Novel karya Eka Kurniawan berjudul Lelaki Harimau bergerak di jalur asmara, amarah, dan pengkhianatan yang saling berkelindan. Bagaimana peristiwa masa lalu yang saling berkelit pelan-pelan menguncup, menjelma masa depan yang penuh pengorbanan; rasa cinta, keluarga, dan moral kemanusiaan yang seharusnya dipegang teguh serta dipertahankan sepanjang hayat. Semua itu dikemas dalam narasi yang renyah, detail yang bernas, dan alur yang membangkitkan rasa penasaran pembaca.
Konflik yang dibangun penulis dalam novel ini juga begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni campuran antara bagaimana rasa cinta tumbuh-berkembang, bagaimana rasa jengkel yang bertumpuk menjelma amarah tak termaafkan, hingga pelampiasan amarah melalui beragam cara, seperti pembunuhan dan perselingkuhan. Semua itu dikemas dalam alur maju-mundur yang membuat pembaca harus jeli agar tidak salah membentuk sebuah kesimpulan yang berarti. Kesimpulan yang akan mengantarkan pembaca pada pemahaman yang utuh dan terukur.
Secara umum, novel terbitan Gramedia dengan ketebalan 190 halaman itu menceritakan konflik dua keluarga yang cukup pelik, yakni keluarga Komar bin Syu’eb yang beristri Nuraeni, dan keluarga Anwar Sadat yang beristri Kasia. Diceritakan Komar bin Syu’eb memiliki tiga anak, yakni Margio, Mameh, dan Marian. Sementara itu, Anwar Sadat juga memiliki tiga anak, yakni Laila, Maesa Dewi, dan Maharani. Dari dua keluarga tersebut, muncul interaksi sosial berupa saling memberikan manfaat—yang pada sisi lain juga membuahkan mudarat. Hebatnya, sisi manfaat dan mudarat tersebut berhasil disembunyikan oleh penulis dalam sebuah "kotak rahasia". Kotak yang harus dibongkar melalui penelusuran alur yang begitu rumit dan kompleks sehingga muncul garis simpul dari beragam konflik yang terjadi.
Dimulai dari sisi manfaat, hubungan dua keluarga itu dimulai dari Nuraeni yang bekerja di rumah Anwar Sadat sebagai asisten rumah tangga. Selain untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga, pekerjaan itu membuat Nuraeni bisa melupakan penderitaan di dalam rumah yang ia peroleh dari suaminya. Penderitaan yang lahir dari sikap bengis Komar bin Syu’eb—yang juga berhubungan dengan masa lalu keduanya. Selain Nuraeni, Margio juga mengambil manfaat dari keluarga Anwar Sadat. Mulai dari kebiasaan menumpang nonton TV, sampai bertemu dengan sosok Maharani (anak Anwar Sadat) yang belakangan mampu menumbuhkan benih cinta di ladang hati Margio. Belum lagi kebaikan hati Kasia (istri Anwar Sadat) yang membantu proses persalinan Nuraeni—yang ternyata mengandung anak Anwar Sadat.
Hubungan di atas menunjukkan bagaimana interaksi sosial kemasyarakatan yang saling memberikan manfaat satu sama lain. Mengingat manusia sebagai Zoon Politicon yang dalam keseharian pasti melakukan kerja sama dan butuh bergaul dengan orang lain. Di setiap proses pergaulan tersebut, telah diatur tentang nilai-nilai moral kemanusiaan dan profesionalitas kerja yang membatasi posisi ideal keduanya. Bahwa bukan dengan dalih manusia sebagai makhluk sosial lantas mengabaikan status personal dari masing-masing individu yang terikat dengan norma agama dan negara, begitupun sebaliknya.
Sementara itu, akibat dari "manfaat" yang telah dituai sebelumnya, muncul sisi mudarat yang akhirnya membuat suasana dua keluarga tersebut menjadi keruh dan berakhir pada pembunuhan Anwar Sadat oleh Margio. Sisi mudarat itu bermula dari hasrat tak tertahankan Anwar Sadat yang digambarkan sebagai sosok yang gila perempuan, hingga akhirnya di momen tertentu, ia menyetubuhi Nuraeni yang sudah lama tidak mendapat sentuhan dan kasih sayang dari suaminya. Parahnya, Nuraeni digambarkan melayani Anwar Sadat dengan sukarela. Akibatnya, silang-sengkarut manfaat-mudarat itu menghasilkan konflik batin tak berkesudahan, bahkan salah satunya menguncup menjelma aksi pembunuhan.
