Setelah sebelumnya saya merasakan haru dan terpesona saat membaca Orang-Orang Proyek, kali ini saya kembali terpesona saat menikmati novel Kubah. Ahmad Tohari memiliki cara bercerita yang sangat menakjubkan; sederhana, jelas, tetapi sangat santun. Cerita tentang karakter utamanya, Karman, terasa begitu nyata.
Hal yang mengagumkan, meskipun berlatar belakang sejarah, buku ini sama sekali tidak terasa kaku seperti buku sejarah yang diajarkan di sekolah. Unsur dramanya sangat kuat dan itulah yang membuat saya terus ingin menikmati karya-karyanya.
Sinopsis: Tobatnya Sang Mantan Aktivis
Novel ini mengangkat isu yang cukup peka, mengenai perjalanan tobat seorang individu yang pernah tergabung dalam partai komunis. Kita semua tahu seberapa rumit keadaan mantan anggota partai tersebut serta keluarganya, yang sering kali masih dicap sebagai “penjahat” atau terpinggirkan dalam masyarakat. Penulis menggambarkan perjalanan hidup Karman dengan jelas, mulai dari masa kanak-kanaknya yang sederhana hingga saat ia terpengaruh oleh ideologi partai tersebut.
Melalui perspektif Karman, saya bisa memahami bagaimana proses indoktrinasi dilakukan dengan cara yang halus dan licik untuk memprovokasi generasi muda melawan pemerintah. Karman di sini tampil sebagai korban yang menyedihkan; sosok yang terjebak oleh janji-janji ideologis. Puncak emosi bagi saya terjadi ketika Karman terlibat perdebatan sengit dengan Paman Hasyim. Pada saat itu, Karman bersikeras bahwa agama adalah candu—suatu pandangan yang sengaja ditanamkan untuk menjauhkannya dari nilai-nilai agama demi membenarkan segala tindakan.
Nilai Moral dan Nostalgia Perdesaan
Selain memiliki elemen sejarah yang gelap, novel ini juga dipenuhi dengan drama keluarga dan kisah cinta yang kompleks. Karman harus dengan hati terbuka menerima kenyataan bahwa saat ia terasing, istrinya harus melanjutkan hidup dan menikah kembali. Kembalinya Karman setelah waktu yang lama memicu perasaan yang mendalam, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk anak-anaknya yang kini telah menjalani kehidupan baru.
Di tengah konflik yang intens ini, Ahmad Tohari tetap menanamkan nuansa ketenangan melalui karakter seperti Haji Bakir dan Paman Hasyim. Mereka mengingatkan saya pada sosok Pak Tarya dalam novel Orang-Orang Proyek, seseorang yang berwibawa dan bijak. Membaca novel ini juga membawa saya kembali ke kenangan masa kecil di desa; bermain di ladang, belajar mengaji secara berkelompok di musala, dan menikmati keindahan alam. Kenangan tersebut sangat hangat dan membuat saya merindukan masa-masa itu.
Sesuai dengan judulnya, Kubah menjadi lambang penebusan dosa dan rasa syukur Karman. Setelah diterima kembali oleh masyarakat yang sempat membencinya, Karman memilih untuk mendedikasikan kemampuannya dalam membangun kubah masjid di desanya.
Pelajaran moral yang paling membekas bagi saya setelah menutup buku ini adalah: seburuk dan sesalah apa pun masa lalu kita, selama napas masih dikandung badan, kejarlah kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik. Segala niat baik pasti akan dimudahkan jalannya. Akhir cerita Karman sukses membuat saya tersenyum senang.
Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk kamu yang ingin belajar tentang memaafkan diri sendiri dan orang lain. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!
Identitas Buku:
- Judul: Kubah
- Penulis: Ahmad Tohari
- Editor: Eka Pudjawati
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Terbit: Januari 2019 (Cetakan ketujuh)
- Tebal: 216 hlm.
- ISBN: 9789792287745
Baca Juga
-
Jangan Disalahkan, Korban Baper Akibat "Pemberi Harapan Palsu" Adalah Korban Ketidakadilan Emosional
-
Menembus Batas, Menyapa Cengkeh: Petualangan KKN Paling Berkesan di Tanah Dengeng-Dengeng
-
Antara Pompa Air yang Haus dan Pangkalan Gas yang Bisu di Tengah Kemarau
-
Reuni Kemerdekaan di Warkop: Antara Secangkir Kopi dan Makna Merdeka
-
Dua Pria di Satu Atap: Mengurai Jarak dan Gengsi Antara Anak dan Ayah
Artikel Terkait
-
Novel 23:59: Saat Patah Hati Harus Berdamai dengan Jawaban
-
Novel The Lost Apothecary, Misteri Toko Obat Tersembunyi di London
-
Gie dan Surat-Surat yang Tersembunyi: Belajar Integritas dari Sang Legenda
-
Buku Perjalanan Menerima Diri, Wujudkan Self Love dengan Latihan Journaling
-
Pendidikan Kaum Tertindas: Saat Sekolah Tak Lagi Memanusiakan
Ulasan
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
Terkini
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah