Lintang Siltya Utami | Taufiq Hidayat
Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng by Jostein Gaarder. (Dok.Pribadi/Taufiq)
Taufiq Hidayat

"Saya tidak merasa kesepian sampai ada sesuatu yang layak dirindukan. Kesepian dan kerinduan adalah dua sisi mata uang yang sama." (Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng, halaman 21)

Untaian kalimat pembuka di atas seolah menjadi paspor utama bagi pembaca sebelum melangkah masuk ke dalam semesta imajinasi liar nan getir yang dirajut oleh maestro sastra Norwegia, Jostein Gaarder. Melalui novelnya yang bertajuk Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng, penulis yang juga melahirkan Dunia Sophie ini kembali menyuguhkan sebuah narasi filosofis yang mendalam.

Kali ini, fokus penceritaan berpusat pada dinamika hidup seorang pria bernama Petter; sesosok manusia yang dikutuk sekaligus diberkahi dengan kapasitas imajinasi yang terlampau luas melampaui batas kewajaran manusia biasa.

Imajinasi Petter tidak sekadar aktif, melainkan telah berada pada tahap akut yang mendisrupsi fungsi ingatannya sendiri. Ia kerap didera kesulitan hebat hanya untuk membedakan antara kenangan orisinal yang nyata terjadi di dunia riil, dengan fragmen peristiwa yang sebenarnya hanya eksis di dalam tempurung kepalanya.

Kemampuan otak yang abnormal ini tentu saja bertindak sebagai momok yang mengganggu bagi Petter, mengingat pabrik imajinasinya akan terus membiak secara liar jika tidak diarahkan ke sebuah saluran yang tepat.

Uniknya, meski memiliki jutaan pasokan ide dan gagasan cerita yang brilian, Petter enggan mengeksekusinya menjadi sebuah novel utuh. Ia sadar, jika ia mulai menulis, struktur ceritanya justru akan bertumbuh kian rumit dan tidak berujung. Di samping itu, Petter mengakui bahwa proses mekanis dalam menulis sebuah karya kerap kali menyedot stabilitas emosional yang masif, sebuah keterikatan batin yang sangat dihindari oleh jiwanya yang soliter.

Komodifikasi Ide Lewat Sindikat Writer's Aid

Sebagai solusi pragmatis atas ledakan gagasannya, Petter menemukan sebuah siasat ekonomi yang cerdas sekaligus manipulatif: menjual seluruh ide, sinopsis, dan plot cerita kepada jajaran penulis novel yang sedang mengalami kebuntuan kreativitas (writer's block).

Siasat bawah tanah ini secara bertahap bermutasi menjadi sebuah sindikat rahasia berskala besar bernama Writer's Aid. Lembaga bayangan inilah yang bertindak sebagai juru selamat bagi para sastrawan frustrasi yang ingin mengembangkan imajinasi mereka menjadi sebuah buku yang sukses di pasaran.

Skema bisnis yang dijalankan Petter bergerak sangat dinamis. Ia bersedia menjual gagasan dari skala yang paling mikro, seperti sekadar memberikan baris dialog puitis di meja bar yang ditukar dengan beberapa sloki minuman gratis, hingga dalam format makro berupa draf sinopsis komplit yang memuat rincian struktur narasi dari babak eksposisi hingga konklusi. Untuk paket komplit ini, Petter menetapkan tarif yang sangat tinggi, lengkap dengan klausul pembagian royalti rahasia jika buku tersebut berhasil meledak di pasar literatur.

Keberadaan Petter sebagai "pabrik ide" terselubung dalam peta kesusastraan Norwegia faktanya memberikan kontribusi besar yang tidak pernah diduga oleh publik. Namun, seiring dengan berjalannya roda waktu, aroma konspirasi ini mulai memantik kecurigaan dari dua arah. Pertama, lahir dari kalangan klien setianya sendiri yang semula mengira bahwa mereka adalah pelanggan eksklusif Petter, tanpa pernah menyadari bahwa sang penjual dongeng memperlakukan seluruh penulis dengan perlakuan bisnis yang setara.

Kedua, badai kecurigaan kian membesar setelah gurita bisnis Petter merambah ranah internasional. Ia mendapati sebuah kejanggalan masif: ada satu plot kisah yang persis sama, terbit dalam dua novel berbeda di waktu yang hampir bersamaan. Novel pertama ditulis oleh pelanggan resminya di Writer's Aid, sedangkan novel kedua ditulis oleh sesosok misterius yang menggunakan nama samaran Wilhelmine Wittmann.

Pertanyaan teoretis pun menyeruak: siapakah sesungguhnya identitas asli di balik nama samaran Wilhelmine Wittmann tersebut? Apakah sosok itu adalah Maria, satu-satunya perempuan dari masa lalunya yang teramat ia cintai, dan satu-satunya manusia yang kepadanya Petter pernah membisikkan dongeng-dongeng rahasia itu secara gratis? Situasi kian pelik ketika Petter mulai dihujani ancaman pembunuhan dari oknum-oknum elitis yang merasa reputasi dan karier kepenulisannya akan hancur lebur jika eksistensi Writer's Aid terbongkar ke permukaan publik.

Representasi Masa Kecil, Aliansi Khayal, dan Luka Romansa

Untuk membedah kepribadian Petter secara utuh, kita perlu melacak garis kronologis masa kecilnya. Sejak belia, ia telah mengukuhkan diri sebagai bocah yang memiliki inteligensi superior dengan daya khayal yang eksentrik. Ia bahkan memiliki sahabat imajiner yang secara ajaib mampu melompat keluar dari dunia fantasi menuju dunia nyata. Dalam perspektif psikologis Petter, sosok misterius yang ia sebut sebagai "Si Lelaki Semeter" itu muncul secara mendadak dari manifestasi mimpinya dan hadir menemaninya di kehidupan sehari-hari.

Sejak duduk di bangku sekolah, Petter kecil gemar 'membantu' teman-temannya menyelesaikan tugas-tugas akademis. Dari aktivitas komersial masa kecil inilah, Petter belajar menganalisis, mengklasifikasikan, dan mengelompokkan ragam karakter manusia ke dalam jaringan data yang kelak ia aplikasikan dalam sistem operasional Writer's Aid.

Ketika menginjak usia dewasa, Petter mulai berinteraksi dengan kaum hawa. Namun, motivasi utamanya bukanlah untuk mencari kehangatan cinta yang tulus, melainkan karena ia menganggap bahwa seni berkenalan dan aktivitas mengajak berkencan adalah sebuah wahana hiburan dan eksperimen psikologis semata. Paradigma sinis itu runtuh total ketika takdir mempertemukannya dengan Maria; seorang perempuan berusia lebih tua yang memiliki karakter distingtif, sangat berbeda dari seluruh wanita yang pernah ia jumpai.

Hanya kepada Maria-lah, Petter bersedia melucuti ego dan membagikan seluruh harta karun dongengnya yang paling intim. Namun, relasi tersebut mendadak berubah menjadi sebuah melodrama yang getir.

Suatu hari, Maria datang membawa sebuah gagasan yang ekstrem: ia hanya ingin memiliki seorang anak dari benih biologis Petter. Begitu keinginan itu mewujud nyata, Maria seketika menghilang tanpa jejak dari radar kehidupan Petter. Kepergian yang misterius ini menanam bom waktu konflik yang siap meledak di paruh akhir cerita.

Kesimpulan

Secara struktural, konklusi atau alur cerita di bagian akhir buku ini sebenarnya sudah sedikit dapat tertebak oleh pembaca yang jeli. Kendati demikian, proses mengonsumsi setiap lembar buku ini senantiasa menyuguhkan letup kejutan estetis serta muatan makna filosofis yang teramat mendalam. Sangat mengesankan. Membaca untaian karya novel dari Jostein Gaarder selalu bertindak sebagai jaminan mutu bahwa narasi yang dihadirkan tidak akan pernah gagal memikat nalar pembaca.

Kisah Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng menyajikan sebuah petualangan literasi yang sangat berbeda dari pakem fiksi pada umumnya. Ia kaya akan traktat pelajaran hidup, sarat akan makna eksistensial, dan persis seperti apa yang tertera pada deskripsi belakang sampulnya: sebuah dongeng fantasi yang ditulis khusus untuk orang dewasa yang menolak lupa cara berimajinasi.

Identitas Buku: 

  • Judul Asli: The Ringmaster's Daughter
  • Judul Indonesia: Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng
  • Penulis: Jostein Gaarder
  • Penerjemah: A. Rahartati Bambang H.
  • Penerbit: PT Mizan Pustaka
  • Tahun Terbit (Cetakan Indonesia): 2015 (Edisi Baru)
  • Jumlah Halaman: 259 halaman