarah ke elemen thriller. Sebaliknya, Film Don’t Let Go terlalu cepat beralih ke plot investigasi standar yang membuatnya agak kehilangan daya tarik.
David Oyelowo dan Storm Reid sebenarnya tampil kuat dalam membangun dinamika paman-keponakan yang sangat meyakinkan, meskipun sebagian besar interaksi mereka hanya terjadi melalui telepon. Sayangnya, ketika film mulai sibuk dengan adegan aksi dan misteri kejahatan, hubungan emosionalnya malah kurang tergali.
Film Don’t Let Go sebenarnya memiliki semua elemen untuk jadi film yang berkesan, soalnya premis unik, akting solid, dan latarnya pun kuat. Namun, pilihannya yang lebih condong ke arah thriller membuatnya terasa seperti film misteri standar, bukan eksplorasi emosional terdalam.
Dengan dukungan bintang lainnya: Mykelti Williamson, Alfred Molina, Brian Tyree Henry, dan Shinelle Azoroh. Menjadikan film ini dengan berbagai khilafnya, tetap menarik untuk ditonton buat pecinta thriller kok.
Mungkin, jika diberi sedikit lebih banyak ruang untuk mengeksplorasi hubungan karakter, Film Don’t Let Go bisa jadi film yang lebih berkesan. Kalau kamu mau nonton, film rilisan 2019 ini sudah tayang lagi di Netflix sejak 16 Februari 2025. Selamat nonton ya.
Skor: 3/5
Baca Juga
-
Paul McCartney: Man on the Run, Dokumenter yang Terlalu Menjaga Citra Idol
-
Bukan Klimaks yang Final, Danur: The Last Chapter Terasa Kecil dan Lemah
-
Film Peaky Blinders: The Immortal Man, Lebih Personal Kendati Melelahkan
-
Na Willa, Film yang Berhasil Bikin Orang Dewasa Merasa Jadi Anak Kecil Lagi
-
Ukuran Monster di Troll 2 Tambah Gede, tapi Ceritanya Kok Jadi Jinak?
Artikel Terkait
-
Menjelajahi Mitos Kota Gaib dalam Film Uwentira: Kota Jin'
-
Salip Oppenheimer, Mickey 17 Raih Box Office Korea dalam Empat Hari Penayangan
-
Film Demon City: Ketika Tuntutan Keadilan Menghilangkan Sisi Kemanusiaan
-
Ulasan Amazon Bullseye, Film Komedi Garing tapi Menghangatkan Hati
-
3 Film Romcom India Dibintangi Arjun Kapoor, Terbaru Mere Husband Ki Biwi
Ulasan
-
Paul McCartney: Man on the Run, Dokumenter yang Terlalu Menjaga Citra Idol
-
Alur Serius, Tokoh Misterius: Kontradiktif di Novel Melangkah J.S. Khairen
-
Ulasan Buku Broken, Seni Bertahan Hidup di Tengah Badai Kecemasan
-
Papa Zola The Movie Bikin Banjir Air Mata: Kisah Nyata Perjuangan Ayah yang Menguras Emosi!
-
Menabung Bisa Bikin Kaya? Intip Tips di Buku Good With Money
Terkini
-
Friska, Lift Aneh, dan Lelaki Berbaju Hitam Pencari Gula Pasir
-
Kim Nam Gil Debut Jadi Penyanyi, Rilis Single Rock Perdana Running To You
-
IVE Perluas Tur Dunia "SHOW WHAT I AM," Siap Guncang Amerika dan Asia
-
Digeber 80 Ribu Cabang, tapi Sepi Pembeli: Ironi Koperasi Merah Putih?
-
Belum Setahun Debut, AHOF Disebut Siap Perpanjang Kontrak hingga 7 Tahun