Belakangan ini, media massa kita seolah mendapatkan musuh bersama: ikan sapu-sapu. Makhluk itu dihujat, dikutuk sebagai "antek asing" yang invasif, dan diburu tanpa ampun. Jujur saja, saya pun setuju dengan pembasmian ikan sapu-sapu yang sudah merusak ekosistem sungai kita. Namun, ada rasa geli sekaligus getir kalau mengingat memori masa kecil.
Dulu, ikan ini adalah barang mewah bagi anak-anak yang hobi memelihara ikan hias. Saya ingat betul, harga ikan sapu-sapu itu sekitar Rp5.000 per ekor—angka yang lumayan besar di zamannya—dan kehadirannya sangat dicari hanya untuk sekadar membersihkan kaca akuarium. Siapa sangka, ikan yang dulu kita jaga dengan hati-hati itu kini jadi monster yang dianggap penjajah.
Sejarah kehadiran mereka di Nusantara sebenarnya masih diselimuti misteri, tapi para ahli sepakat bahwa kucing-kucing yang kita elus sekarang bukanlah "pribumi" asli. Meski tidak ada catatan pasti kapan dan siapa yang pertama kali membawa mereka ke sini, diduga kuat nenek moyang kucing domestik kita tiba melalui jalur perdagangan dan migrasi laut berabad-abad silam.
Ironisnya, kucing yang memenuhi pasar-pasar kita saat ini adalah keturunan jauh dari kucing liar Timur Tengah dan Afrika (Felis lybica) yang menyebar secara global. Mereka adalah imigran yang sukses beradaptasi hingga kita lupa bahwa mereka sebenarnya adalah pendatang.
Lalu, adakah kucing yang benar-benar asli Indonesia? Jawabannya ada, namun nasibnya jauh berbeda. Kita punya Kucing Busok dari Pulau Raas, Madura, yang merupakan ras asli Indonesia dengan ciri khas bulu abu-abu kebiruan yang cantik. Namun, sementara kucing Busok yang asli justru langka dan dilindungi, "antek asing" keturunan Afrika ini justru meledak populasinya dan menguasai setiap sudut gang. Inilah ironi yang nyata: kita terlalu sibuk menjadi pelayan bagi spesies pendatang yang invasif, sementara kekayaan fauna asli kita sendiri malah nyaris tak terdengar suaranya.
Sebagai sesama pencinta kucing yang juga memelihara beberapa kucing liar di rumah, saya tahu persis bagaimana rasanya. Ada ikatan batin yang sulit dijelaskan saat kita melihat mata mereka yang bulat atau mendengar suara purring-nya. Namun, mari kita sesekali melepas kacamata kuda kita dan melihat realitas di lapangan. Di sekitar kita, di pasar-pasar, di sudut gang, hingga di area perkantoran, populasi kucing liar sudah meledak pada tahap yang mengerikan.
Kita mungkin bangga dengan berbagai komunitas yang giat melakukan gerakan sterilisasi. Tapi, mari kita bicara angka secara pahit: kecepatan kita menyuntik steril kalah jauh jika dibandingkan dengan kecepatan rahim kucing betina yang mampu melahirkan berkali-kali dalam setahun. Satu pasang kucing yang tidak dikontrol dalam beberapa tahun bisa menghasilkan ratusan keturunan. Inilah mesin reproduksi alami yang paling efisien sekaligus memusingkan.
Pembasmian Kucing Liar di Quensland
Sebaiknya Cat Lover tidak melihat gambar di atas. Mungkin di Indonesia efek kerusakannya belum terasa sehebat di Australia, di mana kucing liar dicap sebagai penyebab kepunahan spesies asli. Di sana, pemerintah mengambil langkah ekstrem: kucing liar diburu dan dibasmi tanpa ampun. Melihat dokumentasi timbunan mayat kucing yang mati ditembak di sana benar-benar menghancurkan hati saya. Pemandangannya begitu tragis; tumpukan tubuh-tubuh berbulu itu tak jauh beda dengan tumpukan ikan sapu-sapu yang bau dan dibuang begitu saja setelah ditangkap.
