Film Mungkin Kita Perlu Waktu alias All We Need Is Time, judulnya terdengar sederhana, nyaris seperti kalimat sehari-hari yang terkadang diucapkan. Siapa sangka, kalimat itu menyimpan lapisan emosi yang dalam dan menyakitkan, persis seperti kisah yang dibawa film ini.
Film ini sempat tayang versi awalnya di JAFF 2024, lalu rilis versi Director’s Cut sepanjang ±95 menit di bioskop sejak 15 Mei 2025. Apa yang membuatnya menarik buat ditonton? Jelas adanya perubahan di ending, terutama ngasih penutupan yang lebih kuat buat karakter Restu dan Kasih.
Disutradarai Teddy Soeriaatmadja, dengan kreativitasnya, Film Mungkin Kita Perlu Waktu jadi drama keluarga yang terasa begitu personal dan menyentuh.
Film ini menghadirkan deretan aktor yang tampil mengesankan lho, di antaranya:
- Bima Azriel
- Tissa Biani
- Sha Ine Febriyanti
- Lukman Sardi
- Asri Welas
- Dan masih banyak bintang pendukung lainnya
Bercerita tentang apa sih film ini? Sini kepoin bareng!
Sekilas tentang Film Mungkin Kita Perlu Waktu
Ceritanya berpusat pada satu keluarga yang sedang dirundung pilu hati, tepat setelah kepergian Sara (diperankan Naura Hakim), anak sulung dalam keluarga itu.
Kepergian si sulung membawa luka mendalam buat semua anggota keluarga.
Ombak (Bima Azriel), adik Sara, jatuh dalam jurang depresi dan menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa itu. Kasih, sang ibu (Sha Ine Febriyanti), masih bergumul dengan kenyataan yang belum mampu dia terima. Sementara Restu, sang ayah (Lukman Sardi), berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar dan menjaga agar keluarganya nggak hancur sepenuhnya.
Di tengah itu semua, ada sosok ceria, Aleiqa (Tissa Biani) si teman dekat Ombak yang ngasih sedikit kehangatan, meski ternyata dia juga sedang menutupi luka dalam dirinya sendiri.
Rasanya berat banget ya beban kepiluan yang mereka pikul? Yang kepo sama kesan-kesan selepas nonton, sini kepoin lagi!
Impresi Selepas Nonton Film Mungkin Kita Perlu Waktu
Jujur deh, aku langsung bisa menangkap nuansa dingin dan canggung sejak awal film. Skripnya, rasa-rasanya, memang nggak menjejalkan banyak informasi atau latar belakang di awal, tapi suasana yang ditampilkan sudah cukup membuatku memahami ada yang nggak beres di dalam rumah itu.
Secara alur, film ini disusun dengan rapi. Dialog yang dilontarkan para pemain juga terasa natural alias nggak terasa dibuat-buat (seperti potongan kehidupan nyata yang kita intip diam-diam).
Yang menarik, film ini juga nggak terlalu banyak dibanjiri musik latar. Justru karena minimnya backsound, aku bisa lebih fokus pada tiap ekspresi, tiap isakan, tiap keheningan yang terasa seperti menggantung di udara. Eh, tapi, ada lagu ‘Waking Up Together with You – Ardhito Pramono, dan lagu ‘Tak Terima – Sheila Dara Aisha & Donne Maula’, yang bikin tambah emosional sih.
Namun aku juga harus jujur, ritme film ini cukup lambat. Beberapa adegan terlalu berlarut-larut hingga kehilangan daya tariknya. Klimaks film datang terlambat, dan membuatku sempat kehilangan ketertarikan di tengah jalan. Ditambah lagi, beberapa adegan mudah ditebak, sehingga unsur kejutan terasa minim. Namun, meskipun begitu, film ini tetap berhasil mengakhiri ceritanya dengan tenang dan masuk akal. Ya, nggak ada drama yang dipaksakan, semua mengalir sebagaimana seharusnya.
Paham, ya? Film Mungkin Kita Perlu Waktu bukan film yang menawarkan twist dramatis atau ketegangan di sana-sini. Ini tuh lebih ke film yang bicara perlahan dan menikam perlahan dalam-dalam. Yang jelas, film ini pun bak mengingatkan diriku, bahwa dalam keluarga, luka nggak selalu bisa disembuhkan dengan waktu saja. Ada rasa sakit yang hanya bisa pulih lewat komunikasi, pengakuan, dan keberanian untuk membuka diri.
Meskipun nggak penuh kejutan, Film Mungkin Kita Perlu Waktu berhasil mencuri perhatian di JAFF 2024, dengan masuk nominasi Indonesian Screen Awards. Akting para pemainnya juga nggak luput dari sorotan: Sha Ine Febriyanti dinominasikan sebagai Aktris Terbaik versi Tempo 2024, dan Lukman Sardi sebagai Aktor Pendukung Terbaik. Walau belum menang, film ini udah jelas ninggalin kesan dan jejak yang dalam.
Sebagai penutup, aku bisa bilang, film ini cocok banget ditonton bersama keluarga, atau bahkan saat lagi sendirian. Namun, perlu diingat, ratingnya 17+ karena mengandung kata-kata kasar dan beberapa adegan kekerasan. Selamat nonton ya.
Rating pribadi: 3,4/5
Baca Juga
-
Sekat Rasa dan Hati yang Terhentak
-
Review Kung Fu Soccer: Terlalu Absurd Disebut Film Tentang Sepak Bola, Apakah Layak Ditonton?
-
Lockbox Terasa Seperti Dua Film yang Dipaksa Menjadi Satu
-
The End of Oak Street Pamer Dinosaurus Sampai Misterinya Lupa Dikupas
-
Upon Entry: Ketika Orang yang Kita Cintai Mendadak Jadi Orang Asing
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Celebrity Wedding, Pernikahan Kontrak Antara Akuntan Publik dan Musisi
-
1000x Ghea Indrawari, Lagu yang Bikin Saya Berhenti Membandingkan Cinta
-
Ulasan Ketok Mejik: Aksi Konyol Para Mekanik Mempertahankan Rumah Warisan
-
Novel Dari Hari ke Hari: Sejarah Besar Diceritakan dari Mata Seorang Bocah
-
The Dream Life of Mr. Kim: Sisi Rentan Pekerja Senior di Dunia Korporat
Terkini
-
Membaca di Ruang Publik: Gerakan Senyap Membiasakan Membaca di Mana Saja
-
Merawat Budaya, Menggerakkan Ekonomi: Perjalanan Kemiren Bersama Astra
-
Persebaya vs Penang FC Jadi Ajang Rotasi Pemain, Apa Target Bernardo Tavares?
-
Tecno Pova 8 5G Resmi di Indonesia, Bawa Baterai 8.000 mAh dan Kamera Sony
-
Flirty dan Sensual! Katseye Jadi Pusat Perhatian di Lagu Hootie Frutti