Carley Fortune, penulis bestseller yang dikenal lewat Every Summer After dan Meet Me at the Lake, kembali menghadirkan karya memikat dalam "One Golden Summer". Novel ini melanjutkan gaya khas Fortune, romansa yang hangat, dibalut nostalgia, dan berlatarkan musim panas yang menggugah perasaan. Namun kali ini, ia memberikan kedalaman emosional yang lebih tajam, dengan eksplorasi tema cinta, kerentanan, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri. "One Golden Summer" adalah kisah tentang pulang, bukan hanya ke tempat, tetapi juga pada perasaan dan masa lalu yang selama ini dihindari.
Cerita berpusat pada Alice Everly, seorang fotografer sukses yang sedang mengalami krisis kreatif dan eksistensial. Setelah sekian lama menetap di kota besar, Alice kembali ke Barry’s Bay, kota kecil tempat ia menghabiskan masa remajanya bersama nenek tercinta, Nan. Kepulangannya dipicu oleh kabar bahwa Nan mengalami patah pinggul dan membutuhkan bantuan selama musim panas. Alice tidak hanya membawa kopernya, tetapi juga beban batin yang selama ini ia pendam, rasa kehilangan, keraguan, dan kenangan yang belum selesai.
Salah satu kenangan yang paling membekas adalah momen saat ia mengambil foto ikonik dari tiga remaja laki-laki di atas perahu cepat kuning. Foto itu kemudian menjadi batu loncatan dalam karier fotografinya. Namun, di balik gambar yang sempurna itu, tersimpan perasaan mendalam terhadap salah satu dari mereka, Charlie Florek. Pertemuan kembali dengan Charlie yang kini telah dewasa menjadi pemicu konflik emosional dan pembuka jalan bagi kisah cinta yang belum usai.
Alice dan Charlie dipertemukan kembali secara tak terduga. Charlie kini adalah pria yang hangat dan penuh pesona, namun jelas menyimpan luka batin yang tidak tampak di permukaan. Chemistry antara mereka berkembang secara perlahan, realistis, dan menyentuh.
Fortune menulis dinamika mereka dengan penuh ketegangan emosional dan dialog yang tajam, sehingga pembaca dapat merasakan kegelisahan, keraguan, hingga kerinduan yang terus membayangi. Kekuatan utama novel ini terletak pada bagaimana hubungan mereka berkembang dari kebersamaan yang sederhana, berbagi cerita, membantu Nan, hingga berbagi ketakutan terdalam mereka.
Yang menarik, "One Golden Summer" tidak menjual romansa secara instan. Sebaliknya, kisah ini membahas bagaimana cinta sejati membutuhkan keberanian untuk membuka diri dan menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan.
Alice belajar bahwa melihat orang lain melalui lensa kamera tidak sama dengan benar-benar memahami dan mengizinkan dirinya sendiri untuk dilihat. Tema ini menjadi benang merah yang sangat kuat, karena menggambarkan perjalanan personal sang tokoh utama yang akhirnya menemukan kejelasan bukan lewat orang lain, tapi dari keberaniannya mengakui luka sendiri.
Fortune juga sangat piawai dalam menggambarkan latar cerita. Barry’s Bay digambarkan dengan sangat hidup, udara musim panas yang lembap, suara air danau, aroma kopi pagi di beranda kayu tua, semuanya membentuk atmosfer yang intim dan menenangkan. Latar ini bukan hanya sebagai latar fisik, tapi juga simbol emosi, tempat di mana kenangan dan penyembuhan bertemu. Fortune mengajak pembaca untuk tidak hanya membaca, tapi juga merasakan suasana yang membungkus cerita dengan kelembutan dan kedalaman.
Selain tokoh utama, karakter pendukung seperti Nan juga mendapat porsi yang cukup dan tidak hanya menjadi latar belakang. Nan adalah sosok bijak yang menyimpan banyak kunci bagi masa lalu Alice dan Charlie. Kehadirannya menjadi jangkar yang memperkuat akar emosional cerita ini. Dialog-dialognya sarat makna dan sering kali menjadi titik balik bagi perjalanan batin Alice.
Plot dalam "One Golden Summer" bergerak dengan ritme yang tenang namun konsisten. Tidak ada konflik besar yang dramatis, tetapi ketegangan dibangun dari konflik batin, percakapan, dan momen-momen reflektif. Fortune menggunakan struktur cerita yang linier, namun diperkaya dengan kilasan masa lalu yang terjalin mulus dan tidak membingungkan. Ini membuat pembaca merasa seperti berjalan bersama tokoh-tokohnya, tidak tergesa-gesa, tapi mendalam.
Secara keseluruhan, "One Golden Summer" adalah novel romansa yang matang, menyentuh, dan sangat manusiawi. Carley Fortune berhasil menyajikan kisah cinta yang bukan hanya tentang menemukan pasangan, tapi juga menemukan diri sendiri. Novel ini cocok bagi pembaca yang mencari cerita hangat dengan kedalaman emosional yang kuat, dan tentunya bagi mereka yang percaya bahwa musim panas bisa menjadi musim penyembuhan dan permulaan baru.
Identitas Buku
Judul: One Golden Summer
Penulis: Carley Fortune
Penerbit: Berkley
Tanggal Terbit: 6 Mei 2025
Tebal: 400 Halaman
Baca Juga
-
Novel The Lost Apothecary, Misteri Toko Obat Tersembunyi di London
-
Novel Saman: Pendobrakan Tabu Sosial di Tengah Politik Indonesia
-
Membedah Sisi Gelap Keadilan Manusia di Ulasan Novel The Hellbound
-
Novel Pukul Setengah Lima, Mencari Pintu Keluar dari Realitas Kehidupan
-
Ulasan Buku Empowered Me, Menjadi Ibu Berdaya Tanpa Kehilangan Identitas
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel The Good Liar: Topeng Kebaikan di Lembah Para Pendusta
-
Ulasan Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar: Ketika Keadilan Bisa Dibeli
-
Novel Baswedan Blak-blakan Kritik Amnesti-Abolisi Prabowo: Tak Sesuai Pidato Sikat Habis Koruptor!
-
Labirin Pikiran dalam The Crash: Lebih dari Sekadar Amnesia
-
Ulasan Novel The Star and I: Perjalanan Rindu yang Tak Pernah Punya Nama
Ulasan
-
Narasi Perihal Ayah, Menyusuri Duka Kehilangan dari Sudut Pandang Anak
-
Bedah Makna Lagu Bernadya "Kita Buat Menyenangkan": Seni Memaafkan Hal Kecil
-
Review Buku 'Tahun Penuh Gulma': Suara Masyarakat Adat Melawan Rakusnya Korporasi
-
Meninggalkan Dunia Nyaman Demi Kebebasan Sejati: Menyelami Kisah 'Into The Wild'
-
Film Kuyank: Prekuel Saranjana yang Penuh Misteri Gelap!
Terkini
-
Digitalisasi Industri dan Ancaman Pengangguran Struktural
-
4 Ide Outfit Celana Jeans ala Chaewon LE SSERAFIM, Keren Tinggal Sat Set!
-
Asahi Naruhaya Resmi Diperankan Sho Nishigaki dalam Live Action Blue Lock
-
Rilis Foto Profil Baru, AKMU Dirikan Agensi Sendiri Usai Tinggalkan YG
-
Merosotnya Moral Remaja: Benarkah Korban Zaman atau Bukti Kelalaian Kita?