Taman rusa ini terletak di pintu ketiga USU, tidak jauh dari fakultas tempat saya berkuliah. Hanya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, kita sudah sampai di area taman yang berada di belakang tulisan USU dan tepat di depan kantor rektorat.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya taman biasa. Namun bagi saya, taman rusa menyimpan satu momen yang sangat berarti—tempat di mana saya pernah meluapkan kesedihan yang tak tertahankan.
Hari itu, saya sedang berada di titik terendah. Nilai ujian praktikum kimia anorganik saya kembali remedial. Memang, hampir semua teman saya mengalami hal yang sama, tetapi entah mengapa tekanan itu terasa begitu berat bagi saya. Ditambah lagi dengan ekspektasi dari kakak asisten yang terasa cukup menekan, membuat saya semakin terpuruk.
Padahal, saat itu saya memiliki keinginan besar untuk menjadi asisten laboratorium kimia anorganik. Dalam pikiran saya, nilai yang baik adalah syarat mutlak. Namun kenyataannya, saya selalu remedial atau tidak lulus.
Hari itu adalah ujian dari 12 judul sebelum menuju ujian akhir, dan lagi-lagi saya tidak lulus. Padahal saya sudah belajar mati-matian. Mungkin memang saat itu saya merasa kimia anorganik bukan “bidang” saya. Setelah pengarahan lab yang kembali menekankan pentingnya nilai, perasaan saya semakin jatuh.
Alih-alih pulang ke kos, saya memilih berjalan lurus menyusuri pintu 3 yang mulai sepi menjelang sore. Saya melewati Polmed, melewati auditorium, hingga akhirnya sampai di taman rusa. Saya duduk di sana. Masih ingat, hari itu saya mengenakan pakaian serba hitam seolah mencerminkan suasana hati saya.
Air mata tetap mengalir, meski tanpa tangisan histeris. Di bawah langit yang mulai redup, saya mengeluh dalam doa, “Tuhan, kenapa ujian saya tidak lulus-lulus?” Saya juga sempat menyalahkan diri sendiri. Lalu, pandangan saya tertuju pada rusa-rusa di hadapan saya. Mereka tampak tenang, ada yang makan, ada yang hanya diam. Tidak melakukan apa-apa, tetapi tetap terlihat damai.
Saat itu saya berpikir, “Apa mereka tidak stres ya hidup di dalam kandang seperti itu?”
Biasanya taman ini cukup ramai, pengunjung datang memberi makan wortel. Namun sore itu begitu sepi karena waktu sudah hampir setengah 6. Hanya ada beberapa orang bermain voli di seberang jalan. Tapi saya tidak peduli, saya tetap duduk di sana, menangis, dan menatap langit.
Tidak lama kemudian, perlahan perasaan saya mulai mereda. Entah bagaimana, melihat rusa-rusa itu justru membuat saya merasa tenang. Saya seperti diingatkan bahwa Tuhan selalu punya cara untuk menenangkan hati saya. Saya juga tersadar mungkin selama ini saya terlalu tenggelam dalam pikiran dan ketakutan sendiri. Rusa-rusa itu hidup dalam keterbatasan, namun tetap terlihat tenang. Sementara saya, yang memiliki kebebasan, justru terjebak dalam kecemasan.
Sore itu menjadi salah satu momen paling berharga dalam hidup saya. Saya belajar bahwa tidak semua hal harus dipikirkan berlebihan. Bahwa selama kita masih hidup, masih banyak hal yang bisa disyukuri. Masalah memang tidak bisa dihindari, tetapi dari sanalah kita belajar untuk menerima dan mengikhlaskan.
Soal nilai? Mungkin kimia anorganik bukan kekuatan utama saya. Namun bukan berarti saya berhenti belajar. Justru dari situ saya belajar mengenali diri sendiri. Mungkin saya hanya perlu belajar ikhlas. Dan dari taman rusa itu, saya pulang bukan hanya dengan hati yang lebih tenang, tetapi juga dengan pelajaran hidup yang tidak akan saya lupakan.
Baca Juga
-
Menyusuri Jalur TeleSamosir: Wisata Edukasi Geologi di Jantung Kaldera Toba
-
UMR Tinggi, Tapi Kenapa Hidup Tetap Terasa Berat? Catatan Perantau di Batam
-
Cerita Perantau di Batam: Gagal Makan Ayam Penyet, Ujung-ujungnya Mi Ayam Jadi Penyelamat
-
Kisah di Balik Golgota: Memahami Injil Matius sebagai Narasi Agung Sang Mesias.
-
Hari Autisme Sedunia: Melihat Dunia dari Mata Sam yang Bikin Kamu Sadar Kalau Beda Itu Indah
Artikel Terkait
-
Resonansi Sunyi di Jombang: Sebuah Dialektika Tentang Hidup dan Rasa Cukup
-
Menemukan Jeda di Teras Rumah: Saat Kenyamanan Ternyata Berada Begitu Dekat
-
Tukarkan Kayu dengan Rasa, Rahasia Kuliner di Balik Megahnya Candi Jambi
-
Salatiga dan Seni Merawat Perbedaan di Tengah Dunia yang Bising
-
Ngronggo Sport Art Center: Tempat Nyore Sederhana yang Penuh Kenangan
Ulasan
-
Novel Nyai Dasima: Dilema Nyai Dasima di Antara Dua Dunia Kelam
-
Tukarkan Kayu dengan Rasa, Rahasia Kuliner di Balik Megahnya Candi Jambi
-
Review Film Ready or Not 2: Here I Come, Adegan Aksi dan Gore Memuaskan!
-
Menafsir Ulang Kutukan Batu di Era Modern dalam Legenda Kelam Malin Kundang
-
Review Film Feel My Voice: Cerita Hangat tentang Cinta dan Kebebasan
Terkini
-
Jangan Salah Beli! 4 HP yang Masih Worth It di Tengah Harga yang Naik
-
Jadi Film Terseram 2026, Salmokji Akan Tayang di Bioskop Indonesia
-
5 HP Infinix dengan Kamera Terbaik 2026, Harga Mulai di Bawah Rp2 Jutaan
-
Lenovo Serius Garap Tablet Premium, Yoga Tab Siap Jadi Pengganti Laptop?
-
Resonansi Sunyi di Jombang: Sebuah Dialektika Tentang Hidup dan Rasa Cukup