Di sinilah letak standar ganda kita sebagai manusia. Ikan sapu-sapu tidak punya "pasukan pembela" garis keras. Sedangkan kucing? Sentuh sedikit saja, maka satu internet bisa mengamuk menyerangmu. Kita terjebak dalam romantisme emosional yang membuat kita buta bahwa ledakan populasi ini sebenarnya juga menyengsarakan kucing itu sendiri—mereka hidup kelaparan, berpenyakit, dan mati mengenaskan tertabrak kendaraan di jalanan.
Lalu, kita harus bagaimana? Apakah kita akan terus menutup mata sampai ekosistem kita benar-benar goyah? Ataukah kita akan menunggu sampai pemandangan timbunan mayat seperti di luar negeri itu sampai ke tanah air kita? Ini adalah pilihan yang membuat siapa pun bingung.
Sebagai cat lover garis keras, saya sendiri akan berdiri di barisan paling depan untuk menentang habis-habisan jika sampai ada upaya pembasmian kucing secara massal di negeri ini! Namun di saat yang sama, batin saya menjerit melihat kondisi mereka yang tak terkendali.
Jadi, hayo, mau dibawa ke mana masalah ini? Mau terus jadi "babu" yang menutup mata, atau berani mencari solusi yang nyata? Silakan pilih, tapi bersiaplah menerima hujatan, termasuk dari saya sendiri.
Baca Juga
-
Kusni Kasdut: Potret Pilu Veteran yang Tersisih Setelah Indonesia Merdeka
-
SagaraS: Jawaban di Balik Kotak Hitam dan Muara Segala Obsesi Tuan Muda Ali
-
Menyisir Getir Kehidupan Perempuan Pariaman lewat Antologi Perawat Kenangan
-
Menyesal tapi Nagih dalam Kumpulan Cerpen Sebelum Gerimis Jatuh di Kening
-
Kesetiaan di Balik Bumbu Pecel: Perjuangan Abdi Menyelamatkan Trah Bangsawan
Artikel Terkait
-
Kenapa Sungai Jakarta Tercemar Logam Berat? Bikin Ikan Sapu-Sapu Tidak Bisa Dijadikan Pakan Ternak
-
Waspada Kanker hingga Gagal Ginjal! Sudinkes Jaktim Ingatkan Bahaya Konsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Warga Ciduk Pengguna Sabu Mondar-mandir saat Cari Ikan Sapu-sapu, Sempat Disuruh Tiduran di Got
-
Rano Karno: Ikan Sapu-Sapu Jakarta Mau Diolah Seperti di Brasil
-
6,9 Ton Ikan Sapu-Sapu Diangkat dari Jakarta: Mengapa Spesies Ini Jadi Ancaman Serius?
Kolom
-
Susah Cari Jodoh Secara Langsung? Mengapa Media Sosial Jadi Solusi di Era Digital
-
Kartini dan Perempuan Hari Ini: Menulis sebagai Ruang Aman untuk Bersuara
-
Kenapa Pilihan Hidup Perempuan Selalu Jadi Perdebatan di Ruang Publik?
-
Fenomena 'Ah Tapi' dalam Dilema Pilih-Pilih Loker: Realistis atau Gengsi?
-
Hari Bumi 2026: Refleksi di Tengah Kepungan Kabut dan Ancaman Karhutla
Terkini
-
Menang Gugatan, Kontrak FANTASY BOYS dan Doha BAE173 Resmi Ditangguhkan
-
Ramen Master: Kuliner Jepang Favorit Mahasiswa yang Ramah Kantong di Malang
-
Curi Sorotan, Maika Monroe Kembali Main Film Horor Lewat Victorian Psycho
-
Seungkwan SEVENTEEN Berpeluang Debut Akting Melalui Drama Wed Thurs Fri
-
Tayang Mei, Ryohei Otani dan Jin Young Bintangi Shota's Last Business Trip