Sejak kalimat pembuka yang terkenal, “Tak ada yang lebih menyakitkan dalam jatuh cinta kecuali kata hampir,” Brian Khrisna langsung menyeret pembaca ke dalam kesedihan. Tidak ada kisah cinta manis atau romansa penuh harapan.
Yang ada hanyalah perangkap di wilayah abu-abu. Hampir jadian, hampir bersama, hampir saling memiliki, tetapi gagal di tengah jalan. The Book of Almost karya Brian Khrisna merangkum semua kesedihan dan "hampir" yang menyakitkan itu dengan pilihan diksi indah.
Buku ini bukan novel dengan alur linear dan tokoh yang berkembang secara kronologis, melainkan kumpulan potongan perasaan tentang satu tema besar: cinta yang tidak pernah benar-benar menjadi “pernah”, hanya berhenti di kata hampir.
Isi Buku
Buku ini berisi sajak-sajak pendek dan prosa reflektif yang membahas berbagai bentuk hubungan tidak tuntas. Ada kisah tentang cinta yang kandas karena restu orang tua, friendzone, perbedaan keyakinan, waktu yang tidak tepat, hingga dua orang yang saling mencintai tetapi tidak pernah cukup berani untuk benar-benar memperjuangkan. Semua dirangkum dalam bahasa yang sederhana, lugas, namun tetap puitis dan emosional.
Brian Khrisnayang juga dikenal dengan nama pena “Mbeeer”, memang dikenal luas lewat tulisan-tulisannya di Tumblr dan media sosial. Tema besar yang ia angkat konsisten: asmara, perpisahan, kehilangan, patah hati, dan proses pemulihan.
Menariknya, meski mayoritas isi buku ini sendu dan melankolis, sesekali muncul humor tipis yang menjadi ciri khas Brian. Baginya, romantisme tidak selalu tentang puisi indah, tetapi juga tentang kemampuan menertawakan luka.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kekuatan utama The Book of Almost terletak pada pemilihan diksi. Brian Khrisna piawai mengolah kata-kata yang terasa akrab dengan keseharian pembaca, tetapi tetap memiliki kedalaman emosional.
Banyak pembaca mengaku merasa “ditampar” oleh kalimat-kalimat pendek yang seolah mewakili isi kepala dan isi hati mereka sendiri. Tidak heran jika buku ini sering memicu reaksi spontan seperti, “Ini gue banget,” atau “Ini yang gue rasain sekarang.”
Namun, buku ini juga memiliki kelemahan yang cukup terasa. Banyak pembaca menilai adanya pengulangan emosi dan inti cerita. Hampir setiap bagian kembali pada rasa kehilangan yang serupa, hanya dibungkus dengan sudut pandang dan gaya bahasa yang berbeda.
Bagi sebagian orang, hal ini justru memperkuat tema “hampir” yang berulang dalam hidup. Tetapi bagi pembaca lain, pengulangan tersebut bisa menimbulkan kejenuhan, bahkan membuat pembaca mungkin memilih memasukkan buku ini ke list DNF (did not finish).
Di bagian akhir buku, terdapat beberapa cerita pendek yang sedikit memberi variasi, salah satunya kisah tentang Dimas yang sering disebut paling membekas dan menyayat. Bagian ini menjadi angin segar karena menghadirkan narasi yang lebih utuh dibanding potongan refleksi sebelumnya.
Rekomendasi Buku
Secara keseluruhan, The Book of Almost adalah buku yang sangat bergantung pada kondisi emosional pembacanya. Jika dibaca saat sedang patah hati, buku ini bisa menjadi teman yang memahami tanpa menghakimi. Namun jika dibaca dalam kondisi netral, buku ini mungkin terasa terlalu dramatis dan repetitif.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang pernah terjebak di hubungan “nyaris”, bagi yang sedang gamon, friendzone, atau mencintai dalam diam. The Book of Almost tidak menawarkan solusi instan, tetapi mengajak pembaca merayakan luka, merelakan yang tidak jadi, dan perlahan belajar menerima bahwa tidak semua cinta harus menjadi “pernah” untuk bisa bermakna.
Identitas Buku
- Judul: The Book of Almost
- Penulis: Brian Khrisna
- Penerbit: MediaKita
- Tahun Terbit: 2018
- ISBN: 978-979-794-557-2
- Tebal: 236 Halaman
Baca Juga
-
Memahami Criminal Mind: Kerangka Kognitif di Balik Perilaku Antisosial
-
Belajar Menerima Kenyataan Pahit di Novel Sadajiwa karya Erlita Scorpio
-
Novel Bukan Salah Hujan: Kenapa Kita Selalu Mencari Kambing Hitam?
-
Novel Podcrash: Membedah Sisi Buruk Media Sosial dan Dampak Fitnah
-
Menenangkan Diri Sejenak dari Dunia yang Riuh Lewat Novel Di Waktu Duha
Artikel Terkait
-
Belajar Menerima Kenyataan Pahit di Novel Sadajiwa karya Erlita Scorpio
-
Series Cinta Mati Dinilai Mirip Kisah Aurelie Moeremans, Tayang di WeTV
-
Hitung-hitungan Ngaco Roby Tremonti saat klarifikasi Bikin Bingung Jerome Polin: Ajarin Aku, Please
-
Novel Podcrash: Membedah Sisi Buruk Media Sosial dan Dampak Fitnah
-
Jejak Digital Aurelie Moeremans Speak Up ke Media Soal Roby Tremonti Lakukan KDRT Viral Lagi
Ulasan
-
Kado Terbaik: Hadiah Paling Mahal Adalah Keluarga
-
Kembali ke Istiqlal, Menemukan Masjid yang Berbeda
-
Belajar Menerima Kenyataan Pahit di Novel Sadajiwa karya Erlita Scorpio
-
Film Unexpected Family: Suguhkan Perjalanan Emosi Penuh Tawa dan Air Mata
-
Review Penunggu Rumah Buto Ijo: Adaptasi Cerita Rakyat yang Mencekam di Bioskop
Terkini
-
Sambut Piala ASEAN 2026, John Herdman Bakal Andalkan Tim Pelapis?
-
Sinopsis The Art of Sarah: Identitas Ganda Shin Hae Sun Diburu Lee Jun Hyuk
-
Daily Look Sat-Set, Intip 4 Gaya OOTD Minimalis ala Cha Seo Won
-
6 Film dan Series Netflix Original Indonesia 2026 yang Patut Dinantikan
-
Memahami Criminal Mind: Kerangka Kognitif di Balik Perilaku Antisosial