Kebanyakan orang menghabiskan waktu dengan ngabuburit, yaitu menunggu azan magrib tiba. Biasanya orang-orang berjalan-jalan sore sekalian membeli takjil untuk berbuka puasa, tetapi tidak sedikit juga yang malas dan merasa sumpek harus berdesakan atau bermacet ria di jalanan.
Nah, mereka ini lebih memilih menghabiskan waktu di rumah. Mulai dari beribadah, tidur, mendengarkan musik, menonton film, dan membaca buku. Opsi-opsi tersebut memang tergantung hobi dan preferensi masing-masing, tetapi membaca buku juga jadi salah satu opsi yang disukai banyak orang.
Di bawah ini ada tiga rekomendasi buku kurang dari 300 halaman dengan genre slice of life yang hangat, ringan, dan tentunya page turning sampai kamu berat hati untuk berhenti membaca sejenak.
1. Teka-teki Terakhir Karya Annisa Ihsani (260 Halaman)
Teka-teki Terakhir menceritakan tentang keingintahuan tokoh utama bernama Laura terhadap pasangan lansia Maxwell. Stigma masyarakat terhadap James Maxwell dan Eliza Maxwell sangat buruk. Mereka dianggap penyihir, ilmuwan gila, bahkan keluarga ningrat yang melarikan diri.
Para tetangga enggan untuk berinteraksi dengan rumah pasangan lansia Maxwell. Para orang tua menganggap rumah itu terkutuk dan anak-anak menganggap rumah itu berhantu. Akan tetapi, tidak dengan Laura.
Satu-dua lain hal terjadi yang mengharuskan Laura berkunjung ke rumah pasangan lansia Maxwell. Tidak diduganya, mereka adalah orang-orang yang baik. James memiliki perpustakaan besar dan mengizinkan Laura untuk membaca di sana. Eliza sangat pandai membuat kukis dan makanan manis.
Terlebih lagi, mereka memiliki seekor kucing yang manis bernama Eratosthenes. Laura semakin sering menghabiskan waktu di rumah mereka, semakin akrab dan ikut serta memecahkan teka-teki matematika.
Teka-teki Terakhir sangat berkaitan erat dengan matematika dan sejarahnya. Buku ini menunjukkan kepada pembaca bagaimana bisa matematika menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari yang disampaikan dengan ringan dan sederhana.
2. Jurnal Jo Karya Ken Terate (244 Halaman)
Jurnal Jo merupakan buku pertama dari seri "Jurnal Jo" yang menceritakan tentang keseharian Jo. Jo baru saja memulai sekolah menengah pertamanya dan dia bersekolah di tempat ayahnya mengajar.
Sayangnya, Jo tidak menyukai ini karena dia malu dilihat sebagai seorang anak guru, terlebih guru bahasa Jawa yang menurut Jo tidak keren.
Ditulis berdasarkan sudut pandang anak remaja perempuan, Jo menunjukkan banyak sekali tingkah laku yang umum dialami remaja. Mulai dari masa pubertas yang mengharuskan penggunaan deodoran; kesadaran diri atas penampilan; sampai iri melihat kekayaan, kecantikan, dan popularitas teman sekelas.
Kompleksitas plot dalam Jurnal Jo tidak sulit untuk dipahami, bahkan penulisan jalan ceritanya cukup komikal dengan menguatkan tokoh Jo yang nyeleneh dan asbun, tipikal remaja peralihan SD ke SMP.
3. Jingga Jenaka Karya Annisa Rizkiana Rahmasari (132 Halaman)
Jingga Jenaka adalah buku grafis yang dipenuhi ilustrasi warna-warni. Ada puisi, komik, dan gambar lain yang berkaitan dengan hangatnya kehidupan.
Komiknya ditunjukkan dalam beberapa panel dengan ilustrasi yang khas. Setiap komik juga memiliki alur ceritanya masing-masing, misalnya sesederhana membeli empat ekor ikan goreng untuk kucing-kucing liar.
Puisi-puisinya pun sangat mudah dipahami sekaligus menunjukkan kreativitas penulis. Ada puisi tentang kepik, semangkuk nasi, tahu, dan lain-lain.
Di antara kedua buku lain yang direkomendasikan di sini, Jingga Jenaka terbilang sangat ringan, bahkan sangat mungkin usai dibaca dalam sekali duduk. Buku ini cocok dijadikan penutup atas bacaan-bacaan berat, juga cocok dijadikan penyelamat dari reading slump.
Nah, dari rekomendasi bacaan di atas, buku mana saja yang sudah kamu baca? Buku mana yang menjadi favoritmu?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Memaknai Persahabatan, Kematian, dan Kebebasan dalam Novel 3 (Tiga)
-
Performative Reading: Yakin Betulan Bookworm?
-
Ulasan Novel Book Shamer: Bukan Sekadar Potret Penulis Antikritik
-
Review Alice in Borderland Season 3: Kembali Bermain antara Hidup dan Mati
-
Mengungkap Kebenaran di Balik Permainan dalam Novel Doki-Doki Game: Over?
Artikel Terkait
-
Update Kode Redeem Mobile Legends ML 8 Maret 2025, Klaim Hadiah Secepatnya
-
Rayakan Hari Perempuan Internasional, IWD Jogja Gelar Baca Bareng Karya Perempuan!
-
Antibosan! 3 Tempat Ngabuburit di Surabaya Ini Tawarkan Pengalaman Ramadan Tak Terlupakan
-
Ulasan Buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta: Antara Cinta dan Kehilangan
-
Review Novel 'The Humans', Mencari Arti Manusia Lewat Mata Alien
Ulasan
-
Kejujuran yang Diadili: Membaca Absurditas dalam 'Orang Asing' karya Albert Camus
-
Review Never Back Down (2008): Film dengan Latar Belakang Seni Bela Diri Campuran!
-
Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'
-
Tanah Gersang: Kritik Tajam Mochtar Lubis Tentang Moral di Ibukota
-
Drama China You Are My Hero: Ketika Medis dan Militer Bertemu
Terkini
-
Topeng Arsenik di Pendapa Jenggala
-
Dihubungi John Herdman, Peluang Tampil Sandy Walsh di Timnas Kian Besar?
-
Veda Ega Pratama Debut Moto3: Seberapa Besar Peluangnya Melaju di MotoGP?
-
Preppy Hingga Street Style, Intip 4 Ide OOTD Layering ala Shin Eun Soo Ini!
-
Fetisisme Kesibukan: Saat Lelah Menjadi Simbol Status Sosial