Sebagai informasi, tidak dapat dimungkiri sudah banyak jurnal yang membahas novel Lelaki Harimau besutan Eka Kurniawan. Sampai saat ini, setidaknya saya sudah menemukan enam jurnal berbeda yang mengulas novel Lelaki Harimau dari beragam sisi. Adapun enam jurnal yang dimaksud adalah sebagai berikut: “Mekanisme Pertahanan Diri Sigmund Freud pada Tokoh Margio dalam Novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan” (Jurnal Humanus), “Kekerasan terhadap Tokoh Perempuan dalam Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan Lelaki Harimau Karya Eka Kurniawan” (Jurnal Seloka), “Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Novel Lelaki Harimau Karya Eka Kurniawan: Tinjauan Psikoanalisis Sigmund Freud” (Jurnal Bahtera Indonesia), “Dominasi Laki-Laki Atas Perempuan Terhadap Kehidupan Seksual Dalam Novel Lelaki Harimau Karya Eka Kurniawan” (Jurnal Widyakstra), Penerjemahan Metafora Novel “Lelaki Harimau” Ke Dalam “L’homme Tigre” (Jurnal Ilmu Budaya), dan Trauma Kejiwaan Tokoh Utama Dalam Novel Lelaki Harimau Karya Eka Kurniawan (Jurnal Bindo Sastra).
Dari beragam jurnal di atas, terlihat bahwa ada kekayaan nilai yang disuguhkan Eka Kurniawan kepada pembaca. Salah satu di antaranya adalah tentang mekanisme pertahanan diri dan konflik batin para tokoh. Pertahanan diri yang menjurus pada konsep yang ditawarkan Sigmund Freud, dan konflik batin yang dialami semua tokoh berdasarkan masa lalu dan pengalaman masing-masing. Kemudian bagaimana dominasi laki-laki terhadap perempuan, dan juga bentuk kekerasan yang dilancarkan terhadap perempuan. Semua itu dikemas dalam satu kesatuan alur yang utuh.
Lebih jauh lagi, setiap tokoh dalam novel Lelaki Harimau memiliki konflik batin masing-masing—yang sebagian darinya harus berakhir pada sebuah kebencian, pengkhianatan, bahkan pembunuhan. Semua itu berjalan logis dan memiliki alasan pembenaran. Sehingga, dari situ penulis berhasil mengguncangkan emosi pembaca akibat carut-marut masalah yang tak berkesudahan, sampai akhirnya Margio sebagai tokoh utama membunuh Anwar Sadat dengan cara yang sadis: menggigit leher sampai mati, layaknya seekor harimau yang sedang menerkam mangsanya.
Konflik Batin Setiap Tokoh
Disadari atau tidak, setiap tokoh dalam novel Lelaki Harimau memiliki konflik batin masing-masing. Sayangnya, beberapa jurnal hanya memfokuskan pada konflik batin Margio sebagai tokoh utama. Padahal, jika dilihat secara lebih mendalam, tokoh-tokoh yang lain juga mengalami konflik batin yang luar biasa dan saling tertaut satu sama lain.
Dimulai dari Margio, konflik batin yang dialaminya datang dari dua orang yang berbeda. Pertama, datang dari Komar bin Syu’eb (ayahnya) dan yang kedua dari Anwar Sadat (majikan ibunya). Melalui Komar bin Syu’eb, Margio harus menerima siksaan fisik, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap Nuraeni (ibunya). Perlakuan bengis Komar bin Syu’eb itulah yang mengantarkan hasrat Margio untuk membunuh ayahnya. Meski dalam perjalanannya, upaya membunuh sang ayah itu akhirnya terlampiaskan pada Anwar Sadat, orang yang menghamili ibunya. Sehingga, lengkap sudah konflik batin yang dialami Margio: yang pertama datang dari internal keluarga, dan yang kedua datang dari eksternal keluarga.
