Seiring berjalannya waktu tentu ada banyak lagu datang dan tenggelam, tidak semua berhasil bertahan dalam ingatan pendengar. Berbeda dengan The Man Who Can’t Be Moved yang dirilis oleh The Script.
Pertama kali dipublikasikan pada tahun 2008 silam, lagu ini masih menjadi anthem bagi para pejuang gagal move on yang masih relevan di tahun 2025. Bukan hanya sebatas lagu patah hati biasa, ada cerita tentang kesetiaan dan tak bisa mati walau waktu terus berjalan.
Di tengah era musik cepat saji dan lirik serba singkat, The Man Who Can’t Be Moved hadir sebagai pengingat bahwa cinta memang tak selalu logis. Sang penyanyi mengajak pendengar untuk meresapi luka, berdamai dengan kerinduan, dan bagi sebagian orang seakan memeluk rasa kehilangan.
Review Lagu The Man Who Can’t Be Moved, The Script Masih Terbayang Kenangan Masa Lalu
Setiap lirik lagu yang dilantunkan mampu begitu kuat menggambarkan kondisi emosional seseorang yang tidak bisa dan tidak mau melangkah maju. Kalimat ‘I’m not moving' dinilai jadi gambaran nyata dari keterikatan emosional yang belum selesai.
Di sepanjang lagu, pendengar akan dibawa melihat seseorang yang tak hanya menyimpan foto mantan kekasihnya, tapi juga menuliskan pesan di kardus yang berbunyi ‘jika ada yang melihat dia, tolong sampaikan bahwa aku di sini, menunggu’.
Single tersebut turut menarik karena menyampaikan rasa kehilangan dengan cara yang tidak dramatis berlebihan, tetapi tetap intens. Tak ada teriakan atau dentuman drum keras, hanya suara lirih yang menyayat. Namun justru di sini lah kekuatannya.
Pada tahun 2025, lagu ini mendapat sorotan kalangan generasi muda yang aktif di media sosial. Banyak potongan liriknya digunakan sebagai caption galau, backsound konten TikTok, hingga latar curhat tengah malam di Instagram Story. Nostalgia bercampur relevansi membuat lagu ini tetap hidup, bahkan lebih viral dari sebelumnya.
Banyak yang merasa bahwa The Man Who Can’t Moved seperti menulis ulang kisah mereka sendiri. Entah tentang cinta pertama yang tak tergantikan, mantan yang tak bisa dilupakan, atau bahkan seseorang yang masih terasa begitu dekat walau telah lama pergi.
Mengintip segi musikal, lagu ini menawarkan harmoni antara kesederhanaan dan emosi. Tidak rumit, tapi dalam. Tidak berlebihan, tapi jujur. Di sisi lain, The Man Who Can’t Be Moved juga membawa elemen storytelling yang kuat.
Selain menyoroti perasaan mendalam, The Script turut membangun visual. Kita bisa membayangkan sudut jalan itu, kardus bertuliskan pesan, dan tatapan pria yang tak goyah oleh waktu.
Wajar jika karya tersebut banyak dimasukkan ke dalam berbagai playlist bertema galau, hujan, sendu, hingga malam yang sepi. Tak heran pula di tahun 2025 pun, lagu ini tetap menjadi ‘senjata’ andalan untuk mengenang seseorang yang pergi tapi tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.
The Man Who Can’t Be Moved bicara soal pengalaman emosional kolektif yang dirasakan jutaan orang di berbagai belahan dunia. Dengan lirik yang menyayat, melodi mendalam, dan cerita cinta yang universal, lagu ini membuktikan bahwa tidak semua luka harus sembuh untuk bisa dikenang.
The Script juga memiliki deretan lagu hits yang bisa Anda masukan ke daftar putar. Misalnya adalah Breakeven, For the First Time, Superheroes, Nothing, If You Could See Me Now, Rain, No Good in Goodbye, hingga Hall of Fame (feat. Will.i.am).
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Tayang Oktober, Drakor Final Table Bagikan Keseruan Pembacaan Naskah
-
Kim Ji Yeon dan Park Seo Ham Tampil Serasi di Script Reading Dive Into You
-
Ada yang Hilang dari Xdinary Heroes, Lagu Lost and Found Jadi Lebih Nylekit
-
Bentrok Jadwal, Lee Jong Suk Dipastikan Batal Bintangi Iseop's Romance
-
Persebaya Siap Taklukkan Cuaca Panas di Bhayangkara, Bisa Rebut Tiga Poin?
Artikel Terkait
-
Banyak Penyanyi Digugat Pencipta Lagu Gegara Hak Cipta, Denada Punya Pandangan Bijak
-
Sindiran bagi Kaum Haus Validasi di Lagu P1Harmony 'Duh'
-
BOYNEXTDOOR "I Feel Good", Anthem Kebebasan Masa Muda yang Raih Grand Slam
-
Arti Lagu Jaechan Poster Boy: Setiap Orang Bersinar di Panggungnya Sendiri
-
Beda Lagu tripleS Are You Alive: Hidup Gen Z yang Penuh Tekanan Sosial
Ulasan
-
Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Ulasan Let Me Be Your Knight: Mengurai Burnout dan Sisi Rapuh Idol K-Pop
-
Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians
-
Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled
Terkini
-
Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
-
5 Exfoliating Toner Lokal yang Affordable dan Ramah untuk Kulit Sensitif