Pada 17 Agustus 2025 warga Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-80. Upacara bendera telah digelar di berbagai penjuru untuk mengenang perjuangan dan semangat perlawanan para pahlawan demi meraih kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun, di akhir bulan Agustus 2025 ini pula, terdapat insiden yang merobek kemerdekaan. Dua orang pencari nafkah lewat ojek online dilindas kendaraan taktis Barracuda Brimob di tengah ribuan demonstran dari berbagai elemen yang berunjuk rasa di depan gedung DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Dua orang yang dilindas tersebut adalah driver ojek online Grab bernama Affan Kurniawan dan Moh Umar Amarudin. Affan meninggal dunia, sementara Umar luka-luka dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Inilah wajah negara kita yang katanya sudah bebas dari penjajah dan baru saja diperingati kemerdekaannya yang ke-80 tahun. Benarkah sudah merdeka? Apakah warga negara Indonesia sudah benar-benar merasakan kemerdekaan? Sementara kita tahu, di depan kita kericuhan demi kericuhan terus terjadi, sedangkan yang di dalam gedung sana tengah asyik berjoget merayakan kenaikan gaji.
Berbicara soal kemerdekaan, terdapat buku yang cocok yang di dalamnya berisi mengenai detik-detik perlawanan dan perjuangan menggapai kebebasan dari penjajah. Buku tersebut berjudul Indonesia Merdeka yang disusun oleh Woro Miswati.
Ditinjau dari bahasa yang sederhana dan font yang dicetak agak besar juga renggang, jelas saja buku ini ditujukan kepada siswa-siswa di sekolah dasar.
Melalui buku ini, diharapkan setiap anak bangsa dapat menghargai jasa-jasa para pahlawan yang telah memberikan segala pikiran, tenaga, bahkan nyawanya demi meraih kemerdekaan Indonesia.
Buku dengan sampul warna biru yang dihiasi para pejuang sedang mengepalkan tangan sambil mengangkat bendera merah putih ini berisi mengenai berbagai hal terkait kemerdekaan, seperti persiapan menjelang kemerdekaan, detik-detik pembacaan teks proklamasi, makna bendera nasional, dan monumen proklamasi.
Pada tanggal 6 Agustus 1945 pukul 08.15 sebuah bom atom pertama dijatuhkan di atas kota Hiroshima di Jepang oleh Amerika Serikat yang menyebabkan lebih dari 70 ribu orang di kota berpenduduk 350 ribu jiwa itu tewas seketika. Hal ini mulai menurunkan moral dan semangat tentara Jepang di seluruh dunia.
Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Zyunbi IIinkai dalam bahasa Jepang. Penggantian nama ini untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.
Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas kota Nagasaki di Jepang. Sepertiga kota itu hancur dan tidak kurang dari 75 ribu orang tewas. Kaisar Hirohito menganggap Jepang sudah tidak mungkin lagi meneruskan peperangan dan kemudian memaklumkan kekalahannya atau menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
Sementara pada detik-detik pembacaan teks proklamasi dijelaskan bahwa perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00-04.00 dini hari.
Teks proklamasi ditulis di ruang makan di kediaman Laksamana Tadashi Maeda, panglima Aangkatan Laut Jepang di Indonesia, Jl. Teji Meijidori No. 1 (kini Jl. Imam Bonjol). Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Achmad Subarjo.
Sedangkan soal bendera nasional, penulis menerangkan bahwa Sang Saka Merah Putih merupakan julukan kehormatan terhadap bendera Merah Putih Indonesia. Pada mulanya sebutan Sang Saka Merah Putih hanya ditujukan untuk bendera Merah Putih yang dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
Namun, selanjutnya hingga saat ini dalam penggunaan umum, sebutan Sang Saka Merah Putih pun ditujukan kepada setiap bendera Merah Putih yang dikibarkan dalam setiap upacara bendera.
Bendera pusaka dibuat oleh Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno. Bendera itu dibuat dari kain dengan bahan katun yang berasal dari Jepang. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa bahan untuk membuat bendera Sang Saka Merah Putih tersebut adalah kain wool dari London, Inggris.
Kain wool tersebut diperoleh dari seorang Jepang. Pada saat itu bahan wool tersebut memang digunakan secara khusus dalam pembuatan bendera-bendera negara di dunia. Bahan ini dipakai karena terkenal dengan keawetannya sehingga dapat tahan lama dan tahan terhadap cuaca.
Sangat dimaklumi karena bendera tersebut dikibarkan dengan menantang cuaca, baik hujan maupun panas terik sinar matahari. Sangat wajar kalau akhirnya bendera-bendera dibuat dengan bahan yang tahan cuaca. Ukuran bendera pada umumnya adalah 276 cm x 200 cm (Halaman 43).
Setelah membaca buku ini, kembali terlintas dalam benak kita, akankah kita sudah benar-benar raih hakikat kemerdekaan? Sudahkah pemerintah negara Indonesia mendengar dengan begitu seksama suara dan jeritan rakyat?
Demikian ulasan buku ini, semoga bermanfaat bagi anak bangsa untuk tetap mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Merdeka!
Selamat membaca!
Identitas Buku
Judul: Indonesia Merdeka
Penulis: Woro Miswati
Penerbit: Be Champion
Cetakan: I, 2011
Tebal: 52 Halaman
ISBN: 978-602-8884-33-4
Baca Juga
-
Samsung Segera Kenalkan Galaxy S25 FE, Dibekali Prosesor Exynos 2400 dan CPU 10 Core
-
Vivo X Fold 5 Resmi Masuk Indonesia, HP Lipat dengan Durabilitas Tinggi serta Engsel Kuat dari Baja
-
Menganalisis Ideologi Negara dalam Buku Ragam Tulisan Tentang Pancasila
-
Imajinasi Terjun Bebas Tanpa Batas dalam Buku Puisi Telepon Telepon Hallo
-
Kiat Jemput Karunia Tuhan yang Berkah Melimpah dalam Buku Dongkrak Rezeki
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Buku The Sacks of Cloud, Kebahagiaan yang Timbul dari Berbagi
-
Ulasan: Dunia Anak yang Tidak Pernah Sederhana, Membaca Kejujuran White Wedding
-
Menganalisis Ideologi Negara dalam Buku Ragam Tulisan Tentang Pancasila
-
Review Film Panji Tengkorak: Dendam, Darah, dan Semangat Baru Animasi Lokal
-
Kala Film Mengeja Cinta yang Nggak Pernah Mati
Terkini
-
Membaca untuk Melawan: Saat Buku Jadi Senjata
-
80 Tahun DPR, Ulang Tahun di Atas Luka dan Derita Rakyat
-
Nyala Jiwa Ibu Berjilbab Pink: Elegi Perjuangan di Negeri yang Tengah Lebur
-
Affan Kurniawan: Hidup Tertindas, Gugur Dilindas, dan Perjuangan Tak Kandas
-
Samsung Segera Kenalkan Galaxy S25 FE, Dibekali Prosesor Exynos 2400 dan CPU 10 Core