Pernah tidak kamu lupa membawa pembalut, lalu diam-diam meminta kepada teman? Setelah itu, kamu menyembunyikannya seolah itu adalah sebuah benda yang harus dirahasiakan. Kamu berjalan pelan ke kamar mandi, berharap tidak ada yang menyadari.
Atau mungkin kamu pernah mendengar atau bahkan menggunakan istilah lain seperti “dapet” atau “tamu bulanan” sebagai pengganti kata menstruasi. Seolah-olah kata aslinya terasa aneh untuk diucapkan secara terus terang.
Menariknya, pengalaman seperti ini bukan hanya dialami satu atau dua orang. Banyak perempuan di luar sana merasakan hal yang sama. Ada rasa canggung yang muncul, bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya sangat normal.
Saya jadi sering berpikir, “Mengapa menstruasi masih terasa seperti hal yang harus disembunyikan?”
Menstruasi Itu Normal, Bukan Sesuatu yang Harus Disembunyikan
Secara biologis, menstruasi adalah proses yang wajar. Ini bagian dari cara tubuh bekerja. Saat perempuan memasuki masa remaja, tubuh mulai mempersiapkan sel telur. Sel telur ini bisa saja dibuahi oleh sperma. Namun, ketika pembuahan tidak terjadi, sel telur tersebut akan luruh. Tubuh kemudian mengeluarkannya melalui proses menstruasi. Proses ini sederhana, alami, dan normalnya terjadi setiap bulan.
Namun sayangnya, pemahaman yang sederhana ini sering kalah oleh stigma yang sudah lama melekat di masyarakat. Menstruasi masih kerap dianggap kotor, menjijikkan, atau sesuatu yang tidak pantas dibicarakan secara terbuka.
Dampaknya tidaklah kecil. Ada yang takut jika ketahuan sedang menstruasi. Ada yang merasa harus menyembunyikan pembalut. Bahkan, ada yang pernah mengalami ejekan dari teman di sekolah hanya karena hal ini. Padahal, nyatanya, tidak ada yang salah dari ini.
Ketika Edukasi Minim, Stigma Tumbuh di Masyarakat
Salah satu akar dari masalah ini adalah kurangnya edukasi. Menurut data dari Plan International Indonesia, lebih dari 60 persen orang tua di Indonesia belum memberikan penjelasan yang utuh tentang menstruasi kepada anak perempuan mereka. Artinya, banyak anak tumbuh dengan pemahaman yang setengah-setengah. Akibatnya, menstruasi terasa menjadi sesuatu yang asing sekaligus memalukan.
Minimnya edukasi ini juga berdampak lebih luas. Tidak hanya perempuan yang merasa canggung, laki-laki pun sering ikut merasa tidak nyaman. Hal sederhana seperti dimintai tolong membeli pembalut bisa terasa “aneh”, bahkan untuk keluarga sendiri.
Mengubah cara pandang ini memang tidak bisa instan. Namun, perubahan selalu bisa dimulai dari langkah kecil. Lingkungan terdekat menjadi kunci awal. Di rumah, orang tua dapat memberikan penjelasan yang jujur dan sederhana kepada anak. Tidak perlu istilah yang rumit. Yang penting jelas, tepat, dan mudah dipahami sejak dini.
Di sekolah, peran guru tidak kalah penting. Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang aman untuk memahami tubuh dan kesehatan. Penjelasan tentang menstruasi seharusnya tidak berhenti pada aspek biologis saja. Guru bisa mengaitkannya dengan empati, sikap saling menghargai, dan menghapus bahan candaan yang merendahkan. Ketika peserta didik terbiasa mendengar penjelasan yang terbuka, rasa canggung perlahan akan berkurang. Lingkungan kelas pun bisa menjadi lebih suportif, terutama bagi mereka yang sedang mengalami menstruasi.
Di sisi lain, media sosial memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk cara pandang. Informasi bisa menyebar dengan cepat, termasuk edukasi tentang menstruasi. Konten yang ringan, informatif, dan relevan dapat membantu menormalisasi topik ini. Diskusi terbuka juga memberi ruang bagi banyak orang untuk berbagi pengalaman tanpa takut dihakimi. Dari sana, muncul kesadaran bahwa apa yang selama ini dianggap memalukan ternyata dialami oleh banyak orang.
Oleh karena itu, ini bukan lagi tentang pembalut atau menstruasi. Ini tentang cara kita memahami sesuatu yang sebenarnya wajar, tetapi telah lama dianggap tabu. Mungkin, yang perlu diubah bukan realitasnya, melainkan cara kita melihatnya.
Baca Juga
-
Beli Barang Masa Kecil Bukan Boros, Tapi Cara Sederhana Bahagiakan Inner Child
-
Katanya Slow Living Harus di Desa, Padahal di Kota Juga Bisa
-
Membaca Ulang Sejarah R.A. Kartini di Tengah Tren 'Unpopular Opinion'
-
Dilema Cancel Culture: Kenapa Sulit Membenci Publik Figur yang Bersalah?
-
Hari Pertama Haid dan Tuntutan Perempuan untuk Tetap Kuat
Artikel Terkait
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Musuh Terbesar Atlet Wanita Bukan Lawan di Lapangan, Tapi Stigma dan Body Shaming!
-
Tutorial Melawan Sistem ala Rusti Dian: Biar Suara Perempuan Gak Cuma Jadi Background
-
Bolehkah Wanita Haid Itikaf di Masjid? Ini 6 Amalan Pengganti untuk Raih Lailatul Qadar
-
Childfree dalam Perspektif Psikologi: Pilihan Rasional atau Respons Trauma?
Kolom
-
Ketika Keresahan Masyarakat Terasa Disederhanakan dalam Kalimat "Nggak Pakai Dolar"
-
Berhenti Merasa Nyaman dalam Ketidaktahuan: Mengapa Istri Wajib Tahu Keuangan Keluarga
-
Jebakan Asmara Digital: Mengapa Love Scamming Harus Membuka Mata Hati Kita
-
Dulu Rajin, Sekarang "Cuek": Inilah Alasan Mengapa Banyak Pekerja Mulai Jaga Jarak
-
Penolakan LCC Ulang oleh SMAN 1 Pontianak dan Versi Lite Pemberontakan Kaum Pintar
Terkini
-
Live Action BLUE LOCK Rilis Visual 20 Karakter Utama Jelang Tayang Agustus
-
Turun Stasiun, Langsung Jalan-Jalan! 5 Rekomendasi Destinasi Wisata Praktis di Purwakarta
-
Membongkar Sisi Kelam Orde Baru dalam 'Larung': Sastra yang Menolak Dibungkam
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
-
Membongkar Peluang Skuad Garuda di Grup F Piala Asia 2027: Ujian Mental Menuju Pentas Dunia