Sementara itu, adik Margio yang bernama Mameh tidak bisa lepas dari trauma masa lalu saat dirinya tanpa sengaja ketahuan tidak berbusana di kamar mandi oleh ayahnya sendiri. Meski terkesan tidak sengaja, bagi anak perempuan, jelas kejadian itu akan terbenam dalam ingatan menjelma konflik batin yang takkan terlupakan. Karena itu pula, kebencian Mameh terhadap Komar bin Syu’eb muncul, ditambah sikap bengis sang ayah terhadap Nuraeni.
Di sisi lain, Komar bin Syu’eb sendiri juga merasakan konflik batin begitu ia tahu bahwa istrinya, Nuraeni, menunjukkan sikap ‘penolakan’ atas dirinya meski sudah resmi menjadi istri. Penolakan yang tercermin melalui sikap acuh tak acuh, tidak peduli, dan tidak selayaknya seorang istri yang mencintai suaminya. Jika ditarik ke belakang, sikap Nuraeni itu tercipta dari bertumpuknya rasa jengkel akibat tidak adanya kabar atau surat saat Komar pergi ke luar kota untuk bekerja. Nuraeni sudah terlanjur banyak memproduksi rasa suuzan pada Komar yang terus bergejolak. Padahal, dalam penjelasan yang lain, Komar bukan tidak ingin berkabar, tetapi karena memang bingung mau membicarakan apa di dalam surat. Selama bekerja, Komar bin Syu’eb sebenarnya menjaga kesetiaan cintanya pada Nuraeni.
Tak cukup sampai di situ, konflik batin Komar bin Syu’eb semakin menjadi-jadi setelah mengetahui istrinya dihamili orang lain. Dari kejadian tersebut, tentu Komar harus memiliki rasa sabar yang lebih kuat. Pertanyaannya, lelaki mana yang rela istrinya disetubuhi orang lain? Pasti jawabannya tidak ada. Hal tersebut pula yang semakin menguatkan amarahnya untuk berlaku kasar pada istrinya.
Sedangkan bagi Marian sebagai anak bungsu, ia harus meninggal dunia setelah tidak mendapatkan perawatan serius dari kedua orang tuanya, utamanya Komar bin Syu’eb yang sudah tahu bahwa benih Marian datang dari orang lain. Berbeda lagi dengan tokoh Laila dan Maesa Dewi. Keduanya digambarkan sebagai perempuan binal yang gagal menjaga kehormatannya setelah dihamili di luar nikah. Sepertinya sifat Laila dan Maesa Dewi dipetik dari sang ayah, Anwar Sadat.
Dari tokoh Maharani, pembaca diajak untuk merasakan konflik batin akibat rasa cinta yang tak terbalaskan. Hal itu tampak dari bagaimana sikap agresif Maharani yang berani mengungkapkan perasaannya terhadap Margio. Bahkan, Maharani tidak segan untuk sekadar melakukan kontak fisik dengan Margio di bawah pohon saat yang lain sibuk menonton pertunjukan. Sementara itu, Margio tidak menunjukkan sikap seorang pencinta. Sampai akhirnya, kekacauan perasaan itu bertambah setelah Maharani tahu kelakuan bejat ayahnya terhadap ibu dari lelaki yang dicintainya.
Meski menyimpan rasa cinta pada Maharani, Margio terpaksa menahan hasrat itu karena nantinya mereka akan menjadi saudara. Dalam artian, Margio masih berharap Anwar Sadat mau mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab menikahi Nuraeni, apalagi Komar bin Syu’eb sudah mati. Namun sayang, Anwar Sadat malah tidak mau bertanggung jawab dan mengatakan bahwa dirinya tidak mencintai Nuraeni. Di momen itulah, harimau dalam diri Margio keluar hingga mengakibatkan pembunuhan secara brutal. Pastinya, kematian Anwar Sadat juga akan memproduksi konflik batin baru bagi Laila, Maesa Dewi, dan Maharani.
Sejarah Perempuan dan Kekerasan Seksual
Jika dicermati lebih jauh, karya Eka Kurniawan cukup banyak mengangkat tema tentang asmara, perempuan, dan kekerasan seksual. Mulai dari novel legendaris berjudul Cantik itu Luka, kemudian disusul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, hingga Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Semua novel itu bergerak di jalur dinamika cinta, perempuan, dan seks.
