M. Reza Sulaiman | Moh. Taufiq Hidayat
Novel Kubah karya Ahmad Tohari. (gramedia.com)
Moh. Taufiq Hidayat

Setelah sebelumnya saya merasakan haru dan terpesona saat membaca Orang-Orang Proyek, kali ini saya kembali terpesona saat menikmati novel Kubah. Ahmad Tohari memiliki cara bercerita yang sangat menakjubkan; sederhana, jelas, tetapi sangat santun. Cerita tentang karakter utamanya, Karman, terasa begitu nyata.

Hal yang mengagumkan, meskipun berlatar belakang sejarah, buku ini sama sekali tidak terasa kaku seperti buku sejarah yang diajarkan di sekolah. Unsur dramanya sangat kuat dan itulah yang membuat saya terus ingin menikmati karya-karyanya.

Sinopsis: Tobatnya Sang Mantan Aktivis

Novel ini mengangkat isu yang cukup peka, mengenai perjalanan tobat seorang individu yang pernah tergabung dalam partai komunis. Kita semua tahu seberapa rumit keadaan mantan anggota partai tersebut serta keluarganya, yang sering kali masih dicap sebagai “penjahat” atau terpinggirkan dalam masyarakat. Penulis menggambarkan perjalanan hidup Karman dengan jelas, mulai dari masa kanak-kanaknya yang sederhana hingga saat ia terpengaruh oleh ideologi partai tersebut.

Melalui perspektif Karman, saya bisa memahami bagaimana proses indoktrinasi dilakukan dengan cara yang halus dan licik untuk memprovokasi generasi muda melawan pemerintah. Karman di sini tampil sebagai korban yang menyedihkan; sosok yang terjebak oleh janji-janji ideologis. Puncak emosi bagi saya terjadi ketika Karman terlibat perdebatan sengit dengan Paman Hasyim. Pada saat itu, Karman bersikeras bahwa agama adalah candu—suatu pandangan yang sengaja ditanamkan untuk menjauhkannya dari nilai-nilai agama demi membenarkan segala tindakan.

Nilai Moral dan Nostalgia Perdesaan

Selain memiliki elemen sejarah yang gelap, novel ini juga dipenuhi dengan drama keluarga dan kisah cinta yang kompleks. Karman harus dengan hati terbuka menerima kenyataan bahwa saat ia terasing, istrinya harus melanjutkan hidup dan menikah kembali. Kembalinya Karman setelah waktu yang lama memicu perasaan yang mendalam, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk anak-anaknya yang kini telah menjalani kehidupan baru.

Di tengah konflik yang intens ini, Ahmad Tohari tetap menanamkan nuansa ketenangan melalui karakter seperti Haji Bakir dan Paman Hasyim. Mereka mengingatkan saya pada sosok Pak Tarya dalam novel Orang-Orang Proyek, seseorang yang berwibawa dan bijak. Membaca novel ini juga membawa saya kembali ke kenangan masa kecil di desa; bermain di ladang, belajar mengaji secara berkelompok di musala, dan menikmati keindahan alam. Kenangan tersebut sangat hangat dan membuat saya merindukan masa-masa itu.

Sesuai dengan judulnya, Kubah menjadi lambang penebusan dosa dan rasa syukur Karman. Setelah diterima kembali oleh masyarakat yang sempat membencinya, Karman memilih untuk mendedikasikan kemampuannya dalam membangun kubah masjid di desanya.

Pelajaran moral yang paling membekas bagi saya setelah menutup buku ini adalah: seburuk dan sesalah apa pun masa lalu kita, selama napas masih dikandung badan, kejarlah kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik. Segala niat baik pasti akan dimudahkan jalannya. Akhir cerita Karman sukses membuat saya tersenyum senang.

Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk kamu yang ingin belajar tentang memaafkan diri sendiri dan orang lain. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!

Identitas Buku:

  • Judul: Kubah
  • Penulis: Ahmad Tohari
  • Editor: Eka Pudjawati
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Terbit: Januari 2019 (Cetakan ketujuh)
  • Tebal: 216 hlm.
  • ISBN: 9789792287745