Novel Maryam karya Okky Madasari hadir sebagai sebuah potret literasi yang berani sekaligus menyimpan kegamangan dalam penyampaiannya. Melalui tokoh utamanya, Maryam, pembaca diajak menelusuri lapisan penderitaan seorang perempuan yang terlahir di tengah komunitas Ahmadiyah di Lombok.
Sejak awal, narasi ini membangun atmosfer keterasingan; bagaimana sebuah keluarga harus hidup dalam kewaspadaan hanya karena keyakinan yang mereka peluk dianggap menyimpang oleh arus utama. Namun, ada satu ganjalan yang terasa cukup kuat dalam pembangunan ceritanya: penulis seolah enggan terjun terlalu dalam ke dalam pusaran konflik akidah yang sebenarnya menjadi sumbu utama permasalahan.
Penjelasan mengenai apa yang membuat Ahmadiyah dianggap berbeda hanya muncul secara samar melalui simbolisme lukisan di ruang tamu, membuat konteks dasar perselisihan ini terasa mengambang bagi pembaca yang mengharapkan pemaparan yang lebih berimbang. Jadi pembaca yang kepo dengan Ahmadiyah harus menuntaskan eingintahuannya dengan browsing sendiri di google. Apa sih yang membuat aliran ini kerap dianggap sesat.
Perjalanan hidup Maryam digambarkan sebagai rangkaian pengasingan yang bertubi-tubi. Dimulai dari masa kecil yang penuh sekat sosial, hingga fase dewasa yang diwarnai patah hati ideologis. Sosok Gamal, pria sesama Ahmadi yang diharapkan menjadi pelabuhan hidup, justru berbalik arah dan meninggalkan komunitasnya dengan sapaan "sesat". Luka ini membawa Maryam melarikan diri ke Jakarta, mencari validasi dan cinta pada sosok Alam yang berasal dari luar dunianya.
Namun, pernikahan yang ia harapkan menjadi jembatan perdamaian justru berubah menjadi jeruji baru. Di bawah tekanan ibu mertua yang terus-menerus memberikan stigma negatif, Maryam dipaksa menelan kenyataan bahwa masa lalunya dianggap sebagai kutukan bagi masa depannya. Di sini, Okky berhasil memotret bagaimana prasangka agama dapat merusak struktur domestik paling kecil dan menghancurkan martabat seorang individu secara perlahan.
Ketika Maryam memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya demi mencari ketenangan, ia justru disambut oleh tragedi yang lebih kolosal: pengusiran paksa keluarganya dari rumah mereka sendiri. Pada titik ini, fokus novel bergeser dari urusan hati menuju kritik sosial yang tajam. Fokusnya bukan lagi tentang debat teologis mana yang paling benar, melainkan tentang ketidakberdayaan kaum minoritas di hadapan kekuatan massa yang besar dan destruktif.
Penulis dengan gamblang menunjukkan betapa rapuhnya perlindungan hukum di Indonesia ketika berhadapan dengan praktik premanisme yang berkedok agama. Sayangnya, upaya mengangkat isu kemanusiaan ini sedikit tercederai oleh penggambaran karakter yang terasa hitam-putih.
Tokoh-tokoh Ahmadi digambarkan nyaris sempurna dalam kesantunan, sementara mereka yang berseberangan seperti tokoh masyarakat dan aparat kerap ditampilkan dalam citra yang sangat negatif. Ketidakseimbangan penokohan ini membuat pembaca kehilangan kesempatan untuk melihat konflik sosial tersebut secara lebih objektif dan utuh.
Sebagai sebuah karya fiksi, Maryam tetap berhasil menjadi pengingat yang menyakitkan tentang bagaimana kemanusiaan seringkali tunduk di bawah negativitas kelompok. Meskipun penulis memilih untuk tidak masuk ke dalam "debat kusir" mengenai kebenaran agama, pesan yang disampaikan sangat jelas: kekerasan atas dasar apapun tidak dapat dibenarkan.
Gaya penulisannya yang mengalir dan emosional membuat isu berat ini dapat dicerna dengan baik, meskipun ada kekosongan penjelasan krusial yang sengaja ditinggalkan. Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah gugatan sunyi terhadap ketidakadilan, sebuah ajakan untuk melihat manusia sebagai manusia, terlepas dari label-label yang seringkali justru memecah belah persaudaraan sebangsa.
Identitas Buku
Judul: Maryam
Penulis: Okky Madasari
ISBN: 978-979-22-8009-8
Tebal: 280 Halaman
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Terbit: 01 Maret 2012
Format: Softcover
Kategori: Amore/Fiksi Sosial
Baca Juga
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
-
Sound Horeg dan Pertanyaan yang Belum Usai: Pantaskah Ia Disebut Budaya?
-
Mengenal Midah, Tokoh Perempuan Pramoedya sebelum Nyai Ontosoroh
-
Setia pada Provider Lama Nyaman, tapi Mengapa XL Kembali Menarik Perhatian?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Fall 2: Deadpoint,Perjuangan Hidup Mati di Atas Menara
-
Hamzah bin Abdul Muthalib: Keteguhan Prinsip di Balik Sosok Sang Pemberani
-
Islam dan Lingkungan Hidup: Bumi Bukan Sekadar Tempat Tinggal
-
Ulasan The Invisible Man: Ketika Ilmu Pengetahuan Kehilangan Kendali
-
Drama Korea Love Your Enemy: Ditakdirkan untuk Saling Bertemu dan Bersaing
Terkini
-
Hempaskan Kemerahan, 5 Korean Aloe Vera Gel yang Ampuh Menenangkan Kulit
-
Lee Je Hoon Diincar Bintangi Film Horor Thriller Baru, Ominous Dream
-
Tugas Guru Itu Mengajar, Bukan Menjadi Petugas Pemeriksa MBG
-
Masjid Baiturrahman Alasmalang, Dirawat Seperlunya Tanpa Ubah Wajah Lama
-
Mode Survival Rakyat: Ayah Antre BBM, Ibu Cari Sembako, Anak Keracunan MBG