Memang, sampai sekarang, salah satu pembahasan gender yang paling banyak disorot adalah tentang kehormatan perempuan yang di beberapa tempat masih mendapatkan perlakuan tidak layak. Perempuan sekadar dijadikan objek pelampiasan hasrat biologis dan ditempatkan di kelas nomor dua. Bahkan di beberapa tempat, perempuan masih diidentikkan dengan ruang lingkup sumur-kasur-dapur. Akibat dari pengklasifikasian tersebut, gairah untuk bertindak semena-mena terhadap perempuan muncul tak terelakkan.
Jika kita mau mengamati sejarah secara lebih jauh, diskriminasi terhadap eksistensi perempuan terjadi jauh sebelum Islam datang. Waktu itu, perempuan sangat menderita dan tidak memiliki kebebasan hidup yang layak. Dalam peradaban Romawi misalnya, wanita sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya; setelah kawin, kekuasaan tersebut pindah ke tangan sang suami. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya, dan membunuh segala hasil usaha wanita menjadi hak milik keluarganya yang laki-laki (Shihab, 1996).
Selain itu, dalam masyarakat Makkah di masa Jahiliah, seorang ayah boleh saja membunuh anaknya sekiranya lahir perempuan. Pada zaman itu, ada keyakinan bahwa setiap anak perempuan yang lahir harus dibunuh karena khawatir nantinya akan kawin dengan orang asing atau orang yang berkedudukan sosial rendah seperti budak atau mawali. Sungguh betapa kejamnya perlakuan zaman Jahiliah terhadap perempuan (Umar, 2010). Sampai saat ini, potensi diskriminasi terhadap derajat perempuan mulai bergeser pada ranah pelecehan seksual, sebagaimana yang dialami para tokoh perempuan dalam novel Lelaki Harimau.
Akhirnya, begitu Islam datang sebagaimana yang kita terima saat ini, hubungan badan antarjenis diatur sedemikian rupa melalui ritual pernikahan yang berisi janji suci untuk saling melengkapi sepanjang hidup. Janji atas nama Tuhan untuk saling setia dan tidak saling mengkhianati. Melalui syariat tersebut, derajat perempuan diangkat sebagai makhluk bumi yang terhormat, bukan semacam barang yang bisa diperjualbelikan. Tinggal bagaimana implementasi ajaran Islam tentang kesetaraan gender bisa dijaga oleh setiap individu sebagai bagian dari lingkaran sosial.
Novel Lelaki Harimau menjadi sinyal bagi seluruh pembaca untuk bisa merawat keutuhan keluarga melalui sikap-sikap ideal agar tidak terjadi pengkhianatan yang berujung perselingkuhan, bahkan pembunuhan. Sikap hati-hati dan transparansi dalam sebuah hubungan menjadi kunci agar tidak terjadi salah paham yang berkepanjangan.
Terakhir, berkat kedalaman novel Lelaki Harimau, pada Maret 2016 lalu novel tersebut berhasil mendapatkan prestasi sebagai buku Indonesia pertama yang dinominasikan pada ajang penghargaan sastra bergengsi di dunia, The Man Booker International Prize. Tidak heran jika novel tersebut dijadikan bahan kajian dan penulisan karya ilmiah atas tafsir dari teori kesusastraan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Review Buku From Here to the Great Unknown: Sisi Manusiawi Keluarga Elvis Presley
-
Ulasan Novel Pengantin Remaja: Membuka Tabir Realita Pernikahan Dini
-
Novel Teruslah Bodoh, Jangan Pintar: Ironi Cerdas di Tangan yang Salah!
-
Ulasan Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang, Lelah Hidup yang Sunyi
-
Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub: Kritik Sunyi untuk Diktator
Ulasan
-
Ulasan Film Rajah: Teror Mistis Jawa yang Intens dan Mencekam!
-
Harapan dari Tempat Paling Jauh: Saat Ekspektasi Orang Tua Membunuh Jiwa
-
Belajar Menerima Setiap Luka di Novel Matahari Minor karya Tere Liye
-
Buku Ada Kalanya: Catatan Menemukan Diri dari Kedai Kopi
-
Sisi Tergelap Surga: Menggugat Batas Benar dan Salah di Tengah Miskin