Sewaktu kecil, salah satu aktivitas yang paling sering membangkitkan imajinasi adalah saat memandang awan. Awan yang bergerak dengan berbagai bentuk kadang membuat seseorang teringat dengan sesuatu di dunia nyata yang bentuknya mirip dengan awan tersebut.
Barangkali, pengalaman tersebut juga kerap dirasakan oleh banyak anak saat memandang awan di langit. Bentuknya yang bermacam-macam dengan warna yang seputih kapas membuat penasaran, bagaimana rasanya memegang awan?
Nah, salah satu buku yang menceritakan kisah tentang bagaimana seorang anak berimajinasi tentang awan-awan di langit adalah buku berjudul 'The Sacks of Cloud' yang ditulis oleh Arleen Amidjaja dan diilustrasikan oleh Herlina K.
Buku ini menceritakan kisah tentang seorang gadis kecil yang membahagiakan orang-orang yang dicintainya lewat awan-awan.
Hal itu bermula ketika si gadis kecil bertemu dengan seorang manusia kerdil. Awalnya, si gadis kecil terlihat takut dengan penampakan manusia kerdil yang kelihatan aneh.
Namun, Manusia kerdil tersebut kemudian menghadiahkan 10 kantong awan untuknya. Si gadis kecil pun merasa senang dengan hadiah tersebut.
Ia pun bermain-main dengan awan-awan yang ada di dalam karung. Rasanya sangat menyenangkan meresahkan tubuh di atas awan yang empuk.
Tapi, lama kelamaan si gadis kecil pun berpikir bahwa pasti ada hal lain yang bisa ia lakukan selain bermain dengan awan-awan tersebut.
Ia pun berinisiatif untuk membuat beberapa kerajinan dengan tangannya sendiri. Pertama, ia menggunakan empat karung awan untuk membuat selimut yang lembut untuk nenek.
Nenek pun merasa senang hadiah selimut tersebut. Kata nenek, selimut itu menjadi selimut yang paling hangat dan lembut di seluruh dunia.
Kedua, ia menggunakan tiga karung awan untuk membuat mantel untuk ibu. Ibu pun memuji bahwa mantel tersebut adalah mantel tercantik yang pernah dimilikinya,
Selanjutnya, ia menggunakan dua karung awan untuk membuat bantal yang empuk untuk ayah. Ayah ternyata amat menyukainya karena ia selalu bermimpi indah tiap kali menggunakan bantal tersebut.
Masih tersisa satu karung awan lagi, setengahnya ia gunakan untuk membuat boneka yang lucu untuk adik. Lalu setengahnya lagi ia gunakan untuk membuat kembang gula untuk dirinya sendiri.
Semua orang bergembira dengan hadiah yang diberikan oleh si gadis kecil. Ia semakin mencintai awan-awan karena membantunya untuk membuat orang di sekelilingnya berbahagia.
Secara umum, kisah di atas cukup sederhana. Selain bisa membangkitkan imajinasi dari alam sekitar, terdapat beberapa pesan moral yang bisa menjadi nilai edukasi untuk anak-anak. Di antaranya adalah kebahagiaan yang bisa diperoleh dari berbagi.
Hal ini mungkin bisa diajarkan kepada anak yang berusia 6 tahun ke atas. Bahwa ternyata kebaikan-kebaikan yang kita sebarkan ke orang lain akan kembali ke diri kita sendiri.
Dari segi ilustrasi, visualnya sangat menarik untuk anak-anak. Bagi saya, visualisasi inilah yang menjadi nilai plus dari buku The Sacks of Cloud ini.
Dari segi cerita sebenarnya tidak ada hal yang menantang ataupun yang membuat penasaran. Tapi ilustrasi yang eye-catching menjadi faktor yang membuat buku ini bikin betah buat dibaca. Penggunaan tone warna cerah tapi tidak terlalu mencolok.
Konten yang sederhana dan visualisasi yang menarik membuat buku ini menjadi buku yang bisa dibaca secara mandiri oleh anak-anak meski tanpa dibacakan oleh orang dewasa.
Jadi, bagi kamu yang sedang mencari buku anak yang sederhana dengan ilustrasi yang memanjakan mata, The Sacks of Cloud bisa menjadi rekomendasi bacaan yang menarik untuk disimak!
Tag
Baca Juga
-
The Let Them Theory: Buku dengan Konsep Sederhana untuk Hidup Lebih Tenang
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
Artikel Terkait
-
Ungkit Skandal Buku Merah, Rismon Sebut Tito Karnavian Diduga 9 Kali Terima Duit Panas Rp8,1 M!
-
Penulis J.S. Kahiren Beberkan 4 PR Pemerintah demi Tingkatkan Minat Baca
-
Krisis Literasi di Indonesia: Mengapa Membaca Masih Dianggap Berat?
-
Review Buku Filosofi Teras: Ajaran Kuno Stoa yang Masih Relevan di Hari Ini
-
Ulasan Novel Mrs Spy: Perempuan Biasa dengan Misi Mematikan
Ulasan
-
Saat Cinta Datang Terlambat: Belajar Merelakan dari Lagu Raim Laode "Dunia yang Nanti"
-
Belajar dari The Early Spring: Jangan Meremehkan Orang yang Sedang Berjuang
-
Review The Potato Lab: Kisah Cinta di Balik Laboratorium Kentang
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Lagu Mungkin di Depan Buram dan Harapan di Tengah Ketidakpastian Masa Depan
Terkini
-
Ponsel Lipat Harga Mulai Rp30 Juta! Apa Saja Kehebatan iPhone Duo?
-
Jelang Piala Asia 2027, Timnas Indonesia Dijadwalkan Hadapi Tim Peringkat 63 Dunia di Kandang Lawan?
-
Bye Pori Tersumbat! 4 Cleanser Volcanic untuk Kulit Mulus Bebas Komedo
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
-
Masjid Tegalsari: Jejak Islam dan Jawa yang Bertahan Melintasi Zamannya