Kalau kamu sering mendengar motivator berkata, bermimpilah yang besar maka kamu akan luar biasa. Tak salah lagi, buku inilah sumbernya. Meski banyak buku-buku self improvement baru dengan beragam motivasi, The Magic of Thinking Big masih menjadi buku yang legendaris.
Berpikirlah besar dan hidup Anda akan luar biasa. Kalimat ini bukan sekadar slogan motivasi kosong, melainkan inti gagasan yang ditawarkan David J. Schwartz dalam buku The Magic of Thinking Big.
Terbit pertama kali pada 1959, lalu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa hingga kini. Buku ini mungkin bukan bacaan baru, ia membahas persoalan klasik manusia. Ragu pada diri sendiri, takut gagal, dan gemar mencari alasan. Dan hal ini tak pernah benar-benar usang oleh zaman.
Isi Buku
Penulis berangkat dari satu premis sederhana namun radikal: Anda adalah hasil dari cara Anda berpikir. Bukan latar belakang, bukan nasib, bukan keberuntungan semata. Pikiran menentukan arah hidup.
Maka, ketika seseorang berkata, “Tak ada lagi peluang,” atau “Kesuksesan tidak sepadan dengan pengorbanannya,” menurut penulis, yang bekerja bukan realitas objektif, melainkan pola pikir yang membatasi.
Salah satu penekanan terkuat dalam buku ini adalah keyakinan pada diri sendiri. Penulis mengutip ungkapan terkenal: “The man who thinks he can and the man who thinks he can’t are both right.”
Ketika seseorang yakin ia mampu, otaknya akan bekerja mencari jalan. Sebaliknya, ketika seseorang merasa tidak mampu, otaknya justru berhenti sebelum mencoba. Dari sini, penulis mendorong pembaca untuk membiasakan kalimat sederhana namun revolusioner: “Saya bisa.” Bukan karena segalanya akan mudah, tetapi karena keyakinan adalah bahan bakar utama tindakan.
Musuh terbesar dari keyakinan ini adalah rasa takut. Takut gagal, takut ditolak, takut kehilangan. Alih-alih melawan rasa takut dengan penyangkalan, penulis menawarkan pendekatan praktis: lawan takut dengan tindakan yang lebih baik.
Takut kehilangan pelanggan? Tingkatkan pelayanan. Takut gagal ujian? Ganti waktu cemas dengan belajar. Takut pada hal di luar kendali? Fokus pada apa yang bisa Anda lakukan sekarang. Pesannya jelas, rasa takut tidak hilang dengan dipikirkan, tetapi dengan dihadapi.
Kelebihan Buku
Bagian menarik lainnya adalah konsep “penyakit dalih” (excusitis), kebiasaan mencari alasan untuk tidak bertumbuh. Dalih kecerdasan “Saya kurang pintar”, dalih usia “Saya sudah terlalu tua”, dalih kesehatan, hingga dalih keberuntungan.
Penulis menegaskan bahwa orang sukses bukan mereka yang tanpa keterbatasan, melainkan mereka yang berhenti menjadikan keterbatasan sebagai alasan. Kalimat “lebih baik bekerja sampai tua daripada menganggur karena tua” menjadi sindiran halus bagi mentalitas pasrah yang sering disamarkan sebagai kebijaksanaan.
Selain itu, buku ini menekankan pentingnya memasang target untuk bertumbuh. Menunggu waktu yang sempurna adalah ilusi. Kondisi ideal hampir tak pernah datang. Karena itu, berpikir besar harus disertai tujuan yang jelas, meski dimulai dari langkah kecil.
Tujuan besar, menurut penulis, adalah akumulasi keberhasilan-keberhasilan kecil yang dilakukan secara konsisten. Bahkan ketika lingkungan meragukan atau meremehkan, berpikir besar menuntut keberanian untuk tetap melangkah.
Kekurangan Buku
Karena termasuk kategori buku lama yang populer di zamannya, isi buku ini mungkin terdengar familiar karena sering dikutip di buku-buku baru dan kerap disampaikan oleh public speaker dalam seminar motivasi.
Dari sisi gaya penulisan, The Magic of Thinking Big kaya akan contoh nyata dan studi kasus, sehingga terasa praktis dan aplikatif. Namun, bagi sebagian pembaca, versi terjemahannya memang terasa berat secara kebahasaan dan membutuhkan konsentrasi lebih. Meski demikian, substansi buku ini tetap kuat. Nilai-nilainya universal dan relevan lintas generasi.
Pada akhirnya, buku ini bukan sekadar tentang menjadi sukses secara materi, melainkan tentang mengambil alih kendali pikiran. Jika kamu percaya kamu bisa berkembang, Anda membuka pintu kemungkinan.
The Magic of Thinking Big mengingatkan kita bahwa berpikir besar bukan soal bermimpi kosong, melainkan disiplin mental untuk tidak mengecilkan diri sendiri. Dan dalam dunia yang gemar membatasi, itu sudah merupakan sebuah keberanian besar.
Identitas Buku
- Judul: The Magic of Thinking Big
- Penulis: David J. Schwartz, Ph.D.
- Penerbit: MIC Publishing
- Tahun Terbit: 2014
- Tebal: 288 halaman
- ISBN: 978-602-8482-85-1
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Memaknai Cinta Bagi Orang Dewasa di Novel Hingga Ujung Cakrawala
-
Distraksi Patah Hati: Belajar Melepaskan dan Terluka Sewajarnya
-
Anak Krakatau Sudah Siaga Sejak Juli, Lalu Mitigasi Pemerintah ke Mana?
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
-
Fakta Ironisnya: Ketika MBG Hanya Menanggung 1/9 Biaya Makan Keluarga
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku I Do: Kiat Memutus Luka Batin Warisan Leluhur dalam Pernikahan
-
Novel No Place Like Home: Ketika Rumah Tak Selalu Berarti Pulang
-
Cara Elegan Melipat Luka Patah Hati dan Menjaga Cinta Lewat Novel Origami Hati
-
Ulasan Novel Earthshine: Beban Skripsi, Luka Mental, dan Dilema Hubungan
-
Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami: Kritik A.A. Navis tentang Ibadah Tanpa Amal
Ulasan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Suicide Awareness Month: 5 Novel yang Mengajarkan Pentingnya Support System
-
Memaknai Cinta Bagi Orang Dewasa di Novel Hingga Ujung Cakrawala
-
Ujian Hubungan Jangka Panjang: Mengapa "Before Midnight" Adalah Film Paling Jujur Tentang Pernikahan
Terkini
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Manga Gachiakuta Kembali Hiatus Tanpa Jadwal Kembali, Fans Harus Menunggu
-
Tinggalkan Gawai Sejenak, Nikmati Akhir Pekan yang Tenang Bersama The Write and Wonder Club