Hayuning Ratri Hapsari | Rizky Melinda Sari
Love in Montreal (dok. pribadi)
Rizky Melinda Sari

Apa jadinya ketika kita dihadapkan pada pilihan sulit, mengakui perasaan sendiri atau berusaha menyembunyikannya karena jurang perbedaan yang terlalu besar?

Identitas Buku

Novel berjudul Love in Montreal ini ditulis oleh Arumi E. Diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan total 228 halaman. Bisa kamu dapatkan di toko buku Gramedia atau toko lainnya. Tersedia dalam bentuk e-book, pastikan untuk mengaksesnya melalui aplikasi atau website resmi!

Sinopsis Novel Love in Montreal 

Montreal. Di sinilah Maghali Tifana Safri, perancang baju asal Solo yang mulai bersinar namanya, mendapat kesempatan melanjutkan studi. 

Ujian berupa teror dari sekelompok orang hampir merontokkan sikap toleran Maghali, kalau saja Kai Sangatta Reeves tidak muncul menyelamatkannya. 

Rupawan, cerdas, berhati emas. Model sekaligus dokter dan relawan. Pesona Kai begitu kuat, tapi Maghali sadar dia tak boleh terlena karena lelaki itu berada di kutub yang berbeda.

Ujian lain datang dalam bentuk gadis cantik bernama Isabelle. Model pirang yang memeragakan baju-baju rancangan Maghali ini meminta bantuan untuk lari dari jerat cinta sesama dan pemberitaan miring tentang masa lalunya. 

Seolah belum cukup pelik, Maghali kembali diuji kala Kai yang dirundung duka melabuhkan rasa resah pada dirinya, membuat gadis ini makin sulit memendam rasa. Kesadaran Maghali baru pulih kala melihat Isabelle mendekati Kai. 

Susah payah hatinya mengakui, keduanya lebih cocok menjadi pasangan karena sama-sama rupawan dan tak ada halangan mengadang.

Ketika masa tinggalnya di Montreal berakhir, Maghali mengira selesai pula siksaannya menahan rasa pada Kai. Tapi pada satu hari sakral di Tanah Air, Kai tiba-tiba muncul.

Akankah terbentang masa depan untuk keduanya, ataukah mereka harus puas dengan sepotong episode penutup?

Simak ulasan lengkap Love in Montreal berikut ini! 

Bacaan Ringan yang Sarat Makna 

Suka sekali dengan cerita perjalanan Maghali di novel ini. Tipikal bacaan ringan yang bisa dibaca saat bersantai. Alurnya mudah diikuti, bahasanya terasa mengalir, dan topik yang diangkat juga cukup berbeda, yakni tentang petualangan seorang wanita muslim perancang busana di negara Kanada.

Karakter Maghali digambarkan sebagai seorang fashion designer yang fokus pada desain modest wear, tren busana yang mengedepankan kesopanan dengan potongan longgar, panjang, dan menutup aurat. Ia berkesempatan mencicipi studi di salah satu sekolah fashion bergengsi di Kanada. 

Karakter Lelaki Sempurna: To Good To Be True 

Di negara dengan empat musim ini, Maghali berjumpa dengan Kai Sangatta Reeves. Kai ini adalah tipe lelaki yang sangat sempurna. To good to be true. Bayangkan, dia adalah seorang dokter sekaligus model!

Jiwa sosialnya juga tinggi, ia sering membantu pengungsi Suriah sebagai relawan paramedis. Kurang sempurna apa coba. Kebetulan Kai didapuk menjadi model laki-laki yang akan mengenakan busana pria rancangan Maghali. 

Tapi sayangnya Kai memilih jalan hidup untuk tidak beragama. Meski demikian, ia mengaku tetap mempercayai adanya Tuhan, hanya saja ia tidak (atau belum) mau terikat pada satu agama tertentu. Hal inilah yang menjadi salah satu tembok besar penghalang antara Maghali dan Kai.

Singkat cerita karena Maghali dan Kai sering bersama, apalagi Kai mengajak Maghali berkunjung ke rumahnya dan mengenalkan wanita itu pada neneknya, Maghali tentu memiliki perasaan khusus pada Kai. Siapa yang bisa menahan pesona Kai yang sempurna itu. Tapi masalahnya, Kai ternyata memang baik ke semua orang. Nah loh. 

Aku pribadi cukup menikmati flow cerita. Semangat Maghali saat menuntut ilmu yang menjadi passion-nya sangat menarik! Adegan ketika Maghali mengalami kekerasan karena segelintir warga Kanada yang anti-Islam cukup membuat berdebar. Interaksi Maghali dan Kai bikin salting dikit. 

Ending yang Terlalu Cepat

Endingnya cukup memuaskan, sayangnya terkesan diburu-buru. Terlalu dipercepat. Rasanya seperti anti-klimaks. Padahal jika dijabarkan lebih lanjut, bisa jadi akan lebih menarik. 

Apalagi momen ketika Kai akhirnya memutuskan untuk memeluk salah satu agama, penulis tidak menceritakan bagaimana proses Kai bisa sampai di sana. 

Bisa dibilang, bagian ending di buku ini lebih condong ke epilog alias penutup cerita yang latar waktunya jauh beberapa tahun kemudian. 

Meski demikian, buku ini tetap menarik untuk dibaca dan direnungkan.