Sekar Anindyah Lamase | M Ghaniey Al Rasyid
Buku Teamwork 101 gubahan John C Maxwell (Dok. Pribadi)
M Ghaniey Al Rasyid

Kerja sama berarti kerja secara bersama. Berbagi tugas untuk mencapai tujuan bersama yang telah dikehendaki. Kita kemudian mengingat beberapa tokoh yang mentereng di jagad kita, seperti Jeff Bezos, Bill Gatezs, Michael Jordan sampai Albert Einstein sang jenius.

Apakah mereka hidup sendiri, tanpa melibatkan kerja sama? Syahdan, mereka mentereng dan berhasil, diawali oleh kehendak untuk bekerja sama. Sebuah buku gubahan John C. Maxwell berjudul Teamwork 101; Hal-hal yang Harus Diketahui Oleh Para Pemimpin.

Judulnya menarik. Para pembaca akan diajak berimajinasi bagaimana masuk dalam sebuah kelompok, institusi, ruang bisnis sampai tim olahraga. Buku itu dibikin bukan hanya diperuntukan yang sudah duduk jadi pimpinan, para anggota yang sedang merintis bisa pula membacanya dan mengambil hikmah dari buku gubahan Maxwell itu.

Kata Maxwell, bekerja sama itu keharusan untuk mencapai sebuah kesuksesan. Maxwell mencontohkan Albert Einstein sang Jenius. Kita memahami, Einstein dikenal berkat otaknya yang mentereng. Menariknya, Einstein yang mentereng, berkat berkecimpung dalam suatu kelompok.

“Dalam sekali waktu, saya sering sekali mengingat betapa seluruh kehidupan saya dibangun atas pekerjaan rekan-rekan saya, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, dan bagaimana saya dengan jujur harus melatih diri sendiri untuk memberi sebanyak yang telah saya terima,” ujar Einstein (Hlm. 5).

Mafhum, istilah kepiawaian dan pakar muncul tak pernah luput dari sebuah pengakuan. Pengakuan datang dari kesadaran kelompok. Einstein yang jenius selalu memberikan ide-ide cemerlangnya kepada rekan kerjanya. Menilik rumus, bergulat dengan teori sehingga mencapai dirinya pada posisi puncak.

Kendati demikian, kerja sama bukan perkara remeh. Dengan melakukannya, seseorang bisa menambah wawasan, dan mengantarkan kepada sebuah kesuksesan. John C Maxwell menampik bila keberhasilan peradaban dunia dimuali dari sikap individualitas. Lebih lanjut, ia menyiratkan bagaimana kerja sama lebih cepat mempermudah seseorang menjemput tujuan hidupnya.

Ada beberapa penyebab, mengapa seseorang enggan untuk bekerja sama. Maxwell mengkatagorikan menjadi empat aspek, antara lain, Ego, Kenaifan, Rasa Tidak Aman dan Tempramen.

Mengenai Ego, seseorang sering kali terpikat kepada kelaikan yang dapat dijemput seorang diri. Mereka berlagak seperti pemain utama dalam sebuah opera, superman atau superwoman misalnya. Maxwell mengutip Karry Wals dari Injoy Group.

“Memutar lebih banyak piring tidak membuat Anda lebih berbakat. Kemungkinan Anda untuk menjatuhkan piring justru bertambah besar,” (Hlm. 10).

Adapaun mengenai kenaifan memiliki irisan dengan perasaan ego. Saat kita menyadari bagaimana bekerja secara sendirian itu melelahkan dan lekat dengan frustasi, kadang kala ingin menampik. Padahal renungan itu adalah pertanda dari sang alam, agar seorang individu mengakui keterbatasan dan lekas bekerja sama untuk mencapai keberhasilan.

Rasa tidak aman, mengikat seseorang untuk tidak ikut campur dalam urusan kelompok. Perasaan ini hadir, ketika rasa ego dan naif beberangan mengikat seseorang. Ikut campur dalam sebuah kelompok, menegaskan ketakutan semu akan perasaan yang dibuat-buat seperti, ‘dari pada mementingkan orang lain, mending memkirkan diri sendiri. Kata Maxwell, hal tersebut membawa orang terjurumus dalam pesimisme.

Terkahir adalah tempramen, seseorang tempramen membuat ruang atau kelompok sosial berubah menjadi muram. Itu menjadi kendalai untuk mendapatkan kesuksesan. Penguatan kecerdasan emosi dan intelektual harus beberangan, untuk menciptak lingkup yang saling mendukung. Bekerja sama dianjurkan bagi anda yang ingin mencapai keberhasilan. Orang-orang besar lahir dari kerja sama.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS